INDOZONE.ID - Pada bulan Januari 2016, seorang mahasiswa asal Amerika Serikat ditangkap oleh tentara Korea Utara dan mendapatkan hukuman 15 tahun kerja paksa.
Otto Warmbier ditangkap karena diduga telah mencuri poster propaganda yang ada di hotel yang ia tempati.
Ia ditahan oleh pihak keamanan di bandara Pyongyang, beberapa waktu sebelum ia harus kembali ke Amerika.
Pada tahun 2017, Otto berhasil pulang ke negara asal namun dengan kondisi yang tragis.
Pada saat diperiksa kembali, diduga Otto mengalami kerusakan otak yang kemungkinan didapatkan saat ia ditahan, sehingga menjadi alasan utama atas kematiannya.
Otto Warmbier dan Kehidupan Awalnya
Otto Warmbier lahir di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat pada 12 Desember 1994. Ia merupakan anak sulung dari tiga bersaudara.
Lahir dan tumbuh di Cincinnati, Otto merupakan anak yang terkenal dan berprestasi. Saat ia lulus SMA, Otto berkesempatan untuk membuka acara wisuda di SMA nya.
Baca Juga: Kisah Pencurian Mobil Terbesar Sepanjang Sejarah: Korea Utara Tak Bayar 1.000 Unit Volvo dari Swedia
Ia pun lanjut menempuh pendidikan sarjana nya di University of Virginia, mengambil jurusan double degree di Perdagangan dan Ekonomi.
Merayakan Tahun Baru di Korea Utara
Pada tahun 2016, Otto dijadwalkan untuk mengikuti program studi ke Hong Kong pada awal tahun 2016. Akan tetapi, ia memutuskan untuk mengunjungi Korea Utara terlebih dahulu saat tahun baru.
Ia memesan tur ke Korea Utara bersama Young Pioneer Tours, pengelola tur murah yang berbasis di China.
Dengan slogan “Destinasi yang Ibumu ingin kau hindari”, Young Pioneer Tours dianggap sebagai tur paling aman untuk warga negara Amerika menurut ayah Otto, Fred Warmbier.
Otto tertarik untuk melihat budaya Korea Utara. Ia memiliki ketertarikan mempelajari budaya baru dan dengan kesempatan ini, Otto bisa merasakannya secara langsung.
Pada 29 Desember 2015, kelompok Young Pioneer Tours terbang ke Korea Utara melalui Beijing yang membawa sepuluh warga negara AS. Mereka berencana untuk mengunjungi Korea Utara selama lima hari.
Mereka menikmati acara malam tahun baru dengan berpesta di Lapangan Kim II Sung Pyongyang, sebelum kembali ke Hotel Internasional Yanggakdo, satu-satunya hotel yang menampung warga asing.
Di hotel pun, mereka kembali berpesta pora dengan beberapa minuman alkohol.
Penahanan Otto Warmbier
Pada 2 Januari 2016, Otto ditahan di Bandara Internasional Pyongyang saat menunggu keberangkatannya dari Korea Utara.
Menurut salah satu teman tur Otto, para penjaga tidak berbicara apa-apa. Mereka hanya menepuk pundak Otto dan membawanya pergi.
“Ini adalah terakhir kalinya aku akan melihatmu,” canda temannya kepada Otto saat di bandara.
Otto membalasnya dengan senyuman tipis. Ia tidak takut dan nurut dengan perintah mereka dan dibawa pergi.
Beberapa minggu kemudian, media asal Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), mengumumkan bawa Otto ditahan karena menunjukan “tindakan permusuhan terhadap negara” tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Pada 29 Februari 2016, Otto membaca sebuah pernyataan saat konferensi pers. Ia mengaku telah mencuri poster propaganda yang ada di area khusus staff di hotel Yanggakdo pukul 01.57 dini hari.
Namun, Otto mengatakan ia meninggalkan poster tersebut akibat ukurannya yang terlalu besar. Setelah seorang staf mengetahui poster tersebut, ia melaporkan ke pihak yang berwajib.
Dalam konferensi pers itu, ia juga meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat.
“Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada Anda, rakyat dan pemerintah DPR Korea. Saya mohon, saya telah melakukan kesalahan terburuk dalam hidup saya! Tolong bertindaklah untuk menyelamatkan saya. Tolong pikirkan keluarga saya.” Otto memohon saat konferensi bersama wartawan dan para diplomat yang hadir.
Namun, tidak diketahui apakah teks yang Otto baca merupakan paksaan atau bukan, tapi penampilan Otto terlihat sangat tertekan dan sedih.
Otto pun mendapatkan hukuman 15 tahun kerja paksa.
Pembebasan Otto Warmbier
Mendengar kabar buruk ini, keluarga Otto diminta untuk tidak berbicara tentang kejadian penculikan ini untuk tidak memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dan Korea Utara.
Pada 13 Juni 2017, Sekretaris negara mengumumkan pelepasan Otto. Setelah 17 bulan, beberapa perawat dan anggota Kementerian luar Amerika Serikat pergi ke Korea Utara untuk menjemput Otto.
Pada saat mereka tiba di Pyongyang Friendship Hospital, dimana Otto dirawat, sang mahasiswa mengalami koma setelah minum pil tidur.
Ia juga didiagnosa telah tertular botulisme yang berasal dari makanan hewan, tidak lama setelah dijatuhi hukuman.
Setelah 17 bulan ditahan, Otto kembali pulang ke negara asal dengan kondisi koma. Ia pun dirawat di University of Cincinnati Medical Center di mana dokter melakukan pemeriksaan dan evaluasi lebih lanjut.
Baca Juga: Kisah Perjalanan Jurnalis Jean Lee saat Tinggal di Korea Utara: Dilihat Sebagai Mata-mata
Menurut dokter, Otto berada di kondisi yang terjaga tapi tidak responsif. Otto masih mampu untuk mengedipkan mata, akan tetapi ia tidak bisa memahami bahasa ataupun bergerak.
Menurut perawat Otto di Korea Utara, Otto telah menerima perawatan medis yang baik. Banyak yang menduga Otto kekurangan oksigen pada bagian otak, hal itu yang menyebabkan koma yang ia alami.
Namun, banyak yang menduga, bahwa kondisi Otto yang tragis ini diakibatkan oleh kekerasan fisik ataupun mental selama ia ditahan.
Tetapi, tidak ada bukti yang mendukung duggan tersebut. Dengan kondisi Otto yang sudah terbaring hampir setahun, para dokter mengklaim kondisi badan Otto sangat bagus.
Dengan kondisi Otto yang tidak membaik, kedua orang tua Otto memilih untuk melepaskan selang darinya.
Kematian Otto yang Masih Dipertanyakan
Otto meninggal pada 19 Juli 2017, enam hari selepas ia dijemput pulang. Seluruh anggota keluarganya turut bersedih dengan insiden yang tragis ini dan menyalahkan penuh kepada Korea Utara.
Mereka juga menuntut pemerintah Korea Utara. Akan tetapi, Korea Utara mengelak atas seluruh tuduhan.
Korea Utara merasa diri mereka adalah korban dalam kasus ini. Meksipun Korea Utara tidak mentolerir penjahat, mereka menganggap sudah menyediakan Otto dengan perawatan medis yang tulus sebagai bentuk belas kasihnya hingga ia kembali pulang ke Amerika Serikat.
Akibat insiden ini, Amerika Serikat kini melarang keras warga negaranya untuk pergi ke Korea Utara sejak tanggal 1 September 2017.
Penulis: Gadis Kinamulan Esthiningtyas
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, YouTube