INDOZONE.ID - Awal Perang Batak dimulai kala Pemerintah Belanda dimintai bantuan oleh para misionaris di Silindung dan Bahal Batu pada Tahun 1877 dengan dasar ancaman pengusiran oleh Sisingamangaraja XII. Menanggapi hal ini, pemerintah Belanda dan para penginjil sepakat untuk sekaligus menyerang seluruh Toba termasuk markas Si Singamangaraja XII di Bakkara. Awal dimulai, tanggal 6 Februari 1878 pasukan Belanda sampai di Pearaja. Kedatangan ini langsung menjadi bentuk provokasi bagi Sisingamangaraja XII, yang kemudian mendeklarasikan perang pada tanggal 16 Februari 1878 dan mulai melakukan penyerangan pos Belanda di Bahal.
Jalannya Perang Batak
Pada 1 Mei 1878, Pasukan kolonial menyerang Bangkara menaklukkannya pada 3 Mei 1878. Sisingamangaraja terus melakukan perlawanan secara gerilya, sampai pada bulan Desember 1878 dimana beberapa kawasan seperti Butar, Lobu Siregar, Naga Saribu, Huta Ginjang, Gurgur ditaklukan oleh pasukan Aceh.
Pada 8 Agustus 1889, Pasukan Sisingamangaraja XII menyerang Belanda dan menewaskan prajurit Belanda, hal ini mengharuskan Belanda mundur dari Lobu Talu, yang kemudian tetap dapat direbut kembali oleh Belanda dengan bantuan dari Padang. Pasukan Belanda terus mengejar pasukan Batak sampai akhirnya tiba di Tamba dan terjadi pertempuran. Pasukan Batak ditembak oleh pasukan Batak, dan dibalas oleh pasukan Belanda hingga pasukan Batak mundur ke daerah Horion.
Baca Juga: Mangulosi: Tradisi Penuh Kasih Sayang Khas Suku Batak yang Sarat Makna
Tahun 1907, Kolonel Macan (nama pasukan Belanda) mengepung Sisingamangaraja XII. Boru Sagala, Istri Sisingamangaraja XII, ditangkap pasukan Belanda, disusul putri-putrinya. Menyusul, Boru Situmorang, Ibunda Sisingamangaraja XII juga ditangkap.
Pemicu Perang Batak
Terjadinya Perang Batak yakni adanya tantangan Raja Tapanuli yang masih menganut agama Batak kuno, yakni animisme dan dinamisme, atas penyebaran agama Kristen di Tapanuli, kemudian adanya siasat Belanda dengan menggunakan gerakan Zending untuk menguasai daerah Tapanuli. Tidak hanya itu, perang terjadi juga karena didasari oleh penolakan Raja Si Singamangaraja ke-XII atas penyebaran agama Kristen di daerah Tapanuli, dimana Perang Tapanuli (1878-1907) membuat rakyat mengalami penderitaan dan dirugikan. Pada masa ini, banyak petani kehilangan tanah dan pekerjaannya karena politik liberal. Sebab kerugian dan pemaksaannya, Sisingamangaraja mengadakan perlawanan terhadap Belanda.
Baca Juga: Misteri Naga Padoha: Makhluk Legenda dalam Suku Batak yang Dianggap Pelindung Keseimbangan Alam
Akhir Perang Batak
Pada tahun 1900 kekuatan Sisingamangaraja semakin menurun. Tahun 1907, pengepungan dilakukan oleh Belanda terhadap pasukan Sisingamangaraja di bawah pimpinan Hans Christoffel. Sisingamangaraja ke daerah Asahan, dan dikejar terus oleh Belanda melalui kampung Batu Simbolon, Bongkaras dan Komi. Kemudian, pada 17 Juni 1907 Sisingamangaraja berhasil ditangkap di daerah Dairi dan kemudian tertembak oleh Belanda. Hal ini menandakan gugurnya Sisingamangaraja yang menjadikan seluruh daerah Batak menjadi milik Belanda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uinsgd.ac.id