INDOZONE.ID - Fenomena ramalan zodiak masih ramai diperbincangkan di mulai dari tongkrongan hingga media sosial. Banyak orang membaca horoskop sekadar hiburan.
Tapi dalam perspektif Islam, persoalannya tidak sesederhana itu.
Lalu, bagaimana sebenarnya Islam melihat astrologi, astronomi, dan praktik ramalan bintang?
Secara modern, astrologi didefinisikan sebagai upaya mengetahui karakter atau masa depan seseorang berdasarkan posisi benda-benda langit.
Biasanya muncul dalam bentuk horoskop atau ramalan zodiak.
Baca juga: Mengenal Zodiak Pisces: Pemimpi yang Penuh Dunia Rahasia
Baca juga: Mengenal Astrologer dan Rahasia Astrologi Tradisional, Nggak cuma Ramal Zodiak dan Cinta
Masalahnya, dalam ajaran Islam, nasib sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Allah.
Mengaitkan konstelasi bintang dengan takdir manusia dianggap melampaui batas.
Al-Qur’an secara tegas dalam surat Q.S. Al-A’raf: 188.
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Seandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan bahaya tidak akan menimpaku. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yang beriman.’”
Ayat ini menjadi prinsip dasar bahwa pengetahuan tentang hal gaib bukan ranah manusia. Termasuk klaim ramalan masa depan lewat bintang.
Al-Qur’an juga mengingatkan melalui surat Al-Jinn: 6
“Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari (kalangan) manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin sehingga mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Tarjih.or.id, Muhammadiyah