Kasus Bryan Kohberger: Mahasiswa S3 yang Pelajari Kriminologi dan Membunuh 4 Mahasiswa Idaho
INDOZONE.ID - Pada November 2022 lalu, ketenangan kota kecil Moskow di Idaho hancur seketika ketika empat mahasiswa Universitas Idaho ditemukan tewas secara brutal di rumah sewaan mereka di dekat kampus.
Ethan Chapin, Kaylee Goncalves, Xana Kernodle, dan Madison Mogen ditemukan tewas dengan cara ditikam. Kasus ini langsung menggemparkan Amerika Serikat, yang menimbulkan rasa takut mendalam.
Kasus ini menjadi perhatian bagi para pecinta true crime, karena kasus ini sempat mengalami kebuntuan terutama selama berminggu-minggu pelakunya tidak kunjung ditemukan.
Hingga akhirnya pada Desember 2022, polisi mengumumkan penangkapan seorang mahasiswa program doctoral (Ph.D.) berusia 28 tahun bernama Bryan Kohberger, langkah yang mengubah arah penyelidikan sekaligus mengejutkan publik yang tak menduga pelakunya berasal dari lingkungan akademik elit.
Dua setengah tahun kemudian setelah tragedi itu, pada Juli 2025, Kohberger menyatakan diri bersalah melalui perjanjian hukum yang membuatnya terhindar dari hukuman mati. Namun hingga kini, pertanyaan terbesar masih menggantung. Sebenarnya apa motif di balik pembunuhan sadis yang dilakukan Bryan Kohberger ini?
Baca juga: 5 Arti Mimpi Musang Menurut Primbon Jawa, Pertanda Buruk atau Baik?
Profil Bryan Kohberger
Bryan lahir pada 1994 dan merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia tumbuh di daerah pekerja dekat Pegunungan Pocono, Pennsylvania.
Sejak remaja, ia dikenal sebagai sosok pendiam dan kurang pandai bersosialisasi, meskipun memiliki prestasi akademik yang baik.
Beberapa orang yang mengenalnya menggambarkan sikapnya yang kaku dan sering dianggap menakutkan, terutama terhadap perempuan.
Baca juga: Teori Seputar Asal-Usul Nama Vatikan: Benarkah Berasal Dari Nama Dewi Penguasa Dunia Bawah?
Di masa sekolah menengah, ia sempat berjuang melawan masalah pribadi, termasuk dugaan kecanduan obat-obatan terlarang.
Teman-temannya menyebut ia sering mengalami kesulitan bersosialisasi. Pada April 2025, pengacaranya Bryan Kohberger mengungkapkan bahwa Bryan didiagnosis mengidap Autism Spectrum Disorder dan sebelumnya ia juga diketahui mengidap obsessive-compulsive disorder (OCD).
Meski melewati banyak kesulitan, ia berhasil menyelesaikan gelar sarjana dan magister di DeSales University. Pada pertengahan 2022, ia pindah ke Washington State University (WSU) untuk melanjutkan studi doktoral di bidang peradilan pidana, letaknya hanya sekitar 10 kilometer dari lokasi kejadian pembunuhan.
Baca juga: Mengenal Sosok Eileithyia, Sang Dewi Persalinan dari Mitologi Yunani yang Terlupakan
Ketertarikan Aneh pada Dunia Para Pembunuh
Walaupun bidang studinya terkait psikologi dan kriminologi, fokus akademisnya tampak lebih condong pada sisi paling gelap dunia kejahatan.
Bryan bukan hanya mempelajari kasus kriminal, tetapi juga menghabiskan waktu menonton dokumenter dan membaca artikel yang membahas bagaimana pembunuh merencanakan tindakan mereka.
Mantan profesornya, Dr. Katherine Ramsland, menyatakan bahwa Kohberger memiliki ketertarikan yang luar biasa mendalam terhadap cara berpikir pelaku kekerasan. Bahkan, ia sempat membuat survei online untuk meminta mantan narapidana menjelaskan emosi dan pikiran mereka saat melakukan kejahatan.
Baca juga: 5 Arti Mimpi Dikejar Komodo Menurut Primbon Jawa, Pertanda Buruk?
Hal ini membuat banyak orang bertanya, dengan memiliki rasa ingin tahunya yang dalam terhadap kriminalitas telah berubah menjadi obsesi berbahaya.
Malam Paling Mengerikan di Moskow
Jaksa mengungkapkan bahwa sebelum tragedi terjadi, Bryan menghabiskan waktuna untuk memantau media sosial perempuan muda di sekitar kampus WSU dan Universitas Idaho. Ia diduga terobsesi dengan rumah tempat para korban tinggal.
Rekaman CCTV menunjukkan mobilnya sering melintas di depan rumah itu setidaknya sebanyak 12 kali sebelum malam pembunuhan.
Baca juga: 5 Arti Mimpi Dikejar Komodo Menurut Primbon Jawa, Pertanda Buruk?
Pada 13 November 2022 dini hari, keempat korban ditemukan tewas dengan luka tusuk di kamar masing-masing, sementara dua penghuni lain selamat. Mereka sempat panik dan mencoba menghubungi beberapa orang, tetapi tidak menerima jawaban.
Penyidik berpendapat bahwa Bryan menggunakan pengetahuan akademiknya untuk menutupi jejak. Bryan mematikan ponselnya agar tidak terlacak serta memastikan area pembunuhan dibersihkan dengan cermat. Namun, satu barang yang tertinggal di lokasi menjadi kunci pembongkaran identitasnya, yaitu sarung pisau yang menjadi bukti dan tersimpan DNA miliknya.
Enam minggu kemudian, Bryan ditangkap di rumah keluarganya di Pennsylvania.
Baca juga: Kisah Mistis Teluh Sahabat: Misteri Kiriman Mematikan yang Berakhir dengan Terkuaknya Kebenaran
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Meskipun kohberger telah mengakui perbuatannya dan proses hukum berlangsung, satu hal masih menjadi teka-teki besar. Apa alasan sebenarnya di balik aksi sadis tersebut? Apakah obsesi akademis berubah menjadi fantasi gelap yang diwujudkan? atau ada faktor psikologis lain yang tersembunyi.
Baca juga: Lahir di Weton Kliwon: Konon Sudah Dijaga Makhluk Besar Sejak Bayi, Mitos atau Memang Ada Rahasia?
Dua tahun lebih telah berlalu, tetapi rasa duka dan trauma di lingkungan Universitas Idaho belum sepenuhnya hilang.
Tragedi ini meninggalkan pelajaran pahit bahwa bahaya terkadang datang dari sosok yang tampak biasa. Bahkan dari seseorang yang dianggap paling pintar di kelas dapat menjadi pelaku kejahatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aetv.com