Woo Bum kon merupakan seorang perwira polisi asal Korea Selatan yang dicatat dalam sejarah gelap tindak kriminal di negaranya, Korea Selatan (Korsel).
Woo Bum kon tercatat dalam pembunuhan massal terbesar dalam sejarah modern karena dia telah membunuh 57 orang, termasuk dirinya dan melukai 35 orang lainnya di Gyeongsangnam-do, Korea Selatan.
Pria yang lahir pada tanggal 24 Februari itu pernah bertugas di Korps Marinir Republik Korea, di mana ia diakui sebagai penembak jitu yang terampil sampai dibebastugaskan pada tahun 1978.
Pembunuhan massal yang dilakukan Woo diduga lantaran kesal diledeki orang-orang di sekitarnya karena hidup bersama pacarnya tanpa menikah.
Baca juga: Kisah Randy Roth, Pembunuh Berdarah Dingin yang Bunuh Istrinya Demi Uang Asuransi
Pembantaian itu bermula pada sore hari 26 April 1982, di mana Woo bertengkar dengan pacarnya, Chun Mal-soon setelah dia membangunkan Woo dengan menepuk dadanya.
Woo marah dan langsung meninggalkan rumah. Dia kemudian pergi ke kantor polisi dan dia melapor untuk bertugas pada pukul 16.00 waktu setempat.
Sekitar pukul 19.30 waktu setempat, Woo kembali ke rumah, menyerang pacarnya dan menghancurkan furnitur. Dia lalu lanjut berjalan ke gudang senjata cadangan dan mengumpulkan beberapa senjata.
Kemudian pukul 21.30, Woo menembak korban pertamanya dan memasuki kantor pos setempat. Dia membunuh tiga operator telepon dan memutus saluran telepon.
Woo kemudian pergi ke Torongni dan melempar granat serta menembak orang yang lewat di pasar. Insiden itu menewaskan enam orang. Dia juga melukai Chun Mal-soon, rekannya yang melakukan penyelidikan setelah mendengar tembakan di desa.
Sejak saat itu, Woo berpidah dari satu desa ke desa lainnya, memanfaatkan posisinya sebagai petugas polisi untuk masuk ke rumah dan menembak para penghuni rumah tersebut.
Pada pukul 22:30 waktu setempat, Woo menyandera Kim Ju-dong, yang berusia 18 tahun dan pindah ke Ungye-Ri, di mana dia memerintahkan Kim untuk membelikannya minuman ringan dari toko kelontong.
Setelah mendapatkan apa yang dimintanya, Woo membunuh Kim lalu menyerang pemilik toko dan keluarganya.
Shin We-do, pemilik toko berhasil melarikan diri setelah ditembak di kaki, meskipun istrinya Son Won-jeom dan putrinya Chang-sun dan Su-jeong tewas dalam penembakan itu.
Woo melanjutkan penembakannya di pasar, menewaskan total 18 orang di desa itu, sebelum menuju Pyongchon-Ni.
Baca juga: Kilas Balik Kasus Pembunuh Berantai yang Incar Wanita Berbaju Merah, Jack The Ripper China
Di Pyongchon-Ni, dia menembak sebuah keluarga beranggotakan empat orang di tempat tidur mereka dan kemudian pergi ke sebuah rumah, di mana sedang dibangunkan.
Ketika pemilik rumah melihat polisi bersenjata itu dan menanyakan apa yang terjadi, Woo menjelaskan bahwa ada peringatan karena agen Korea Utara terlihat.
Pria itu mengundang Woo ke rumah untuk makan malam, di mana Woo mengeluh tentang gajinya yang kecil dan pemindahannya dari Pusan ke pedesaan. Woo akhirnya mulai menembaki para tamu setelah salah satu dari mereka mengatakan bahwa amunisinya tidak terlihat asli.
Dia membunuh dua belas orang di rumah dan delapan lainnya di jalanan, sehingga total 24 orang tewas di Pyongchon-ni.
Meski polisi disiagakan dalam beberapa menit setelah tembakan pertama dilepaskan. Namun mereka membutuhkan waktu satu jam untuk mengumpulkan tim yang terdiri dari 37 petugas untuk menangkap Woo.
Saat itu Woo berlindung di sebuah rumah pertanian milik Suh In-Su berusia 68 tahun, di sana Woo bercerita bahwa dia sedang mengejar penyusup Komunis.
Woo juga meminta semua keluarga harus berkumpul di ruang utama rumah agar dia bisa melindungi mereka. Ketika keluarga berkumpul atas permintaannya, dia menyandera mereka.
Dua jam kemudian, polisi akhirnya menangkapnya, dan saat pasukan mendekat, Woo meledakkan dua granat, membunuh dirinya sendiri dan tiga sanderanya. Suh sendiri selamat, namun mengalami luka parah.
Amukan akhirnya berakhir, 55 orang dan Woo sendiri tewas, sementara 36 lainnya luka-luka, enam di antaranya meninggal dunia. Salah satu korban luka parah, seorang anak yang tertembak, meninggal pada 8 Mei.
Chun Mal-soon, pacar Woo mengatakan kalau pacarnya itu terganggu oleh komentar penduduk desa karena dia tinggal satu rumah dengan pacarnya tanpa menikah.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: