Minggu, 30 NOVEMBER 2025 • 11:20 WIB

Kisah Billy Milligan: Kriminal yang Punya 24 Kepribadian dengan Vonis DID Pertama di AS

Author

Billy Milligan (aetv.com)

INDOZONE.ID - Pada 4 Desember 1978, Billy Milligan mencatat sejarah hukum Amerika Serikat sebagai terdakwa pertama yang dibebaskan dengan alasan “tidak bersalah karena gila (insanity)”.

Bukan karena kurangnya bukti, tetapi lantaran dianggap menderita gangguan kejiwaan, saat itu dikenal sebagai Multiple Personality Disorder (MPD).  Pengetahuan medis modern kemudian mengklasifikasikan ulang diagnosis tersebut menjadi Dissociative Identity Disorder (DID).

Baca juga: Misteri Kematian Kim Jong Nam: Drama Keluarga Paling Kelam

Kronologi dan Diagnosa

Milligan ditangkap pada Oktober 1977, saat berusia 22 tahun, atas tuduhan penculikan, perampokan bersenjata, dan pemerkosaan terhadap tiga mahasiswi di kampus Ohio State University (OSU), Amerika Serikat.

Selama pemeriksaan psikiatri, Milligan menyangkal semua tuduhan terhadap dirinya.

Ia mengaku kalau tindakan kriminal dilakukan oleh alternya identitas lain yang berbeda dalam dirinya seperti “Ragen” yang disebut bertanggung jawab atas perampokan, dan “Adalana” yang disebut sebagai pelaku penculikan dan pemerkosaan. Secara total, ia mengklaim memiliki 24 kepribadian berbeda.

Evaluasi dilakukan oleh sembilan profesional kesehatan mental salah satunya psikiater terkenal Cornelia Wilbur, yang sebelumnya dikenal lewat kasus “Sybil”.

Atas dasar diagnosis ini, pengadilan akhirnya memutuskan kalau Milligan tidak bertanggung jawab atas tindak kriminal tersebut karena kondisi kejiwaannya sebuah vonis luar biasa yang menarik perhatian nasional.

DID vs MPD: Perubahan Definisi

Pada era persidangannya, gangguan kejiwaan itu disebut MPD konsepsi populer kalau seseorang bisa memiliki banyak “kepribadian” berbeda secara terpisah.

Tapi perkembangan di bidang kesehatan mental menggeser pemahaman tersebut. Kini, DID lebih dipahami sebagai kondisi disosiatif akibat trauma di mana seorang individu dapat merasa “terpisah” dari bagian dirinya, mengalami kesulitan memproses emosi. 

Atau bahkan merasa seperti berada di luar dirinya sendiri ketika stres atau mengalami tekanan berat. DID tidak selalu berarti kepribadian berbeda seperti “mode ganti karakter”, tapi fragmentasi identitas akibat trauma berat.

Pakar forensik bahkan mempertanyakan apakah vonis insaniy seperti kasus Milligan akan mudah diterima di pengadilan masa kini, karena seringkali sulit membuktikan hubungan langsung antara kondisi mental dan tindakan kriminal khususnya kejahatan seksual atau kekerasan ekstrem. 

Relevansi dan Kontroversi: Tanggung Jawab Hukum vs Realitas Mental

Kasus Billy Milligan membuka pertanyaan fundamental mengenai dapatkah seseorang dengan gangguan identitas disosiatif dianggap bertanggung jawab atas kejahatan serius?

Sejumlah profesional berpendapat kalau untuk menyatakan seseorang “tidak bertanggung jawab” harus terbukti secara meyakinkan kalau kondisi kejiwaan menyebabkan hilangnya kemampuan membedakan benar-salah bukan sekadar klaim identitas ganda.

Seiring berkembangnya psikologi klinis, semakin sedikit kasus di mana DID menjadi strategi pembelaan yang berhasil karena sulit dibuktikan secara objektif.

Warisan Billy Milligan

Baca juga: Fenomena Aneh tapi Nyata: Kriminal yang Punya Banyak Fans

Billy Milligan meninggal dunia pada 2014, tetapi kisahnya tetap jadi referensi penting dalam diskursus hukum, psikologi, dan etika medis.

Kasusnya memaksa masyarakat dan sistem hukum mengevaluasi ulang batas antara penyakit mental, tanggung jawab individu, dan keadilan serta menyadarkan kalau trauma dan kesehatan mental bisa punya implikasi serius pada perilaku manusia. Kasus seperti Milligan menunjukkan betapa kompleksnya interaksi antara hukum dan psikologi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Aetv.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU