INDOZONE.ID - Banyak film horor terkenal yang mengangkat kisah nyata ke layar lebar. Ambil contoh, waralaba The Conjuring yang menjadikan kisah nyata sebagai referensi mereka.
Dalam film kedua The Conjuring, kisah horor keluarga Hodgson di Enfield, London, yang dijadikan sebagai cerita utama.
Lantas, apa yang sebenarnya dialami oleh keluarga Hodgson sehingga membutuhkan bantuan dari para pengusir roh jahat?
Kali ini, INDOZONE akan mengajak kalian untuk menelusuri misteri kerasukan Enfield, diklaim sebagai salah satu yang paling kontroversial di dunia.
Beberapa orang menyebut kisah horor ini tipuan. Akan tetapi, banyak pula yang yakin, bahwa ini adalah salah satu kasus supernatural paling menarik yang pernah didokumentasikan.
Awal Teror Dimulai
Semuanya berawal dalam sebuah rumah tua di Enfield, London, pada 1977. Peggy Hodgson, seorang ibu tunggal dengan empat anak, mendengar suara keras dari kamar tidur putrinya.
Ketika ia ingin menegur kedua putrinya, Margaret (13) dan Janet (11), agar berhenti bermain dan segera tidur, ia malah mendapati mereka meringkuk ketakutan di sudut ruangan.
"Kami bilang kepada ibu bahwa lemari laci bergerak ke arah pintu kamar," kenang Janet saat diwawancarai.
"Ibu berkata, 'Oh, jangan konyol.'"
Namun, Peggy kemudian menyaksikan sendiri bagaimana lemari itu bergerak menuju pintu. Saat ia coba mendorong, lemari itu tidak bergerak.
Dengan kekuatan penuh karena takut, mereka berlari ke rumah tetangga untuk meminta tolong. Mereka pun memutuskan untuk menelepon polisi.
Salah satu petugas mengaku melihat kursi bergerak sendiri dalam ruangan. Akan tetapi, karena tidak ada bukti kejahatan, polisi menyimpulkan ini bukan masalahnya.
Menurut keluarga Peggy, kejadian ini hanyalah awal dari teror yang akan berlangsung selama hampir 18 bulan lamanya.
Teror Berlangsung hingga Satu Setengah Tahun
"Kami tidak mengerti apa yang terjadi," kata Margaret kepada PEOPLE saat pemutaran perdana The Conjuring 2 di Los Angeles pada 2016.
"Kami mengalami masa-masa di mana kami benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sungguh menakutkan. Kami tidak suka sendirian di rumah atau apa pun," tambahnya.
Gangguan makin tak terkendali, keluarga Peggy memutuskan menghubungi tabloid Inggris Daily Mirror untuk penyelidikan. Akan tetapi, rumah menjadi sunyi hingga berjam-jam sejak reporter datang.
"Fotografer itu kembali, dan sebuah balok Lego mengenai matanya. Beberapa hari kemudian, bekasnya masih ada. Lalu, Maurice Grosse datang untuk menangani kasus itu," kata Janet, dilansir dari The Telegraph.
Society for Psychical Research (SPR) mengambil alih kasus ini dan mengirim Grosse untuk menyelidiki.
Selama tinggal di rumah tersebut, Grosse mengaku menyaksikan lebih dari 2.000 kejadian supranatural.
Perabotan terbalik, cangkir terisi air, api menyala, suara-suara, melayang, hingga tirai melilit leher adalah teror-teror yang terjadi di rumah itu.
Sampai yang paling mengejutkan, adalah ketika kerasukan yang dialami Janet. Janet sering mengalami kondisi, seperti trans dan berbicara dengan suara serak serta dalam, mengaku sebagai pria bernama Bill Wilkins.
Hingga diketahui, Bill Wilkins memang pernah tinggal di rumah itu. Dia meninggal karena pendarahan saat duduk di ruang tamu.
Janet mengaku hantu itu akan merasuki dan berbicara melalui dirinya hingga berjam-jam.
Selama 18 bulan penuh teror itu, beberapa peneliti paranormal lainnya datang ke rumah tersebut, termasuk pasangan paranormal terkenal, Ed dan Lorraine Warren.
Apakah Semuanya Nyata?
Banyak yang meragukan keaslian kisah ini. Beberapa ahli percaya, bahwa anak-anak itu hanya melakukan tipuan dan berpura-pura mengalami hal gaib.
Sebanyak dua anggota SPR bahkan mengaku pernah melihat anak-anak itu membengkokkan sendok sendiri. Mereka pun meragukan suara yang dikeluarkan Janet saat kerasukan.
Meski begitu, Janet mengaku, bahwa ia dan saudaranya memang memalsukan beberapa kejadian.
"Oh ya, sekali atau dua kali kami memalsukan fenomena, hanya untuk melihat apakah Tn. Grosse dan Tn. Playfair akan menangkap kami," ujar Janet, melansir Daily Mail.
Ia kemudian memberi pernyataan kepada media, bahwa hanya dua persen kejadian yang dipalsukan.
Bahkan, setelah sekian lama, Janet dan Margaret masih memiliki trauma yang membekas.
Baca Juga: Kisah Mistis Gunung Gede: Teror Sosok Bayangan Hitam Menyeramkan di Tengah Malam
"Setiap langkahnya ini seperti kematian. Seiring waktu mungkin terasa lebih mudah, tapi ketakutan dan kenangan tentang apa yang terjadi tidak akan pernah hilang," ujar Margaret, di pemutaran perdana The Conjuring 2 di LA pada 2016.
Anak-anak itu kini sudah berkeluarga dan hidup dengan nyaman. Bagi mereka, pengalaman di Enfield tidak ingin diulang.
Sementara itu, ibu mereka, Peggy, telah meninggal karena kanker payudara pada 2003.
Penulis: Eliani Kusnedi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: People.com