INDOZONE.ID - Di sebuah desa kecil yang tampak tenang, beredar suatu kisah mistis yang sampai sekarang masih bikin bulu kuduk merinding.
Ceritanya tentang Darmo, seorang penjual es dawet sederhana yang hidup miskin bersama istrinya, Marni.
Kehidupan mereka berubah drastis, setelah Darmo memilih jalan pesugihan lewat sesuatu yang dikenal warga sebagai “Pesugihan Dawet Iblis”.
Yuk simak kisah mistis pesugihan dawet iblis dilansir dari YouTube/Sejuta Kisah selengkapnya!
Baca juga: Kisah Pesugihan Buto Ijo: Kaya Sekejap, Sengsara Menetap
Awal Keputusasaan
Malam itu, langit desa mendung. Gerobak dawet Darmo kosong, hanya tersisa es batu mencair.
Marni yang sedang hamil besar terbaring sakit, sementara uang untuk membeli obat pun tak ada.
Dalam keputusasaan, Darmo teringat legenda tentang pohon beringin tua di perbatasan desa, tempat arwah-arwah dipercaya bisa mengabulkan permintaan.
Demi menyelamatkan istri dan anaknya, ia nekat mendatangi pohon itu, menyerahkan harapan sekaligus jiwanya.
Dawet Ajaib yang Bikin Kaya Mendadak
Keesokan harinya, gerobak Darmo berubah. Dawetnya wangi pandan berkali lipat, santannya lebih kental, dan ada butiran aneh berwarna merah delima yang berkilau misterius.
Tak butuh waktu lama, dagangannya langsung diserbu pembeli. Mereka bilang dawet Darmo punya rasa yang beda, terutama butiran merahnya yang manis dan segar.
Uang pun mengalir deras, rumah reotnya berubah jadi bangunan megah, dan Marni melahirkan bayi laki-laki sehat bernama Bagas.
Dari luar, hidup Darmo terlihat sempurna. Tapi di balik itu, ada bisikan-bisikan gelap yang mulai menghantui.
Bisikan dari Butiran Merah
Setiap kali meracik dawet, Darmo mendengar suara aneh, “Jangan lupakan perjanjianmu.”
Beberapa pelanggan yang sering kebagian dawet merah, justru jatuh sakit atau bisnisnya bangkrut.
Darmo mulai gelisah, tapi menutup mata karena uang terus mengalir. Bahkan saat tidur, ia sering mimpi buruk tentang pohon beringin, darah, dan bayangan hitam yang menatapnya tanpa mata.
Baca juga: Ciri-Ciri Orang Pesugihan Monyet: Konon Bisa Punya Peliharaan Sakti yang Penuh Tumbal
Rahasia yang Terbongkar
Marni pun curiga. Ia sering melihat suaminya termenung, bahkan suatu malam mengikuti Darmo ke pohon beringin.
Di sana, ia melihat ritual aneh dengan kemenyan dan bungkusan kain hitam berisi rambut, kuku, hingga gigi manusia. Marni terkejut dan akhirnya menuntut penjelasan.
Darmo pun mengaku, semua kekayaan itu datang dari perjanjian dengan makhluk gaib, dengan syarat tumbal nyawa.
Marni histeris dan mengancam akan membongkar rahasia ini ke warga. Pertengkaran pun pecah.
Sayangnya, Darmo yang dikuasai amarah dan kekuatan gelap malah membunuh istrinya sendiri. Sejak saat itu, hidup Darmo berubah jadi neraka.
Hantu-Hantu Penagih Nyawa
Arwah Marni dan korban-korban dawet merah mulai menghantui rumah mereka. Darmo tak bisa tidur, selalu diganggu sosok pucat dengan mata merah.
Bahkan anaknya, Bagas, ikut merasakan teror. Bocah itu sering melihat hal-hal gaib, bahkan suatu malam tubuhnya sempat terangkat oleh tangan tak kasat mata.
Semakin lama, bisnis dawet Darmo ikut merosot. Butiran merah yang dulu bersinar kini kehilangan kekuatan.
Ia kembali mendatangi pohon beringin, tapi suara serak dari kegelapan hanya berkata, “Sekarang giliranmu yang harus membayar.”
Akhir Tragis Sang Penjual Dawet
Darmo akhirnya mengaku ke penduduk desa tentang perjanjian pesugihan gelapnya. Warga marah besar, mengusir Darmo, dan membakar lapak dawet iblis itu.
Hidup Darmo makin hancur. Ia diasingkan, dihantui rasa bersalah, dan kehilangan segalanya seperti istri, anak, dan kekayaan.
Hingga suatu malam, Darmo menemukan anaknya Bagas di bawah pohon beringin, memegang butiran dawet merah berlumuran darah.
Mata Bagas kosong, dan senyum tipisnya bikin Darmo semakin hancur. Tak sanggup lagi menahan teror, ia akhirnya gantung diri di pohon beringin, meninggalkan butiran dawet merah di genggamannya.
Desa yang Ditinggalkan Kutukan
Sejak kematian Darmo, pohon beringin itu jadi makin angker. Konon, siapa pun yang berani mendekat di malam hari bisa mendengar suara gerobak dawet berdecit, disertai bisikan lirih memanggil nama mereka.
Warga desa percaya, Dawet Iblis bukan cuma legenda, tapi peringatan tentang harga sebuah keserakahan.
Baca juga: Pesugihan Bulus Putih: Kaya Tanpa Logika, Mati Tanpa Peringatan
Kisah Dawet Iblis ini jadi pelajaran seram, tentang bagaimana keputusasaan bisa menjerumuskan orang pada jalan gelap.
Apa pun bentuknya, pesugihan selalu ada harga yang harus dibayar. Bahkan sering kali, harganya jauh lebih mahal daripada sekadar uang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube