Rabu, 25 FEBRUARI 2026 • 10:45 WIB

Ngomongin Astrologi dan Zodiak, Gimana Sih Islam Memandangnya?

Author

ilustrasi Zodiak (Freepik)

INDOZONE.ID - Fenomena ramalan zodiak masih ramai diperbincangkan di mulai dari tongkrongan hingga media sosial. Banyak orang membaca horoskop sekadar hiburan.

Tapi dalam perspektif Islam, persoalannya tidak sesederhana itu.

Lalu, bagaimana sebenarnya Islam melihat astrologi, astronomi, dan praktik ramalan bintang?

Secara modern, astrologi didefinisikan sebagai upaya mengetahui karakter atau masa depan seseorang berdasarkan posisi benda-benda langit.

Biasanya muncul dalam bentuk horoskop atau ramalan zodiak.

Baca juga: Mengenal Zodiak Pisces: Pemimpi yang Penuh Dunia Rahasia

Baca juga: Mengenal Astrologer dan Rahasia Astrologi Tradisional, Nggak cuma Ramal Zodiak dan Cinta

Masalahnya, dalam ajaran Islam, nasib sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Allah.

Mengaitkan konstelasi bintang dengan takdir manusia dianggap melampaui batas.

Al-Qur’an secara tegas dalam surat Q.S. Al-A’raf: 188.

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Seandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan bahaya tidak akan menimpaku. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yang beriman.’”

Ayat ini menjadi prinsip dasar bahwa pengetahuan tentang hal gaib bukan ranah manusia. Termasuk klaim ramalan masa depan lewat bintang.

Al-Qur’an juga mengingatkan melalui surat Al-Jinn: 6

“Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari (kalangan) manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin sehingga mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.”

Bahkan Nabi Muhammad memberikan peringatan keras.

“Barangsiapa mendatangi seorang dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang dikatakan, maka orang tersebut telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw.” (HR. Ahmad).

“Barangsiapa mendatangi tukang tenung lalu bertanya tentang suatu hal, maka shalat orang tersebut tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim).

Astronomi dalam Islam adalah Ilmu, Bukan Ramalan

Di sisi lain, Islam justru punya sejarah panjang dalam pengembangan astronomi.

Pakar ilmu falak Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, menjelaskan bahwa perbedaan astrologi dan astronomi sangat mendasar.

“Astronomi mempelajari gerak dan posisi benda langit secara fisik serta matematis demi pengembangan keilmuan dan peradaban,” ujarnya.

“Astrologi menganggap benda langit sebagai pertanda magis bagi manusia,” ia menambahkan.

Ramalan Zodiak Pisces 2026 (AI/Gemini)

Dua pendekatan ini memang sama-sama menatap langit. Tapi tujuannya berbeda jauh.

Astronomi berbasis observasi, perhitungan, dan metode ilmiah. Astrologi berbasis simbol dan tafsir nasib.

Dalam praktiknya, umat Islam menggunakan astronomi untuk menentukan waktu salat lewat gerak semu Matahari, menetapkan awal bulan melalui hisab, dan menyusun kalender hijriah. Itu semua adalah bentuk prediksi ilmiah, bukan tebak-tebakan.

Tradisi Ilmuwan Muslim dan Warisan Astronomi

Sejarah mencatat, tradisi astronomi Islam pernah menjadi rujukan dunia.

Tokoh seperti Al-Biruni, Al-Battani, Ibn Yunus, hingga Ibn Syathir mengembangkan perhitungan posisi benda langit dengan presisi tinggi. Mereka mengoreksi data, menyempurnakan metode, dan membangun fondasi sains modern.

Menariknya, pada masa awal, astronomi Islam memang sempat bersentuhan dengan astrologi. Pengaruh budaya Arab pra-Islam dan tradisi kuno masih terasa.

Namun, risalah Nabi Muhammad secara bertahap mengikis praktik-praktik magis itu. Ilmu falak berkembang sebagai disiplin rasional, bukan alat membaca nasib.

Di titik ini, Islam tidak anti-prediksi. Yang ditolak adalah klaim mengetahui hal gaib tanpa dasar ilmiah.

Ramalan Zodiak Hiburan atau Masalah Akidah?

Bagi sebagian anak muda, membaca zodiak terasa ringan. Sekadar konten media sosial atau bahan obrolan.

Namun jika sampai diyakini sebagai penentu nasib, di situlah persoalan muncul.

Islam mendorong perencanaan masa depan berbasis sebab-akibat yang bisa dipelajari. Ikhtiar, usaha, dan etika tetap jadi fondasi. Hasil akhirnya tetap diserahkan kepada kehendak Allah.

Dengan kata lain, masa depan boleh dirancang. Tapi bukan ditentukan oleh rasi bintang.

Di era digital, tantangannya bukan lagi perdukunan konvensional. Ramalan kini hadir dalam bentuk aplikasi, konten viral, hingga “perdukunan digital”.

Membedakan antara prediksi ilmiah dan ramalan spekulatif jadi kunci. Sains memberi ruang untuk menghitung. Agama memberi batas agar manusia tidak mengklaim wilayah yang bukan miliknya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Tarjih.or.id, Muhammadiyah

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU