Rabu, 11 FEBRUARI 2026 • 12:05 WIB

Mengenal Baterai Baghdad, Artefak Purba yang Diduga Penghasil Listrik

Author

Baterai Bagdad. (Wikipedia)

INDOZONE.ID - Baterai Baghdad bukanlah produk industri modern, melainkan peninggalan bersejarah dari tanah Irak yang ditemukan hampir satu abad lalu. 

Keberadaannya menantang sejarah sains konvensional, karena mengindikasikan penggunaan energi listrik sejak masa lampau. 

Pertanyaannya, untuk tujuan apa perangkat ini diciptakan? Apakah ini teknologi tunggal atau bagian dari sistem yang lebih besar?

Artikel ini akan mengulas tuntas sejarah, teori kegunaan, serta perbandingannya dengan temuan arkeologis lainnya.

Baca juga: Berikut Mitos dan Tips Mengatasi Baterai Kembung yang #KAMUHARUSTAU

Apa itu Baterai Baghdad?

Baterai Baghdad adalah sebutan untuk artefak-artefak yang ditemukan pada tahun 1936 oleh seorang arkeolog Jerman bernama Wilhelm Konig, yang tengah melakukan penggarapan di sebuah makam kuno di desa Khuyut Rabbou'a, dekat Baghdad, Irak. 

Artefak ini terdiri dari bejana tanah liat setinggi 6 inci yang berisi silinder tembaga dan batang besi yang direkatkan dengan segel logam. 

Berdasarkan analisis Wilhelm König pada 1938, perangkat ini diduga kuat berfungsi sebagai sel galvanik purba yang mampu menghasilkan daya listrik melalui reaksi kimia elektrolit. 

Teori ini menempatkan teknologi tersebut sebagai pendahulu baterai modern, menggeser garis waktu penemuan listrik yang selama ini didominasi oleh Alessandro Volta pada abad ke-19.

Teori baterai kuno ini tidak lepas dari kritik tajam. Kurangnya bukti sejarah mengenai pemanfaatan listrik di zaman dulu membuat banyak ahli skeptis terhadap fungsi asli artefak ini. 

Keraguan juga menyelimuti asal-usul dan garis waktu produksinya yang terbentang antara abad ke-3 SM hingga abad ke-7 M.

Tanpa penjelasan yang meyakinkan apakah alat ini digunakan untuk keperluan sains atau sekadar ritual, Baterai Baghdad tetap berdiri di wilayah abu-abu antara terobosan teknologi masa lalu atau sekadar artefak yang disalahartikan fungsinya.

Apa Kegunaan Baterai Baghdad?

Guna menjawab rasa penasaran ilmiah, para peneliti mencoba menghidupkan kembali "Baterai Baghdad" melalui model replika. 

Dengan memanfaatkan larutan sederhana seperti cuka atau air garam sebagai pemicu reaksi kimia, mereka menguji kemampuan artefak ini dalam menghasilkan arus listrik. 

Pengujian ini sangat penting untuk mengukur potensi tegangan yang ada, sekaligus menjadi kunci untuk mengungkap apakah teknologi ini benar-benar fungsional bagi peradaban kuno atau hanya sebuah kebetulan arkeologis.

Percobaan F.M. Gray pada 1978 berhasil mereplikasi baterai Baghdad dan menghasilkan listrik hingga 1,5–2 volt, bahkan 15–20 volt saat disusun seri. 

Ia menduga baterai itu digunakan untuk elektroplating logam, tetapi hasil penelitian lain tidak konsisten dan belum ada bukti arkeologis, sehingga teorinya masih spekulatif. 

Teori lain dari Paul T. Keyser menyebut baterai Baghdad mungkin dipakai untuk pengobatan listrik, namun juga belum terbukti karena minim bukti sejarah dan ilmiah.

Di luar fungsi praktis seperti penyepuhan atau medis, muncul pula anggapan bahwa Baterai Baghdad digunakan sebagai sumber penerangan di ruangan tertutup. 

Gagasan ini sering kali dikaitkan dengan hipotesis astronot kuno, yang meyakini bahwa peradaban masa lalu telah menguasai teknologi listrik canggih untuk menerangi area rahasia seperti kuil, makam, atau piramida. 

Meski menarik, teori ini sangat kontroversial dan dianggap kekurangan bukti ilmiah yang valid. Alhasil, fungsi sebenarnya dari artefak ini tetap menjadi teka-teki yang belum terpecahkan.

Baca juga: The Infinity Train, Kereta Api yang Mengisi Ulang Tenaga Memakai Gravitasi & Baterai Besar

Baterai Baghdad adalah salah satu artefak paling misterius dan menarik dari sejarah kuno.

Artefak ini diduga merupakan sel galvanik, yaitu sebuah alat yang dapat menghasilkan arus listrik dengan menggunakan reaksi kimia antara dua logam yang dicelupkan ke dalam larutan elektrolit. 

Jika klaim tersebut terbukti, Baterai Baghdad akan menggeser sejarah penemuan sel listrik yang selama ini diatribusikan kepada Alessandro Volta pada 1800. 

Meski demikian, absennya bukti kuat serta kaburnya asal-usul artefak ini membuat berbagai hipotesis, mulai dari fungsi penyepuhan, medis, hingga penerangan, tetap berada di ranah spekulasi.

Menariknya, temuan artefak serupa hanya terbatas di wilayah Mesopotamia kuno.

Hal ini memperkuat dugaan bahwa teknologi tersebut merupakan hasil eksperimen lokal yang terisolasi, yang sayangnya tidak pernah tersebar luas atau menjadi standar teknologi di peradaban kuno lainnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: National Geographic

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU