INDOZONE.ID - Bagi masyarakat Jawa, weton selalu dipakai dalam berbagai kegiatan penting seperti untuk menentukan hari baik acara lamaran, pernikahan, khitanan, penentuan waktu mendirikan rumah ataupun kegiatan lainnya seperti hari baik untuk bepergian.
Weton merupakan sistem perhitungan Jawa yang menggabungkan hari dan pasaran dalam penentuan nasib seseorang. Weton Jawa terdiri dari 5 hari pasaran atau hari keberuntungan yaitu kliwon, legi, pahing, pon dan wage digabungkan dengan neptu hari lahir seseorang. Neptu adalah angka-angka tertentu yang terkait hari kelahiran dan pasarannya, seperti hari Senin nilainya 5, Selasa 3 atau Sabtu nilainya 9.
Baca juga: 5 Weton yang Paling Suka Hal Gaib Menurut Primbon Jawa
Weton berasal dari tradisi Hindu-Buddha namun telah dipelajari sejak berabad-abad lampau. Dianggap mitos bagi sebagian orang karena sistem kalender ini sudah dianggap kuno dan tidak dapat digunakan saat ini. Ada sejak abad ke 15 ketika Hindu hadir di tanah air, faktanya masih banyak yang menggunakan weton di dalam berkegiatan. Selain Jawa, masyarakat Bali dan Lombok juga menggunakan sistem ini.
Banyak yang melihat weton merupakan sistem kalender yang rumit, namun sebenarnya tidaklah susah untuk dipelajari. Banyak pula mitos yang beredar tentang weton untuk memprediksi masa depan, ramalan nasib, meramal jodoh yang tepat dan keberuntungan.
Ada istilah pegat, ratu, jodoh, padu hingga pesthi dalam perhitungan weton jodoh. Dimana wanita dan pria dihitung penjumlahan neptunya cocok dalam berjodoh, banyak masalah dalam rumah tangga atau langgeng dan harmonis dengan pasangannya.Tak dipungkiri budaya weton pada masyarakat Jawa berkaitan dengan watak, karakter dan nasib sehingga garis kehidupan manusia sudah ditentukan sejak lahir.
Baca juga: Weton Jodoh: Tradisi Jawa untuk Menentukan Kecocokan Pasangan
Ada istilah Jawa idu geni sabdo dadi, si pahit lidah yang konon seseorang mempunyai kemampuan dimana setiap sumpah atau kata-katanya cenderung menjadi kenyataan. Konon weton-weton tertentu mempunyai kemampuan idu geni karena khodam yang mengikutinya. Seperti tercatat dalam Primbon Jawa, Sabtu Legi, Rabu Kliwon, Kamis Kliwon, Kamis Legi, Jumat Kliwon, Rabu Pon dan Kamis Pon berpotensi disukai khodam yang mewarisi idu geni. Kepercayaan ini telah ada turun temurun dan hingga kini masih banyak dipercayai masyarakat. Namun intinya sebagai makhluk sosial, seseorang hendaknya menjaga segala sikap dan tutur kata di dalam pergaulannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Gramedia