Jumat, 28 NOVEMBER 2025 • 20:30 WIB

Kenapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Ini Penjelasan Lengkapnya!

Author

Ilustrasi bumi yang panas dan banyak polusi. (Freepik)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu ngerasain cuaca panas yang rasanya kayak lagi masuk ruang sauna? Baru jalan sebentar, keringat sudah ngalir seperti keran bocor. Kalau kamu tinggal di kota seperti Surabaya, Makassar, Sumbawa, atau Tangerang Selatan, pasti sudah nggak asing sama situasi ini. Tapi kenapa sih beberapa kota di Indonesia bisa sepanas itu? Yuk, kita bahas dengan santai!

Indonesia Memang Panas dari Sononya

Indonesia adalah negara tropis yang berada tepat di garis khatulistiwa. Artinya, matahari bersinar kuat hampir sepanjang tahun tanpa musim dingin seperti di negara lain. Saat musim kemarau biasanya sekitar Juni hingga September, panas terasa makin “nembak” karena langit cenderung cerah tanpa awan yang bisa menghalangi sinar matahari.

Daerah dataran rendah dan pesisir umumnya lebih panas, karena udara cenderung lembap dan pergerakan angin tidak terlalu besar.

Baca juga: Fenomena Suhu Panas di Indonesia Mulai Turun, BMKG: Bukan Gelombang Panas

Kota-Kota Besar = “Kompor” Raksasa

Kalau kamu tinggal di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, atau Tangerang Selatan, panasnya terasa beda leveldibanding pedesaan. Penyebabnya adalah Urban Heat Island (UHI), fenomena ketika kota menyerap panas lebih banyak.

Aspal, beton, dan gedung tinggi menyerap panas sepanjang hari. Saat malam, panas itu dilepaskan perlahan sehingga suhu kota tetap tinggi. Minimnya pepohonan memperburuk kondisi ini.

Contoh paling nyata adalah Surabaya yang beberapa kali tercatat mencapai 34–36°C pada siang hari. Di Sumbawa, suhu bahkan pernah menyentuh 37–38°C, terutama ketika puncak kemarau dan fenomena global seperti El Niño terjadi.

Makassar dan Tangerang Selatan pun sering masuk daftar kota terpanas versi BMKG dengan suhu harian 34–35°C.

Dampak Panas Ekstrem bagi Tubuh

Ilustrasi wanita kegerahan. (freepik/cookie_studio)

Cuaca panas bukan cuma bikin gerah dan bad mood, tapi juga bisa berdampak serius pada kesehatan:

1. Dehidrasi

Keringat keluar terus dan cairan tubuh cepat berkurang. Kalau tidak ditambah minum, kamu bisa pusing, lemas, bahkan pingsan.

2. Heat Exhaustion

Ditandai pusing, mual, kulit lembap, badan sangat lemas. Biasanya terjadi setelah terlalu lama terpapar panas.

3. Heatstroke

Ini kondisi paling berbahaya. Suhu tubuh bisa naik di atas 40°C dan menyebabkan kerusakan organ. Heatstroke adalah kondisi darurat medis dan harus segera ditangani.

4. Gangguan Tidur

Cuaca panas bikin tidur nggak nyenyak meskipun kipas angin sudah maksimal. Kurang tidur akhirnya membuat tubuh tidak fit keesokan harinya.

Beberapa Kota Terpanas di Indonesia

  • Sumbawa, NTB: Pernah mencapai 37–38°C.
  • Surabaya: Umumnya 34–36°C pada siang hari di musim kemarau.
  • Makassar: Sering berada di kisaran 34–35°C.
  • Tangerang Selatan: Suhu harian bisa menyentuh 35°C, terutama saat cuaca cerah ekstrem.

Baca juga: Hujan di Saat Cuaca Panas, Mengapa Bisa Terjadi?

Cara Menghadapi Cuaca Panas

Tenang, panas bukan akhir dunia. Ada beberapa cara untuk tetap nyaman:

  1. Minum air yang cukup
    Bawa botol minum ke mana pun pergi. Jangan tunggu haus untuk minum.
  2. Gunakan pakaian adem
    Pilih bahan katun atau linen yang ringan dan menyerap keringat.
  3. Cari tempat teduh
    Hindari berdiri lama di bawah sinar matahari langsung, terutama pada pukul 11.00–15.00.
  4. Perbanyak ruang hijau
    Lingkungan dengan banyak pohon terbukti menurunkan suhu hingga beberapa derajat. Dukung penghijauan di sekitar tempat tinggalmu.

Panas Itu Bagian dari Hidup di Tropis

Cuaca panas memang suka bikin jengkel, tapi itulah risiko tinggal di negara tropis. Yang penting, kita bisa beradaptasi sambil menjaga kesehatan. Tetap terhidrasi, kurangi aktivitas luar ruang saat siang bolong, dan luangkan waktu untuk “ngadem”.

Dan yang lebih penting lagi, ayo jaga lingkungan bersama-sama. Semakin banyak pohon, semakin adem kota kita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BMKG, WHO

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU