INDOZONE.ID - Ada teori menarik tentang cikal bakal bumi menurut teori ilmiah yang disebut primordial soup atau sup purba. Dimana saat itu, bumi seolah seperti dapur yang sedang memasak sehingga terjaid kehidupan di muka bumi.
Mungkin kita bisa membayangkan, bumi miliaran tahun lalu itu tidak seperti bumi yang sekarang, tapi isinya seperti dapur raksasa yang liar dan panas.
Gunung berapi aktif di mana-mana, atmosfer dipenuhi gas beracun seperti metana dan amonia, serta kilatan petir yang terus-menerus menyambar. Tidak ada oksigen seperti sekarang, tidak ada makhluk hidup—hanya bahan mentah alam yang bergejolak.
Dalam kondisi ekstrem inilah para ilmuwan percaya kehidupan mulai “dimasak”. Lautan purba menjadi wadah besar yang menampung berbagai senyawa kimia sederhana. Energi dari petir, panas bumi, dan radiasi ultraviolet bertindak seperti “api kompor” yang memicu reaksi kimia.
Baca juga: Sejarah Buku 'The Origin of Species', Teori Charles Darwin soal Evolusi Manusia dari Kera
Dari sinilah muncul gagasan tentang primordial soup atau “sup purba”—campuran molekul yang menjadi cikal bakal kehidupan.
Ide Awal: Sup Purba Pembentuk Kehidupan
Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan Rusia Alexander Oparin pada awal abad ke-20. Ia mengusulkan bahwa kehidupan berasal dari evolusi kimia bertahap di lautan purba. Molekul sederhana seperti hidrogen, metana, dan amonia bereaksi perlahan membentuk senyawa organik yang lebih kompleks.
Dengan kata lain, sebelum ada makhluk hidup, ada “sup kimia” yang terus bereaksi selama jutaan tahun. Seiring waktu, kompleksitas meningkat hingga akhirnya muncul struktur yang bisa dianggap sebagai bentuk kehidupan paling awal.
Eksperimen yang Membuktikan: Miller-Urey
Teori ini mulai mendapat dukungan kuat pada tahun 1953 melalui eksperimen terkenal oleh Stanley Miller dan Harold Urey. Mereka mencoba meniru kondisi Bumi purba di laboratorium dengan mencampurkan gas seperti metana, amonia, hidrogen, dan uap air dalam sebuah alat tertutup.
Kemudian, mereka menambahkan percikan listrik untuk mensimulasikan petir. Hasilnya mengejutkan: hanya dalam waktu sekitar satu minggu, terbentuk berbagai molekul organik, termasuk asam amino—komponen penting penyusun protein.
Baca juga: Fakta Ilmiah di Balik Bintang Berkelap-kelip yang Jarang Diketahui
Penelitian ini dipublikasikan di jurnal ilmiah dan menjadi salah satu bukti awal bahwa bahan dasar kehidupan dapat terbentuk secara alami yang diunggak di situs edu.rsc.org.
Dari Molekul ke Kehidupan
Namun, terbentuknya asam amino hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana molekul-molekul ini bisa berubah menjadi sesuatu yang hidup. Proses ini tidak terjadi dalam semalam—melainkan berlangsung sangat lama, bahkan hingga miliaran tahun.
Molekul-molekul sederhana mulai bergabung membentuk struktur yang lebih kompleks seperti protein dan nukleotida (penyusun DNA dan RNA). Interaksi ini kemungkinan terjadi di lingkungan khusus seperti dasar laut yang kaya mineral dan panas.
Penelitian modern menunjukkan bahwa campuran kimia seperti hasil eksperimen Miller-Urey dapat mendukung proses biologis sederhana. Salah satu studi di jurnal Scientific Reports menjelaskan bahwa lingkungan seperti ini berpotensi menjadi tempat berkembangnya kehidupan awal:
Munculnya “Sel” Pertama
Langkah penting berikutnya adalah terbentuknya struktur yang menyerupai sel. Para ilmuwan menyebutnya protocell atau sel purba. Ini bukan sel sempurna seperti yang kita kenal sekarang, tetapi sudah memiliki batas sederhana yang memisahkan “bagian dalam” dan “luar”.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tetesan kecil dari campuran kimia bisa bertindak seperti wadah alami. Tetesan ini dapat tumbuh, menyerap molekul lain, bahkan membelah—mirip perilaku sel sederhana.
Fenomena ini memberi petunjuk bahwa kehidupan mungkin dimulai dari sistem yang sangat sederhana, lalu berkembang menjadi lebih kompleks, berdasarkan penjelasan dari situs Wired.com.
Baca juga: Tak Hanya Sapu-Sapu, 5 Ikan Ini Juga Berbahaya bagi Ekosistem
Apakah Teori Ini Sudah Pasti?
Meskipun menarik, hipotesis “sup purba” bukan satu-satunya penjelasan tentang asal-usul kehidupan. Ada teori lain seperti “RNA world” yang menyatakan bahwa RNA adalah molekul pertama yang mampu menyimpan informasi sekaligus bereaksi secara kimia.
Ada juga teori yang menyebutkan bahwa kehidupan mungkin bermula di ventilasi hidrotermal di dasar laut, bukan di permukaan. Selain itu, beberapa ilmuwan mempertanyakan apakah atmosfer Bumi purba benar-benar sama seperti yang digunakan dalam eksperimen Miller-Urey.
Baca juga: Kenapa Manusia Tidak Merasakan Bumi Berputar? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Namun, meskipun ada perdebatan, konsep “sup purba” tetap menjadi salah satu dasar penting dalam penelitian asal-usul kehidupan.
Resep yang Mungkin Berlaku di Seluruh Alam Semesta
Menariknya, bahan dasar kehidupan tidak hanya ditemukan di Bumi. Penelitian menunjukkan bahwa molekul organik juga ada di asteroid dan komet. Ini membuka kemungkinan bahwa “resep kehidupan” mungkin tidak unik untuk Bumi saja.
Jika kondisi yang tepat tersedia—air, energi, dan molekul dasar—maka kehidupan mungkin bisa muncul di tempat lain di alam semesta.
Dari Kekacauan Menjadi Kehidupan
Hipotesis primordial soup mengajarkan kita bahwa kehidupan mungkin berawal dari sesuatu yang sangat sederhana: campuran kimia yang bereaksi dalam kondisi ekstrem. Dari kilatan petir hingga terbentuknya molekul organik, dari tetesan kecil hingga sel pertama—semuanya adalah bagian dari proses panjang yang luar biasa.
Kita, sebagai makhluk hidup hari ini, adalah hasil dari “resep” alam semesta yang dimulai miliaran tahun lalu. Meski belum semua jawabannya ditemukan, satu hal menjadi jelas: kehidupan bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui perjalanan panjang yang penuh eksperimen alami.
Dan mungkin, di suatu tempat lain di kosmos, “sup purba” yang sama sedang perlahan memasak kehidupan baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nature.com, Wired, Edu.rsc.org