Edgar Allan Poe, penulis kisah misteri, gothic, gore, dan detektif (Instagram/@edgar.allan.poe)
INDOZONE.ID - Kematian penulis legendari Amerika Serikat Edgar Allan Poe pada 7 Oktober 1849 lalu tetap menjadi misteri hingga kini. Ia ditemukan dalam kondisi mengigau dan berpakaian lusuh di sebuah kedai di Baltimore, Maryland, pada 3 Oktober 1849, lalu dibawa ke Rumah Sakit Washington College, dan meninggal empat hari setelahnya.
Penulis yang menginspirasi Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, hingga Stephen King itu tidak pernah sepenuhnya sadar untuk menjelaskan apa yang terjadi dan meninggal empat hari kemudian pada usia 40 tahun. Sejak itu, berbagai teori bermunculan, mulai dari bunuh diri, pembunuhan, penyakit, hingga kemungkinan ia menjadi korban penipuan pemilu.
Indozone merangkum data dari jurnal Edgar Allan Poe and Alcohol di usna.edu, tentang kronologi serta kondisi Edgar Allan Poe sebelum meninggal.
Kronologi terakhir kehidupan Poe dimulai ketika ia tinggal di Richmond, Virginia, dari Juli hingga September 1849 untuk merencanakan penerbitan majalah baru. Selama di sana, ia mengaku mengalami efek serangan kolera dan halusinasi, meski menegaskan tidak mengonsumsi alkohol.
Setelah pulih, Poe memberikan ceramah untuk membiayai hidupnya. Ia meninggalkan Richmond pada 27 September 1849 menuju New York City dengan rencana pindah kerja sebagai editor dan menikah lagi. Namun, jejaknya hilang hingga 3 Oktober, ketika ia ditemukan dalam kondisi kacau di Ryan’s Tavern (juga dikenal sebagai Gunner’s Hall) di Baltimore.
Baca juga: Edgar Allan Poe, Pencetus Genre Misteri yang Kematiannya Misterius
Seorang pencetak bernama Joseph W. Walker menulis surat meminta bantuan kepada Joseph E. Snodgrass, seorang editor dan kenalan Poe, karena menemukan Poe dalam keadaan “terpuruk”.
Snodgrass kemudian menggambarkan penampilan Poe sangat mengenaskan: rambut kusut, wajah pucat dan tidak terawat, pakaian lusuh yang tampaknya bukan miliknya, termasuk mantel tua, celana pudar, sepatu usang, dan topi jerami. Keadaan ini sangat tidak biasa bagi Poe, yang dikenal selalu berpakaian rapi.
Cerita tentang kematian Edgar Allan Poe (Istimewa)
Poe dibawa ke Rumah Sakit Washington College dan dikurung di ruang seperti sel penjara yang diperuntukkan bagi orang mabuk. Ia tidak menerima kunjungan siapa pun dan tidak pernah cukup sadar untuk menceritakan apa yang terjadi.
Dalam masa kritisnya, Poe berulang kali memanggil nama “Reynolds”, meskipun identitas orang tersebut tidak pernah terungkap. Ia juga menyebut tentang seorang istri di Richmond—mungkin merujuk pada istrinya yang telah meninggal, Virginia, atau tunangannya saat itu, Sarah Elmira Royster.
Baca juga: Kasus 'The Monster of Florence', Misteri Pembunuhan Brutal Pasangan di Italia
Kesaksian tentang hari-hari terakhir Poe sebagian besar berasal dari dokter John Joseph Moran, meskipun kredibilitasnya sering dipertanyakan karena banyak pernyataannya berubah-ubah seiring waktu. Moran mengklaim bahwa kata-kata terakhir Poe adalah, “Tuhan, tolonglah jiwaku yang malang,” sebelum meninggal pada 7 Oktober 1849.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Usna.edu