Kamis, 11 DESEMBER 2025 • 16:52 WIB

Seperti Apa Isi Otak Ted Bundy? Jadi Barang Langka yang Diincar Para Peneliti

Author

Ted Bundy (Istimewa)

INDOZONE.ID - Sudah umum diketahui bahwa Ted Bundy adalah pembunuh berantai yang menarik banyak ilmuwan. Banyak yang mengatakan kalau Bundy adalah jenis pembunuh yang sangat langka. 

Sehingga wajar, banyak ilmuwan syaraf dan psikologi yang mengincar otaknya. Karena itu, tidaklah mengejutkan jika otak Ted Bundy sangat dicari setelah eksekusinya pada tahun 1989 .

Inilah kisah yang belum terungkap tentang otak besar yang sangat kriminal itu.

Ted Bundy membunuh lebih dari 30 wanita di berbagai negara bagian Amerika Serikat antara 1974 dan 1978. Kombinasi antara kebrutalan aksinya dan persona yang ia tampilkan—licik, manipulatif, namun terlihat cerdas dan karismatik—membuatnya menjadi figur yang memikat perhatian aparat penegak hukum, kriminolog, hingga masyarakat luas.

Baca juga: Sekilas Ted Bundy: Sosok Pembunuh Berantai Berwajah Ramah yang Suka Kembali ke TKP

Sejumlah ahli saraf kemudian mengajukan sebuah hipotesis: bahwa di balik sosok muda yang tampak stabil, percaya diri, dan berprestasi itu, mungkin terdapat kerusakan pada otaknya. Kerusakan inilah yang mereka duga berperan memungkinkan Bundy melakukan serangkaian tindakan ekstrem, mulai dari menguntit, menculik, menyiksa, memperkosa, memutilasi, hingga membunuh dan memotong-motong tubuh puluhan korban muda.

Untuk menyelidiki lebih jauh apakah kekejaman Bundy memiliki kaitan dengan gangguan struktural pada otaknya—dan guna memperkuat dugaan mereka—para ahli saraf yang mengajukan teori tersebut akhirnya memperoleh sampel otak Bundy setelah ia dieksekusi.

Sosok Ted Bundy (Istimewa)

Ketika hasil tes akhirnya diperiksa, para ilmuwan berharap menemukan sesuatu yang janggal di dalam otak Ted Bundy—entah itu lesi, pertumbuhan abnormal, kelainan bentuk, atau tanda-tanda cedera fisik yang bisa menjelaskan tindakan keji yang pernah ia lakukan. Namun apa yang mereka lihat di laboratorium justru berlawanan dari dugaan awal. Tidak ada satu pun keanehan struktural yang bisa dilaporkan.

Secara fisik, otaknya tampak sepenuhnya normal. Tidak ada bukti bahwa Bundy pernah mengalami cedera otak sepanjang hidupnya. Temuan ini membuat tim peneliti terperangah, sebab banyak pembunuh berantai lain menunjukkan pola kerusakan tertentu yang berkaitan dengan kemampuan menilai, mengendalikan emosi, atau berempati.

Tentu saja, sampel otak yang sudah diawetkan hanya memberi gambaran terbatas. Potongan jaringan dari tubuh tak bernyawa tidak dapat mengungkap bagaimana sel-sel otak Bundy bekerja saat ia masih hidup. Para ahli saraf meyakini bahwa jika mereka bisa memantau aktivitas otak Bundy di masa hidupnya, cerita yang muncul mungkin akan sangat berbeda.

Baca juga: Ted Bundy, Ganteng-ganteng Psikopat dan Kolektor Kepala Wanita

Dengan teknologi SPECT—pencitraan yang memetakan aliran darah serta aktivitas otak—penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa otak para pembunuh yang tidak memiliki rasa penyesalan bekerja dengan cara yang tidak lazim. Bagian otak yang bertanggung jawab untuk empati, penilaian moral, dan pengambilan keputusan, yaitu korteks prefrontal, cenderung jauh lebih tidak aktif dibandingkan otak manusia pada umumnya.

Pada banyak kasus, kurangnya aktivitas itu dikaitkan dengan cedera otak masa lalu. Namun hal tersebut tampaknya tidak berlaku untuk Bundy. Karena tidak ada tanda-tanda trauma fisik, para peneliti hanya bisa berspekulasi: mungkin sejak lahir ia memiliki kelainan perkembangan, atau mungkin korteks prefrontalnya tidak pernah berkembang sempurna—sebuah kekosongan neurologis yang dapat menjelaskan bagaimana ia mampu melakukan kekejaman luar biasa tanpa empati sedikit pun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Crimeinvestigation.co.uk

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU