INDOZONE.ID - Bayangkan sebuah prosedur medis yang dilakukan dengan cara menusukkan alat mirip paku es ke rongga mata seseorang, lalu dipukul hingga menembus tulang tipis di belakang bola mata, semua demi “menyembuhkan” gangguan jiwa.
Seram banget, kan? Tapi anehnya, dulu metode ini sempat dianggap sah dan bahkan membuat penciptanya menang Hadiah Nobel.
Inilah kisah kelam tentang lobotomi, operasi otak paling kejam dalam sejarah.
Awal Mula: Eksperimen yang Mengubah Segalanya
Kisah lobotomi dimulai sekitar tahun 1935, ketika dua ahli saraf Amerika, Carly F. Jacobson dan John Fulton, menemukan bahwa mengangkat bagian depan otak (lobus frontal) dua ekor simpanse bisa mengubah perilaku mereka. Dari situ muncul ide bahwa bagian otak ini mungkin berhubungan dengan emosi dan kontrol diri manusia.
Seorang dokter asal Portugal, Antonio Egas Moniz, terinspirasi dari penemuan itu. Ia berasumsi bahwa gangguan jiwa terjadi karena adanya “hubungan saraf yang salah” di otak. Jadi, kalau sambungan saraf itu diputus, pasien mungkin bisa sembuh. Ia menciptakan alat bernama lukotome, batang logam yang digunakan untuk memotong saraf di otak bagian depan. Dari sinilah lahir istilah lobotomi (dari kata lobe = bagian otak, dan tomy = potongan).
Baca juga: Sejarah Kelam Lobotomi, Ketika Ribuan Kepala Manusia Dilubangi untuk Pengobatan!
Populer tapi Mengerikan
Meski banyak dokter menentang, metode ini malah populer besar-besaran setelah dibawa ke Amerika oleh Walter Freeman dan rekannya, James Watts. Freeman bahkan menggelar tur keliling rumah sakit jiwa di seluruh Amerika, memperagakan operasi ini seolah seperti atraksi.
Yang bikin ngeri, pada tahun 1945, Freeman memperkenalkan versi baru bernama transorbital lobotomy, operasi tanpa harus membolongi tengkorak. Caranya? Ia memasukkan alat mirip paku es ke mata pasien, lalu memukulnya dengan palu kecil agar menembus otak depan. Prosedur ini hanya butuh 10 menit dan bisa dilakukan di mana saja tanpa ruang operasi steril.
Hasilnya? Kadang pasien terlihat “tenang”, tapi sering kali bukan karena sembuh, melainkan karena kehilangan emosi dan kemampuan berpikir normal. Banyak dari mereka berubah jadi seperti anak kecil: pasif, apatis, dan tidak bisa hidup mandiri lagi.
Korban-Korban Tragis
Salah satu kisah paling menyedihkan datang dari Rosemary Kennedy, kakak dari Presiden John F. Kennedy. Ayahnya memaksanya menjalani lobotomi agar jadi “anak baik-baik” dan tidak mempermalukan keluarga. Operasi itu gagal total. Rosemary kehilangan kemampuan berbicara, berpikir, dan bahkan sebagian tubuhnya lumpuh. Ia diasingkan dari keluarganya selama bertahun-tahun.
Ada juga Anna Ruth Channels, yang menjalani lobotomi karena sakit kepala kronis. Setelah operasi, sakit kepalanya memang hilang tapi begitu juga dengan kemampuan bicara dan kesadarannya sebagai orang dewasa. Ia jadi seperti anak kecil lagi dan tidak bisa mengurus bayinya sendiri.
Dari Nobel ke Larangan
Meski jelas berbahaya, dunia medis kala itu belum punya banyak pilihan untuk menangani gangguan mental. Karena itu, lobotomi sempat dianggap “terobosan besar” dan bahkan membuat Antonio Moniz memenangkan Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada 1949. Ironis banget, mengingat ribuan orang menderita akibat metode ini.
Pada akhirnya, munculnya obat-obatan psikiatri seperti antipsikotik dan antidepresan pada tahun 1950-an mulai menggantikan lobotomi. Freeman sendiri akhirnya dilarang praktik setelah salah satu pasiennya meninggal dunia pada 1967. Namun sebelum itu, ia sudah melakukan lebih dari 3.400 operasi lobotomi di seluruh Amerika.
Baca juga: Misteri Kematian Superman: Tragedi di Balik Senyum George Reeves
Akhir dari Era “Obat Ajaib”
Dari tahun 1940-an hingga 1950-an, diperkirakan lebih dari 50.000 orang di Amerika menjalani lobotomi, dan banyak di antaranya kehilangan nyawa. Kini, prosedur itu diakui sebagai salah satu kesalahan medis paling tragis dalam sejarah.
Lobotomi menjadi pengingat pahit bahwa sains tanpa empati bisa berubah jadi alat penyiksaan. Dulu dianggap “penyembuh jiwa”, sekarang justru dikenang sebagai simbol kegelapan dunia medis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Nessie Judge