Kamis, 05 MARET 2026 • 12:47 WIB

Bawa Anak Ikut Melayat atau ke Pemakaman, Perlukah? Simak Penjelasan dan Tipsnya

Author

Ilustrasi pemakaman. (Freepik)

INDOZONE.ID - Momen pemakaman idealnya menjadi waktu bagi seluruh keluarga untuk memberikan penghormatan terakhir. Namun, keputusan untuk menyertakan anak-anak sering kali memicu keraguan bagi orang tua. 

Pada dasarnya, anak-anak diperbolehkan hadir, apalagi jika yang berpulang adalah kerabat dekat. 

Meski begitu, orang tua perlu mempertimbangkan kematangan emosional sang buah hati agar pengalaman ini tidak meninggalkan kesan negatif. 

Jika kehadiran mereka dirasa perlu, persiapan khusus yang disesuaikan dengan tahapan usia anak menjadi kunci utama.

Baca juga: 5 Arti Mimpi Berada di Pemakaman menurut Primbon Jawa, Pertanda Apa?

Anak usia tiga tahun ke atas sudah bisa diajak berdiskusi pelan mengenai apa itu pemakaman, meskipun mereka mungkin tidak langsung menangkap maknanya secara utuh. Persiapan mental ini krusial sebelum mereka benar-benar berada di lokasi. 

Berdasarkan studi dari Yale Medical, kesadaran penuh bahwa kematian itu abadi biasanya baru muncul saat anak menginjak usia 5 hingga 7 tahun. 

Di titik inilah, mereka mulai memahami bahwa orang yang meninggal dunia benar-benar telah pergi dan tidak bisa ditemui kembali.

Dalam mendiskusikan pemakaman, penting bagi orang tua untuk menyampaikannya dengan penuh kelembutan dan pengertian. 

Anak usia sekolah dasar biasanya akan sangat kritis dan melontarkan banyak pertanyaan mengenai detail prosesi yang akan mereka lihat, cobalah menjawabnya sejujur mungkin. 

Berikan pemahaman bahwa pemakaman adalah momen spesial untuk memberikan penghormatan dan mengenang perjalanan hidup mendiang. 

Sementara untuk anak pra-remaja atau remaja yang sudah memahami realitas kematian, pendekatan terbaik adalah dengan membuka ruang diskusi untuk menanyakan kondisi emosional mereka.

Dampak emosional dari sebuah kepergian sangat bergantung pada relasi anak dengan sosok yang meninggal dunia. 

Keikutsertaan dalam prosesi pemakaman dapat menjadi sarana bagi anak untuk belajar mengolah rasa duka sebagai bagian dari fase kehidupan. 

Sangat disarankan bagi orang tua untuk tetap fleksibel dan tidak memaksakan kehadiran anak jika mereka menolak. 

Perlu dipahami bahwa kegelisahan orang tua dapat bertransmisi kepada anak, sehingga komunikasi yang jujur menjadi kunci. 

Sampaikanlah bahwa perasaan duka yang kita alami adalah respons normal dan manusiawi dalam menghadapi perpisahan.

Baca juga: 5 Tradisi Pemakaman Unik di Berbagai Negara, Diwarnai Tarian hingga Menyenangkan Mendiang!

Persiapkan anak dengan menjelaskan suasana pemakaman, termasuk perilaku para pelayat yang mungkin membuat mereka bingung. 

Agar anak kecil tidak bosan atau mengganggu kekhidmatan acara, bawalah alat tulis atau buku gambar sebagai pengalih perhatian yang tenang. 

Bagi anak remaja, berikan ruang jika mereka lebih banyak diam, karena cara setiap orang merespons kehilangan tidaklah sama. 

Kuncinya adalah kejujuran dan keterbukaan, tanyakan perasaan mereka sesering mungkin dan pastikan mereka hanya hadir di pemakaman jika sudah merasa siap dan nyaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Child Mind Institute

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU