INDOZONE.ID - Dalam mitologi Yunani, kita tak asing lagi dengan nama Zeus si petir atau Poseidon sang samudra.
Namun, di balik semua itu, terdapat satu sosok yang memiliki citra dan kekuatan yang tak lahir dari cahaya seperti yang lain, melainkan dari tekanan yang menyesakkan yakni Hades.
Ia berbeda dengan saudara-saudaranya, Hades merupakan anak pertama yang dilahap oleh ayahnya sendiri, Kronos.
Hades menghabiskan seumur hidupnya di dalam perut Titan yang memiliki asam korosif dan amat gelap.
Melihat dari kehidupan Hades, kita dapat memahami tentang ia yang harus bermutasi dan beradaptasi agar tetap hidup di dalam lambung si Titan tersebut.
Baca juga: Kuburan Tak Selalu Sakral, Ini Asal-usul dan Perubahannya dalam Sejarah
Hal ini menimbulkan efek yang benar-benar signifikan.
Kulitnya memucat karena tak terkena matahari, dan matanya yang telah beradaptasi untuk melihat dalam kegelapan total bak seperti kelelawar dengan Night Vision-nya.
Namun, persona yang muncul bukanlah sosok yang putus asa, hancur dan mati, melainkan The Survivor.
Penampilan fisiknya yang berbeda menjadi tanda bahwa ia telah menaklukan apa yang gagal dihadapi oleh orang lain.
Ketiadaan cahaya di dalam perut Kronos bukan hanya mengubah warna kulitnya menjadi pucat, melainkan juga mengasah dan mempertajam intuisi strategis Hades ke tingkat tinggi.
Baca juga: Menelusuri Makna Hidup Lewat Mitos: 5 Buku Nonfiksi tentang Mitologi Dunia
Di saat saudara-saudaranya sibuk meratapi nasib, Hades memilih untuk tenang dan mengamati.
Penderitaan luar biasa di masa lalu tidak mengubah Hades menjadi sosok yang jahat atau pendendam.
Sebaliknya, ia justru dikenal sebagai dewa yang paling taat pada aturan (order) dan menjaga neraca keadilan di dunia bawah.
Tak hanya taat akan aturan, ia tidak membalas dunia yang telah membuangnya, melainkan menjadi dasar fundamental bagi keseimbangan alam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber