Rabu, 08 OKTOBER 2025 • 11:23 WIB

Misteri Kematian Edgar Allan Poe yang Aneh Usai Ditemukan Sedang Duduk Mengingau di Taman

Author

Edgar Allan Poe, penulis kisah misteri, gothic, gore, dan detektif (Instagram/@edgar.allan.poe)

INDOZONE.ID - Kematian penulis legendari Amerika Serikat Edgar Allan Poe pada 7 Oktober 1849 lalu tetap menjadi misteri hingga kini. Ia ditemukan dalam kondisi mengigau dan berpakaian lusuh di sebuah kedai di Baltimore, Maryland, pada 3 Oktober 1849, lalu dibawa ke Rumah Sakit Washington College, dan meninggal empat hari setelahnya.

Penulis yang menginspirasi Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, hingga Stephen King itu tidak pernah sepenuhnya sadar untuk menjelaskan apa yang terjadi dan meninggal empat hari kemudian pada usia 40 tahun. Sejak itu, berbagai teori bermunculan, mulai dari bunuh diri, pembunuhan, penyakit, hingga kemungkinan ia menjadi korban penipuan pemilu.

Indozone merangkum data dari jurnal Edgar Allan Poe and Alcohol di usna.edu, tentang kronologi serta kondisi Edgar Allan Poe sebelum meninggal.

Kronologi

Kronologi terakhir kehidupan Poe dimulai ketika ia tinggal di Richmond, Virginia, dari Juli hingga September 1849 untuk merencanakan penerbitan majalah baru. Selama di sana, ia mengaku mengalami efek serangan kolera dan halusinasi, meski menegaskan tidak mengonsumsi alkohol. 

Edgar Allan Poe (Istimewa)

Setelah pulih, Poe memberikan ceramah untuk membiayai hidupnya. Ia meninggalkan Richmond pada 27 September 1849 menuju New York City dengan rencana pindah kerja sebagai editor dan menikah lagi. Namun, jejaknya hilang hingga 3 Oktober, ketika ia ditemukan dalam kondisi kacau di Ryan’s Tavern (juga dikenal sebagai Gunner’s Hall) di Baltimore.

Baca juga: Edgar Allan Poe, Pencetus Genre Misteri yang Kematiannya Misterius

Kondisi janggal Poe saat ditemukan

Seorang pencetak bernama Joseph W. Walker menulis surat meminta bantuan kepada Joseph E. Snodgrass, seorang editor dan kenalan Poe, karena menemukan Poe dalam keadaan “terpuruk”. 

Snodgrass kemudian menggambarkan penampilan Poe sangat mengenaskan: rambut kusut, wajah pucat dan tidak terawat, pakaian lusuh yang tampaknya bukan miliknya, termasuk mantel tua, celana pudar, sepatu usang, dan topi jerami. Keadaan ini sangat tidak biasa bagi Poe, yang dikenal selalu berpakaian rapi.

Cerita tentang kematian Edgar Allan Poe (Istimewa)

Nama 'Reynolds' disebut Poe

Poe dibawa ke Rumah Sakit Washington College dan dikurung di ruang seperti sel penjara yang diperuntukkan bagi orang mabuk. Ia tidak menerima kunjungan siapa pun dan tidak pernah cukup sadar untuk menceritakan apa yang terjadi. 

Dalam masa kritisnya, Poe berulang kali memanggil nama “Reynolds”, meskipun identitas orang tersebut tidak pernah terungkap. Ia juga menyebut tentang seorang istri di Richmond—mungkin merujuk pada istrinya yang telah meninggal, Virginia, atau tunangannya saat itu, Sarah Elmira Royster.

Baca juga: Kasus 'The Monster of Florence', Misteri Pembunuhan Brutal Pasangan di Italia

Kesaksian Moran 

Kesaksian tentang hari-hari terakhir Poe sebagian besar berasal dari dokter John Joseph Moran, meskipun kredibilitasnya sering dipertanyakan karena banyak pernyataannya berubah-ubah seiring waktu. Moran mengklaim bahwa kata-kata terakhir Poe adalah, “Tuhan, tolonglah jiwaku yang malang,” sebelum meninggal pada 7 Oktober 1849.

 Namun, ia juga pernah menyebutkan versi yang jauh lebih puitis, yang dianggap mustahil oleh editor New York Herald. Ketidakkonsistenan Moran semakin menambah misteri seputar kematian Poe.

Teori penyebaba kematian Poe

Penyebab kematian Poe tetap tidak diketahui karena semua dokumen medis dan sertifikat kematiannya hilang. Teori yang diajukan mencakup hipoglikemia, bunuh diri akibat depresi, alkoholisme, atau bahkan rabies. 

Snodgrass, yang mendukung gerakan anti-alkohol, menyebut alkohol sebagai penyebabnya, tetapi Moran membantah dengan menyatakan bahwa Poe sama sekali tidak berbau alkohol. Poe juga dikenal jarang minum dan bahkan bergabung dengan organisasi anti-alkohol. Tuduhan penggunaan narkoba dibantah oleh dokter sekaligus musuhnya, Thomas Dunn English, yang tidak pernah melihat tanda-tanda ketergantungan.

Teori lain menyebutkan bahwa Poe mungkin menjadi korban cooping, praktik penculikan pemilih untuk dipaksa memilih berulang kali, yang menjelaskan pakaian tak lazim yang ia kenakan. Penyakit seperti tumor otak, sifilis, kolera, atau keracunan logam berat juga diajukan sebagai penyebab. 

Baca juga: Spekulasi Kematian Raden Saleh: Tabir Misteri yang Belum Terungkap: Motif Politik atau Dendam Pribadi?

Pada tahun 1996, dokter R. Michael Benitez menyimpulkan bahwa gejala yang dialami Poe, seperti delirium dan hidrofobia, paling konsisten dengan rabies yang kemungkinan tertular dari hewan peliharaannya.

Makam Edgar Allan Poe (Istimewa)

Pemakaman yang menyedihkan

Poe dimakamkan dalam upacara sederhana pada 8 Oktober 1849 di halaman gereja Westminster Presbyterian, Baltimore. Hanya segelintir orang yang hadir, dan upacara berlangsung tiga menit dalam cuaca suram tanpa khotbah. 

Petinya sederhana tanpa nama atau hiasan. Pada 1875, jenazahnya dipindahkan ke makam baru dengan monumen besar bersama istri dan ibu mertuanya. Untuk menghormati warisannya, Poe mendapat pemakaman simbolis kedua pada 10 Oktober 2009, lengkap dengan replika peti mati dan pembacaan eulogi oleh aktor yang memerankan tokoh-tokoh sezamannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Usna.edu

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU