Rabu, 03 FEBRUARI 2021 • 13:07 WIB

Mengenal Brookesia nana, Spesies Reptil Terkecil di Dunia

Author

Brookesia nana. (photo/sci-news.com)

Sekelompok peneliti telah menemukan reptil terkecil di dunia. Reptil yang berjenis bunglon ini ditemukan di wilayah utara dari Pulau Madagaskar, Afrika Timur. Karena itu, para peneliti pun memberikan nama bunglon kecil itu dengan nama ilmiah Brookesia nana. 

Ini dikarenakan ukuran tubuhnya sangat kecil, reptil ini juga bisa disebut sebagai nano bunglon. Saking kecilnya, bunglon ini bisa ditaruh di atas ujung jari telunjuk manusia. Dimana, bunglon itu dengan nyaman bisa bertengger di ujung jari tanpa harus terjatuh dikarenakan lebar ujung jari pun cukup muat untuk menampung panjang tubuh bunglon. 

Dalam laporan hasil penemuan dan deskripsi pada bagian atas, bunglon kecil tersebut telah diterbitkan di jurnal Scientific Reports pada 28 Januari 2021. Dalam laporan itu, para peneliti menjelaskan bahwa Brookesia jantan dewasa yang mereka temukan merupakan reptil dewasa paling kecil, bahkan vertebrata atau hewan bertulang belakang dewasa paling kecil yang pernah ditemukan. 

Mereka juga menjelaskan bahwa spesies ini ditemukan di kawasan hutan hujan yang mulai terdegradasi atau rusak di wilayah Madagaskar Utara. Untuk saat ini, baru ditemukan 2 individu Brookesia nana yang berhasil ditemukan para peneliti di Pulau Madagaskar itu. Menariknya, kedua individu merupakan pasangan jantan dan betina. 

Untuk betina, reptil ini memiliki panjang tubuh, dari ujung moncong hingga kloaka untuk ereksi hingga reproduksi, hanyalah sekitar 19mm. Sedangkan, panjang tubuhnya jika diukur sampai ekor mencapai 29 mm.

Adapun untuk jantan, memiliki panjang tubuh, dari mulut sampai kloaka mencapai 13,5 mm atau 22 militer jika diukur sampai ujung ekornya. Namun, para peneliti mengatakan bahwa habitat bunglon kecil ini juga kecil dan sangatlah terbatas. Mungkin hanya sekitar beberapa hektar dan membuat spesies ini terancam punah. Ini juga diungkapkan oleh Oliver Hawlitschek, salah satu peneliti dalam riset itu. 

“Sayangnya, habitat nano bunglon ini berada di bawah tekanan berat akibat penggundulan hutan, tetapi kawasan tersebut baru-baru ini ditetapkan sebagai kawasan lindung, dan mudah-mudahan hal itu akan memungkinkan bunglon baru yang mungil ini bertahan hidup,” ungkap Oliver Hawlitschek mengutip New Atlas.

Artikel Menarik Lainnya:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Tags
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU