Ilustrasi Itungan Jowo. (Foto: Gemini AI)
INDOZONE.ID - Di tengah kehidupan yang serba cepat seperti sekarang, ternyata masih banyak orang Jawa yang tetap mempertimbangkan waktu sebelum mengambil keputusan penting.
Mulai dari urusan menikah, pindah rumah, buka usaha, sampai menggelar acara keluarga, semuanya sering dipikirkan matang-matang, termasuk soal memilih hari.
Nah, di sinilah tradisi yang disebut itungan Jowo masih sering dipakai. Buat sebagian orang, istilah ini mungkin terdengar jadul atau kuno.
Tapi bagi masyarakat Jawa, itungan Jowo bukan sekadar hitung-hitungan biasa.
Tradisi ini sudah ada sejak lama, dan menjadi bagian dari cara orang Jawa memahami waktu, kehidupan, sekaligus keseimbangan dengan alam.
Di dalamnya ada konsep seperti weton, neptu, hingga berbagai perhitungan yang biasanya tercatat dalam primbon.
Menariknya, meskipun sekarang kita hidup di era digital, tradisi ini tetap eksis. Bahkan banyak keluarga Jawa yang masih percaya kalau memilih waktu yang tepat, bisa membawa kelancaran dalam menjalani rencana hidup.
Yuk, simak ulasannya dilansir dari YouTube/RAKET PRASAJA TV selengkapnya!
Baca juga: Tabel Hitungan Orang Meninggal Menurut Adat Jawa, Lengkap dari 40 Hari hingga 1000 Hari
Secara simpel, itungan Jowo adalah cara orang Jawa menghitung hari untuk menentukan waktu yang dianggap baik atau kurang baik ketika ingin melakukan sesuatu.
Perhitungan ini menggunakan sistem kalender Jawa yang berbeda dengan kalender yang biasa kita lihat sehari-hari.
Nah, yang bikin kalender Jawa unik adalah adanya sistem pasaran. Kalau dalam kalender biasa kita hanya mengenal tujuh hari seperti Senin sampai Minggu, dalam kalender Jawa ada tambahan lima hari pasaran, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Hari biasa dan hari pasaran ini kemudian digabungkan. Dari kombinasi inilah muncul yang disebut weton.
Setiap orang punya weton berdasarkan hari lahirnya. Misalnya ada yang lahir di Senin Legi, Jumat Kliwon, atau Rabu Pahing.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube