Jumat, 26 APRIL 2024 • 07:00 WIB

5 Pabrik Gula Peninggalan Belanda yang Masih Beroperasi hingga Kini

Author

Pabrik Gula Rejo Agung.

INDOZONE.ID - Selama berabad-abad, Jawa telah menjadi pusat kegiatan ekonomi yang kaya dan beragam di Asia Tenggara.

Salah satu peninggalan bersejarah yang menjadikan pulau ini sebagai magnet perdagangan adalah pabrik gula yang sudah berdiri sejak zaman kependudukan kolonial Belanda pada abad ke-19.

Industri gula di Jawa telah menjadi saksi bisu dari masa kejayaan perekonomian Hindia Belanda pada abad ke-19 dan menjadi salah satu bukti kemajuan sektor industri perkebunan dan pertanian di Hindia Belanda terkhususnya di Jawa pada abad ke-19.

Baca Juga: Pabrik Gula Meritjan Kediri, Saksi Bisu Peninggalan Kolonial Belanda Abad 19 yang Tetap Eksis hingga Kini

Pabrik-pabrik gula yang didirikan di Jawa merupakan hasil dari adanya sistem ekonomi liberal yang berkembang pada abad ke-19.

Pabrik-pabrik gula yang didirikan di Jawa pada abad ke-19 mayoritas berasal dari perusahaan swasta asing yang menamkan modal di industri Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Setelah Indonesia merdeka pabrik-pabrik gula dilakukan nasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia sebagai salah satu program peningkatan ekonomi pada masa awal kemerdekaan.

Pabrik-pabrik gula yang didirikan pada masa kolonial Hindia Belanda memiliki arsitektur
dan mesin-mesin pengolahan yang masih berfungsi hingga saat ini.

Pabrik gula peninggalan masa Kolonial Belanda menjadi daya tarik bagi masyarakat karena mengandung banyak keindahan dan cerita di dalamnya.

1. Pabrik Gula Rejo Agung

Pabrik Gula Rejo Agung.

Pabrik gula Rejo Agung merupakan pabrik gula yang didirikan pada tahun 1894 di Madiun, Jawa Timur.

Pabrik Rejo Agung merupakan pabrik yang didirikan oleh NV Handel My Kian Gwan yang merupakan perusahaan swasta yang berasal dari Cina.

NV Handel My Kian Gwan berubah menjadi PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) pada tahun 1961 setelah dilakukan nasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia.

Pabrik Gula Rejo Agung merupakan pabrik gula terbesar di Madiun. Hal ini menjadikan Madiun sebagai jantung perkebunan tebu di Jawa Timur karena menghasilkan kualitas gula yang baik.

Daerah Madiun merupakan daerah yang tanahnya cukup subur dan cocok untuk ditanami tebu. Hal menarik jika terjadinya musim giling tebu tiba adalah adanya pasar malam yang beroperasi selama satu hingga dua pekan.

Hal ini menjadi tradisi dan festival bagi masyarakat sekitar karena banyak warga yang berjualan dan wahana untuk dijajakan di pasar malam tersebut.

2. Pabrik Gula Sindang Laut

Pabrik Gula Sindang Laut.

Pabrik Gula Sindang Laut merupakan pabrik peninggalan Kolonial Belanda pada yang didirikan pada tahun 1872 di Cirebon, Jawa Barat.

Pabrik gula ini didirikan oleh
Benjamin Feist dan melakukan kerja sama dalam pendirian pabrik dengan perusahaan gula asal Belanda yaitu Nederlandsch Indies Landbouw Maatschappij (NILM).

Pabrik ini mempunyai lahan tebu seluas 1.152 hektare. Pabrik Gula Sindang Laut merupakan salah satu pabrik yang memiliki kapasitas produksi gula yang besar.

Pada saat masa kejayaan ekspor gula pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda pabrik ini ini mempunyai produksi sebanyak 10.57,48 kg gula kristal dan 404,19 ton gula cair.

Setelah Indonesia merdeka Pabrik Gula Sindang Laut dilakukan nasionalisasi oleh pemerintah pada tahun 1958.

Hal ini karena setelah Belanda dan masa kependudukan Jepang berakhir pabrik terbengkalai dan tidak terurus.

Nasionalisasi pabrik ini dilakukan agar aset peninggalan Belanda dapat dirawat dan dikelola dengan baik oleh Pemerintah Indonesia.

Hal yang unik adalah adanya tradisi manten tebu pada saat terjadinya musim giling. Manten tebu merupakan kegiatan dengan mengawinkan dua tanaman tebu sebagai simbol perempuan dan laki-laki.

Manten tebu ini dilakukan dengan mengarak
tanaman tebu beserta tanaman tebu lain yang diibaratkan sebagai pengawal manten di
desa sekitar Pabrik Gula Sindang Laut. Kegiatan ini juga diiringi oleh drum band untuk
memeriahkan acara.

3. Pabrik Gula Pagotan

Pabrik Gula Pagotan.

Pabrik Gula Pagotan merupakan pabrik gula yang didirikan pada tahun 1884 di Madiun, Jawa Timur. Pabrik ini didirikan oleh NV Cody Costeren Voorhout.

Pabrik Gula Pagotan merupakan salah satu pabrik gula tertua di Indonesia yang masih beroperasi
hingga saat ini meskipun kapasitas produksi lebih kecil.

Pabrik gula ini didirikan di Madiun karena mempunyai tanah yang subur untuk ditanami tebu. Pabrik gula ini juga mempunyai tradisi pada masa giling tiba.

Pada saat masa giling tiba diadakan pasar malam dan pertunjukan wayang sebagai hiburan bagi
masyarakat. Tradisi ini merupakan salah satu interaksi antara pabrik gula dengan masyarakat sebagai bentuk silaturahmi dan komunikasi masyarakat Madiun.

Tradisi ini sudah dilakukan sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Selain menjadi tempat produksi gula Pabrik Gula Pagotan juga menjadi salah satu destinasi wisata kota madiun karena menyimpan sejarah terhadap berdirinya pabrik gula di Jawa Timur.

Berdirinya pabrik gula ini juga menjadi salah satu ide dasar untuk pembuatan jalur rel kereta api yang menghubungkan Madiun-Ponorogo sebagai jalur transportasi dan jalur hasil produksi.

4. Pabrik Gula Rendeng

Pabrik Gula Rendeng.

Pabrik Gula Rendeng merupakan pabrik gula yang didirikan pada tahun 1840 di Kudus, Jawa Tengah. Pabrik gula ini didirikan oleh perusahaan Belanda yaitu NV Mirandolle Voute en Co.

Pabrik gula ini masih menggunakan mesin yang sama sejak masa pemerintahan Hindia Belanda dan hanya memperbaiki kerusakan yang terjadi pada mesin. Bangunan pabrik ini juga masih sama seperti awal didirikan.

Pabrik ini mempunyai jalur kereta api untuk menghubungkan hasil panen dari Pabrk Gula Rendeng ke Semarang. Jalur rel kereta api dibuat agar memudahkan dan mempercepat proses distribusi hasil produksi gula.

Distribusi ke Semarang dilakukan untuk ekspor ke luar pulau Jawa. Pabrik Gula Rendeng pernah menjadi pabrik gula yang menghasilkan produksi
gula yang besar.

Pada tahun 1930-an Pabrik Gula Rendeng bisa mengekspor 3.000.000 ton setiap tahunnya. Pabrik Gula Rendeng masih terus berproduksi hingga saat ini.

Pada tahun 2022 pabrik ini melakukan giling sebanyak 270.000 ton dengan 4.000 giling ton tebu per hari. Hal tersebut menghasilkan kapasitas produksi gula sebanyak 18.000 ton.

Gula tersebut didistribusikan ke daerah seperti Kabupaten Kudus, Jepara, Blora, Pati, dan Rembang.

5. Pabrik Gula Jombang

Pabrik Gula Jombang.

Pabrik gula Jombang merupakan pabrik gula yang didirikan oleh Moorman en Co pada tahun 1836 di Jombang, Jawa Timur. Pabrik gula ini merupakan pabrik gula tertua di Jombang.

Pabrik Gula Jombang menjadi salah satu penopang ekonomi utama Hindia Belanda karena memproduksi banyak gula di Jawa Timur.

Pabrik gula ini mengalami pergantian kepemilikan pada 1895. Pada 1895 pabrik ini mempunyai pemilik baru yaitu Amemaet en Co. Kemudian pabrik ini dilakukan nasionalisasi pada tahun 1963 oleh Pemerintah Indonesia.

Pabrik ini dilakukan nasionalisasi karena tercatat dalam program nasionalisasi perusahaan yang didirikan Belanda oleh Pemerintah Indonesia.

Pada tahun 1963 terjadi reorganisasi PPN dengan peraturan pemerintah no 1 dan 2 tahun 1963 yaitu di pusat dibentuk BPU-PPN gula di Jawa Timur diubah menjadi penasihat BPN-PPN Jawa Timur, dibekas karasidenan diubah menjadi kantor Direksi, di pabrik gula menjadi Badan Hukum yang dipimpin oleh Direktur Pimpinan Gula.

Baca Juga: Legenda Kelam dan Fenomena Gaib di Bekas Pabrik Tungku Sloss di Birmingham

Itulah 5 pabrik peninggalan Belanda yang masih beroperasi hingga saat ini.


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Historia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU