INDOZONE.ID - Kalau kita lagi menatap langit malam, ribuan bintang tampak berkelap-kelip, dan di antara mereka membentang jalur kabur berwarna susu yang biasa disebut galaksi Bima Sakti. Jauh di pusat galaksi kita yang tampak tenang itu, para astronom sudah lama mengintai sebuah cahaya aneh yang belum bisa dijelaskan sepenuhnya.
Cahaya ini bukan cahaya biasa. Ia datang dalam bentuk sinar gamma, jenis cahaya paling energik di alam semesta dan biasanya lahir dari peristiwa ekstrem, seperti ledakan bintang atau lubang hitam yang “melahap” materi di sekitarnya. Tapi yang satu ini berbeda, cahaya itu terlalu terang, terlalu luas, dan terlalu misterius.
Baca juga: Langit Jepang Keluarkan Pilar Cahaya Misterius, Netizen: Alice In Borderland?
Awal Misteri: Cahaya yang Tak Terduga
Kisahnya dimulai lebih dari sepuluh tahun lalu, saat teleskop luar angkasa Fermi milik NASA memetakan sinar gamma di seluruh galaksi.
Saat tim ilmuwan memusatkan pandangan ke inti Bima Sakti, mereka menemukan sesuatu yang bikin dahi berkerut: jumlah sinar gamma di sana jauh lebih banyak dari seharusnya.
“Dari semua sumber energi yang kita tahu supernova, pulsar, lubang hitam, nggak ada yang bisa menjelaskan kelebihan sinar gamma ini,” kata Moorits Mihkel Muru, peneliti dari Institut Astrofisika Leibniz di Jerman.
Sejak itu, dua kubu teori pun terbentuk:
Yang pertama bilang cahaya ini mungkin datang dari materi gelap, zat misterius yang membentuk sekitar 85% massa alam semesta tapi belum pernah benar-benar terlihat.
Yang kedua yakin sumbernya bukan hal mistis, melainkan pulsar, yaitu bintang mati yang berputar super cepat dan memancarkan sinar gamma secara alami.
Masalahnya, dua-duanya belum bisa dibuktikan sepenuhnya.
Materi Gelap Itu Selalu Berbentuk Bola
Selama ini, para ilmuwan berasumsi bahwa “halo” materi gelap yang mengelilingi galaksi berbentuk bulat sempurna, seperti bola kabut besar yang melingkupi Bima Sakti. Tapi Muru dan timnya baru-baru ini menemukan sesuatu yang bisa mengubah cara kita melihat alam semesta.
Lewat simulasi superkompleks bernama HESTIA, mereka memodelkan ulang bagaimana galaksi seperti Bima Sakti terbentuk, lengkap dengan tumbukan, tarikan gravitasi, dan evolusi kosmik selama miliaran tahun.
Hasilnya? Bentuk materi gelap di pusat galaksi ternyata nggak bulat, tapi pipih.
Dengan kata lain, selama ini kita mungkin melihat pola yang salah.
Kalau materi gelapnya memang pipih, bukan bola sempurna, pola sinar gamma yang terlihat sekarang justru masuk akal.
Muru bilang, “Salah satu alasan kenapa teori materi gelap dulu dianggap lemah ternyata cuma karena kita salah mengira bentuknya.”
Fakta Baru: Cahaya Itu Mungkin Memang dari Materi Gelap
Kalau hasil simulasi ini benar, maka sinar gamma di pusat Bima Sakti bisa jadi adalah jejak tabrakan partikel materi gelap.
Teorinya begini: dua partikel materi gelap bisa “berhantaman” dan melepaskan energi dalam bentuk sinar gamma, semacam kembang api kosmik yang cuma bisa dilihat lewat teleskop canggih.
Masalahnya, sampai sekarang belum ada cara langsung untuk mendeteksi materi gelap. Kita cuma bisa menebak keberadaannya lewat efek gravitasi dan sinyal-sinyal tak langsung seperti cahaya misterius ini.
Cahaya di pusat galaksi sudah bisa dijelaskan, namun nyatanya belum. Ilmuwan masih memperdebatkan antara teori pulsar dan materi gelap. Materi gelap selalu dianggap berbentuk bola, tetapi simulasi terbaru menunjukkan bentuknya bisa pipih atau oval dan belum tentu cahaya itu pasti dari materi gelap.
Baca juga: Mengenal Noctiluca Scintillans, Penghuni Laut yang Pancarkan Cahaya Memukau di Malam Hari
Langkah Selanjutnya: Menunggu “Mata” yang Lebih Tajam
Para ilmuwan sekarang menunggu bantuan dari teleskop generasi baru, seperti Square Kilometre Array (SKA) dan Cherenkov Telescope Array (CTA).
Kalau teleskop-teleskop ini nanti bisa menemukan banyak titik kecil sinar gamma (tanda adanya pulsar), berarti teori pulsar menang.
Tapi kalau cahaya itu ternyata tetap halus dan menyebar, materi gelap mungkin akhirnya terbukti nyata.
Misteri sinar gamma di pusat Bima Sakti sudah menghantui dunia astronomi lebih dari satu dekade. Setiap penelitian baru menambah potongan puzzle, tapi juga membuka pertanyaan baru.
Apakah kita akhirnya sedang mengintip wajah asli materi gelap, elemen misterius yang mengikat seluruh jagat raya?
Atau ini hanya trik cahaya dari pulsar yang menipu mata manusia?
Yang jelas, penelitian terbaru ini bikin kita sadar satu hal: bahkan di tengah kegelapan kosmos, masih ada cahaya yang menunggu untuk dimengerti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Snopes.com