Senin, 06 APRIL 2026 • 16:30 WIB

Itungan Jowo: Cara Orang Jawa Menentukan Hari Baik Lewat Weton, Neptu, dan Primbon

Author

Ilustrasi Itungan Jowo. (Foto: Gemini AI)

INDOZONE.ID - Di tengah kehidupan yang serba cepat seperti sekarang, ternyata masih banyak orang Jawa yang tetap mempertimbangkan waktu sebelum mengambil keputusan penting. 

Mulai dari urusan menikah, pindah rumah, buka usaha, sampai menggelar acara keluarga, semuanya sering dipikirkan matang-matang, termasuk soal memilih hari.

Nah, di sinilah tradisi yang disebut itungan Jowo masih sering dipakai. Buat sebagian orang, istilah ini mungkin terdengar jadul atau kuno.

Tapi bagi masyarakat Jawa, itungan Jowo bukan sekadar hitung-hitungan biasa.

Tradisi ini sudah ada sejak lama, dan menjadi bagian dari cara orang Jawa memahami waktu, kehidupan, sekaligus keseimbangan dengan alam.

Di dalamnya ada konsep seperti weton, neptu, hingga berbagai perhitungan yang biasanya tercatat dalam primbon.

Menariknya, meskipun sekarang kita hidup di era digital, tradisi ini tetap eksis. Bahkan banyak keluarga Jawa yang masih percaya kalau memilih waktu yang tepat, bisa membawa kelancaran dalam menjalani rencana hidup.

Yuk, simak ulasannya dilansir dari YouTube/RAKET PRASAJA TV selengkapnya!

Baca juga: Tabel Hitungan Orang Meninggal Menurut Adat Jawa, Lengkap dari 40 Hari hingga 1000 Hari

Pengertian Itungan Jowo Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Secara simpel, itungan Jowo adalah cara orang Jawa menghitung hari untuk menentukan waktu yang dianggap baik atau kurang baik ketika ingin melakukan sesuatu.

Perhitungan ini menggunakan sistem kalender Jawa yang berbeda dengan kalender yang biasa kita lihat sehari-hari.

Nah, yang bikin kalender Jawa unik adalah adanya sistem pasaran. Kalau dalam kalender biasa kita hanya mengenal tujuh hari seperti Senin sampai Minggu, dalam kalender Jawa ada tambahan lima hari pasaran, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Hari biasa dan hari pasaran ini kemudian digabungkan. Dari kombinasi inilah muncul yang disebut weton.

Setiap orang punya weton berdasarkan hari lahirnya. Misalnya ada yang lahir di Senin Legi, Jumat Kliwon, atau Rabu Pahing.

Dalam budaya Jawa, weton dipercaya punya makna tersendiri. Bukan cuma menunjukkan hari lahir, tapi juga sering dikaitkan dengan karakter seseorang, perjalanan hidup, sampai kecocokan dengan orang lain.

Kalender Jawa yang Punya Sejarah Panjang

Kalau ngomongin itungan Jowo, tentu nggak bisa dilepaskan dari kalender Jawa. Kalender ini sudah dipakai masyarakat Jawa sejak ratusan tahun lalu.

Nah yang menarik, kalender Jawa sebenarnya merupakan hasil perpaduan dari beberapa sistem penanggalan.

Di dalamnya ada pengaruh dari kalender Hindu, kalender Islam, serta penyesuaian dengan tradisi lokal masyarakat Jawa.

Karena itulah, sistem kalender Jawa terasa cukup berbeda dibanding kalender yang biasa kita gunakan sekarang.

Menurut penjelasan dalam kanal YouTube/RAKET PRASAJA TV, kalender Jawa bukan hanya sekadar alat untuk mencatat tanggal.

Lebih dari itu, kalender ini juga berkaitan erat dengan cara pandang orang Jawa terhadap kehidupan dan alam semesta.

Konsep Filosofi Sangkan Dumadining Bawana

Dalam budaya Jawa, waktu tidak hanya dilihat sebagai angka yang terus berjalan. Ada filosofi yang cukup dalam di balik cara orang Jawa memahami waktu.

Salah satu konsep yang sering dibahas adalah Sangkan Dumadining Bawana. Secara sederhana, konsep ini menggambarkan pemahaman tentang asal-usul kehidupan sekaligus keteraturan alam semesta.

Dalam pandangan ini, manusia dianggap hidup berdampingan dengan alam dan kosmos. Segala sesuatu berjalan dengan pola dan keseimbangan, termasuk waktu.

Itulah sebabnya banyak orang Jawa percaya bahwa, memilih waktu yang tepat sebelum melakukan sesuatu adalah bagian dari menjaga harmoni dengan alam.

Dari konsep ini kemudian muncul berbagai sistem perhitungan waktu yang cukup detail dalam tradisi Jawa.

Baca juga: Membongkar Misteri Suku Jawa dan Suku Sunda, Mana yang Lebih Tua?

Ilustrasi Itungan Jowo. (Foto: Gemini AI)

Peran Weton dan Neptu Dalam Perhitungan

Dalam praktik itungan Jowo, ada dua istilah yang hampir selalu muncul, yaitu weton dan neptu.

Weton adalah gabungan antara hari lahir seseorang dengan hari pasarannya. Sementara neptu adalah, nilai angka yang dimiliki oleh setiap hari dan pasaran tersebut.

Setiap hari dalam kalender Jawa punya angka tertentu. Begitu juga dengan setiap pasaran.

Ketika hari dan pasaran digabungkan, angka-angka itu dijumlahkan dan menghasilkan nilai neptu weton seseorang.

Nilai inilah yang kemudian sering dipakai sebagai dasar berbagai perhitungan. Misalnya, untuk melihat kecocokan pasangan, menentukan tanggal pernikahan, atau mencari hari yang dianggap baik untuk memulai sesuatu.

Sekilas memang terlihat rumit. Tapi bagi orang yang sudah terbiasa dengan tradisi ini, perhitungan sebenarnya cukup gampang dipahami.

Menentukan Hari Baik Untuk Berbagai Keperluan

Salah satu alasan kenapa itungan Jowo masih sering dipakai adalah, karena fungsinya untuk menentukan hari baik.

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, banyak orang percaya bahwa, memulai sesuatu pada waktu yang tepat bisa membawa kelancaran.

Contoh yang paling sering adalah dalam pernikahan. Banyak keluarga yang masih menghitung weton calon pengantin sebelum menentukan tanggal pernikahan.

Selain itu, itungan Jowo juga sering digunakan ketika seseorang ingin pindah rumah, membuka usaha, atau mengadakan acara adat.

Tujuannya tentu saja untuk mencari waktu yang dianggap paling selaras, agar segala sesuatu bisa berjalan lebih lancar.

Walaupun tidak semua orang percaya sepenuhnya, tradisi ini tetap menjadi bagian dari kebiasaan yang sudah cukup melekat dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Primbon Sebagai Panduan Tradisional

Dalam berbagai perhitungan tersebut, masyarakat Jawa biasanya merujuk pada primbon.

Primbon bisa dibilang seperti kumpulan pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di dalamnya terdapat berbagai informasi. Mulai dari perhitungan hari, karakter seseorang berdasarkan weton, hingga berbagai ramalan yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Bagi sebagian orang, primbon dianggap sebagai pedoman untuk memahami berbagai tanda dalam kehidupan.

Namun di sisi lain, ada juga yang melihatnya sebagai bagian dari warisan budaya yang menarik untuk dipelajari tanpa harus dipercaya sepenuhnya.

Baca juga: Bengawan Solo: Sungai Terpanjang Sekaligus Paling Angker di Pulau Jawa yang Penuh Kisah Mistis

Ilustrasi Itungan Jowo. (Foto: Gemini AI)

Itungan Jowo bukan sekadar tradisi menghitung hari dalam kalender Jawa. Di balik perhitungan tersebut, ada cara pandang hidup masyarakat Jawa yang menekankan keseimbangan antara manusia, waktu, dan alam.

Lewat konsep weton, neptu, dan primbon, orang Jawa sejak dulu mencoba memahami bagaimana waktu bisa berpengaruh terhadap perjalanan hidup manusia.

Meski tidak semua orang mempercayainya secara mutlak, itungan Jowo tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang menarik untuk dipelajari.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi seperti ini justru mengingatkan bahwa, budaya lokal masih punya tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Bagi sebagian orang, itungan Jowo bukan hanya soal mencari hari baik. Lebih dari itu, tradisi ini juga menjadi cara untuk tetap terhubung dengan nilai-nilai budaya yang sudah diwariskan sejak zaman nenek moyang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU