INDOZONE.ID - Sistem peringatan dini gempa atau Earthquake Early Warning System (EEWS) bekerja dengan mendeteksi gelombang awal gempa yang muncul beberapa detik setelah gempa terjadi.
Gelombang ini bergerak lebih cepat daripada guncangan utama, sehingga sistem masih punya waktu untuk mengirim peringatan sebelum gempa besar terasa di permukaan.
Buat negara rawan gempa seperti Jepang dan Indonesia, jeda beberapa detik itu bisa sangat penting.
Cukup untuk menghentikan kereta cepat, mematikan mesin industri, atau memberi waktu orang berlindung.
EEWS bukan alat ramalan gempa. Sistem ini baru bekerja setelah aktivitas gempa terdeteksi oleh sensor.
Peneliti dari Meteorological Research Institute - Japan Meteorological Agency, Mitsuyuki Hoshiba, menjelaskan bahwa sistem membaca gelombang awal gempa yang disebut gelombang P.
Gelombang ini biasanya muncul lebih dulu dan bergerak lebih cepat dibanding gelombang S yang menyebabkan guncangan besar dan kerusakan.
“Komunikasi bergerak jauh lebih cepat dibanding gelombang gempa. Karena itu, peringatan bisa dikirim lebih dulu sebelum guncangan kuat tiba,” jelas Hoshiba dikutip dari laman BRIN.
Baca juga: 20 Tahun Gempa Jogja, Gempa yang Menggetarkan DIY dan Jawa Tengah
Setelah sensor mendeteksi aktivitas gempa, data langsung dikirim dan diproses secara real time.
Sistem kemudian memperkirakan lokasi, magnitudo, dan potensi dampak guncangan.
Karena sinyal komunikasi jauh lebih cepat daripada pergerakan gelombang gempa, notifikasi bisa dikirim ke masyarakat hanya dalam hitungan detik.
Jepang menjadi salah satu negara dengan sistem peringatan dini gempa paling maju di dunia.
Negara itu memiliki sekitar 4.400 titik pemantauan gempa yang aktif selama 24 jam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BRIN