Adu penalti menjadi cara yang dilakukan untuk menentukan pemenang dalam pertandingan sepak bola jika kedua tim bermain imbang setelah waktu normal berakhir. Adu penalti masih terus dipakai sampai sekarang karena dianggap sebagai cara yang paling adil.
Meski turnamen sepak bola internasional sudah ada sejak 1920-an, namun adu penalti baru diciptakan pada 1970-an. Adapun yang menggagas ide adu penalti ini adalah Ketua Asosiasi Sepak Bola Israel periode 1973-1982, Michael Almog.
Berdasarkan laporan yang dimuat laman FIFA Museum, ide soal adu penalti ini tercipta setelah hasil kurang memuaskan yang didapat Timnas Sepak Bola Israel di Olimpiade 1968. Kala itu Israel disingkirkan Bulgaria di babak perempat final.
Duel Israel vs Bulgaria kala itu sebenarnya berakhir imbang 1-1. Maka dari itu, penentuan pemenang dilakukan melalui undian yang diberi nama drawing of lots. Hasil undian menetapkan Bulgaria sebagai pemenang.
Baca Juga: Parah! Fans Arsenal Ditangkap Polisi Uganda, Alasannya Bikin Geleng-geleng Kepala
Israel tentu merasa diperlakukan gak adil dengan hasil undian tersebut. Perjuangan mereka terasa sia-sia karena penentuan pemenang gak dilakukan lewat permainan di atas lapangan.
Maka dari itu, pada 24 Juli 1969 Michael Almog mengirimkan proposal ke FIFA agar adu penalti diberlakukan bagi tim yang bermain imbang di waktu normal guna menentukan pemenang.
Baca Juga: BREAKING NEWS: FIFPRO Minta FIFA Intervensi Keputusan PSSI Berhentikan Liga 2 dan Liga 3
Pada 27 Juni 1970, Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) melakukan pertemuan di Inverness, Skotlandia, untuk membahas ide tersebut. Hasilnya, mereka menerima ide adu penalti itu dan masih diterapkan sampai sekarang.
Meski adu tendangan penalti juga dianggap sebagai babak untung-untungan, namun setidaknya yang menjadi penentu adalah para pemain dari kedua tim yang bertanding. Sehingga, tim yang kalah bisa menerima hasil tersebut dengan lapang dada.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: