Ilustrasi laut. (photo/Ilustrasi/Pexels/Asad Photo Maldives)
INDOZONE.ID - Dunia alam memiliki cara unik untuk menghasilkan cahaya, salah satunya melalui bioluminesensi.
Bioluminesensi merupakan fenomena biologis di mana organisme tertentu menghasilkan dan memancarkan cahaya sendiri.
Proses ini terjadi berkat reaksi kimia yang berlangsung di dalam sel tubuh makhluk tersebut.
Penasaran bagaimana mekanismenya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Baca juga: Daftar Fenomena Langit Februari: Dari Bulan Salju hingga Parade Enam Planet
Dilansir dari laman NOAA Ocean Exploration, "Bio" berasal dari bahasa Yunani yang berarti kehidupan, sedangkan "lum" atau "lumin" berasal dari kata Latin "lumen" atau "lux," yang berarti cahaya.
Menurut American Oceans, bioluminesensi adalah bentuk kemiluminesensi di mana cahaya diproduksi sendiri oleh organisme hidup melalui proses kimiawi.
Cahaya yang terpancar umumnya memiliki rona biru, biru-hijau, ungu, atau hijau-kekuningan, sedangkan warna merah menjadi jenis yang paling sulit dijumpai.
Mekanisme bioluminesensi memiliki kemiripan dengan proses terjadinya api, yakni sama-sama memerlukan oksigen agar dapat berpendar.
Namun, perbedaan mendasarnya terletak pada suhu yang dihasilkan, reaksi bioluminesensi tidak melepaskan panas yang signifikan sehingga sering dijuluki sebagai 'cahaya dingin'.
Hal ini dikarenakan kurang dari 20% energinya yang terbuang menjadi radiasi termal. Sebaliknya, mayoritas energi kimia tersebut langsung dikonversi menjadi cahaya yang tampak secara efisien.
Secara teknis, bioluminesensi adalah hasil kerja enzim luciferase yang membantu luciferin bereaksi dengan oksigen secara cepat.
Menurut NOAA Ocean Exploration, luciferase bertindak sebagai katalis yang memicu oksidasi luciferin. Reaksi kimia tersebut tidak hanya menghasilkan pendaran cahaya yang memukau, tetapi juga mengubah luciferin menjadi molekul oxyluciferin.
Karena sifat enzim yang tetap stabil, luciferase dapat terus digunakan kembali untuk memicu pendaran cahaya berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NOAA Ocean Exploration