Senin, 13 JULI 2026 • 18:05 WIB

Mengenal Pesugihan: Asal-Usul, Jenis, hingga Alasan Orang Menempuh Jalan Mistis demi Harta

Author

Ilustrasi persugihan. (freepik)

INDOZONE.ID - Di tahun 2026, cara mencari uang semakin beragam. Mulai dari menjadi kreator konten, berjualan lewat live shopping, memanfaatkan AI, hingga berinvestasi secara digital. 

Namun, di tengah banyaknya peluang tersebut, masih ada satu cara yang terus menjadi bahan perbincangan karena dianggap bisa mendatangkan kekayaan secara instan: pesugihan.

Meski terdengar seperti kisah zaman dulu, praktik pesugihan ternyata masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. 

Cerita tentang ritual, perjanjian dengan makhluk gaib, hingga syarat-syarat tertentu untuk memperoleh kekayaan masih kerap muncul dan memicu rasa penasaran publik.

Baca juga: Cerita Mistis Aktris Era saat Syuting Horor, Ada Suara Anak Kecil Menangis?

Lantas, mengapa kepercayaan terhadap pesugihan tetap bertahan di era serba modern? Benarkah praktik ini hanya sebatas mitos, atau ada alasan sosial dan budaya yang membuatnya terus hidup dari generasi ke generasi?

Mengapa Orang Tertarik pada Pesugihan?

Dalam kehidupan saat ini, uang memegang peranan yang sangat penting. Hampir seluruh kebutuhan, mulai dari kebutuhan dasar hingga status sosial, berkaitan erat dengan kondisi finansial seseorang.

Tekanan ekonomi, tuntutan gaya hidup, hingga keinginan memperoleh kesejahteraan membuat banyak orang berusaha mencari berbagai cara untuk meningkatkan penghasilannya. 

Mayoritas tentu memilih jalur yang wajar melalui pekerjaan, bisnis, atau investasi. Namun, ada pula yang meyakini bahwa kekayaan bisa diraih melalui bantuan kekuatan supranatural, yang dikenal sebagai pesugihan.

Baca juga: 5 Buku Terlarang yang Dikaitkan dengan Dunia Gaib, Kisahnya Bikin Merinding!

Dari sudut pandang sosial, pesugihan dapat dipahami sebagai salah satu bentuk strategi manusia dalam menghadapi tekanan ekonomi dan keinginan untuk memperoleh kehidupan yang lebih mapan.

Kepercayaan Mistis Ternyata Tidak Hilang Meski Zaman Sudah Modern

Pemikiran tersebut sejalan dengan pandangan filsuf budaya C.A. van Peursen yang membagi perkembangan masyarakat menjadi tiga fase, yakni tahap mitis, ontologis, dan fungsional.

Pada tahap mitis, manusia memandang berbagai peristiwa sebagai bagian dari campur tangan kekuatan gaib. 

Sementara pada tahap ontologis, manusia mulai mengandalkan akal dan analisis untuk memahami dunia. 

Baca juga: Gunung Kawi Dikenal Mistis, Ini Deretan Gunung Lain yang Punya Kisah Serupa!

Adapun tahap fungsional menggambarkan masyarakat modern yang lebih menekankan hubungan, fungsi, dan rasionalitas.

Meski demikian, perkembangan tersebut tidak berarti cara berpikir mistis benar-benar hilang. Dalam masyarakat modern sekalipun, masih ditemukan individu yang mempercayai praktik-praktik supranatural sebagai solusi atas berbagai persoalan, termasuk persoalan ekonomi.

Mengenal Dua Jenis Pesugihan yang Sering Dibicarakan

Dalam berbagai literatur dan cerita yang berkembang di masyarakat, pesugihan umumnya dibedakan menjadi dua kategori.

1. Pesugihan Putih

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memperoleh kekayaan melalui profesi, keterampilan, usaha, serta kerja keras yang dimilikinya.

Baca juga: 5 Jenis Bau Pertanda Genderuwo Ada di Sekitarmu, Konon Katanya!

Seorang dokter, pengusaha, petani, pedagang, maupun pekerja profesional lainnya memperoleh penghasilan dari kemampuan dan pekerjaannya tanpa melibatkan unsur gaib ataupun praktik yang merugikan orang lain.

Meski menggunakan istilah “pesugihan”, kategori ini sebenarnya merujuk pada keberhasilan ekonomi yang diperoleh secara wajar dan bertanggung jawab.

2. Pesugihan Hitam

Berbeda dengan kategori sebelumnya, pesugihan hitam dikaitkan dengan keyakinan adanya kerja sama dengan kekuatan gaib demi memperoleh kekayaan secara instan.

Dalam berbagai cerita rakyat, praktik ini dipercaya melibatkan perjanjian tertentu, syarat-syarat khusus, hingga pengorbanan atau tumbal. Karena itulah pesugihan hitam sering dikaitkan dengan risiko besar, baik secara spiritual maupun sosial.

Baca juga: Pernah Mengalami Deja Vu? Ini Penjelasannya

Kepercayaan ini juga melahirkan berbagai kisah tentang pedagang atau pelaku usaha yang diduga menggunakan bantuan supranatural agar dagangannya selalu ramai, meskipun klaim semacam ini tidak memiliki bukti ilmiah dan lebih banyak berkembang sebagai bagian dari kepercayaan masyarakat.

Unsur-Unsur yang Kerap Dikaitkan dengan Praktik Pesugihan

Dalam cerita yang beredar di berbagai daerah di Indonesia, praktik pesugihan biasanya dikaitkan dengan sejumlah unsur berikut:

  1. Adanya orang yang mengajukan permohonan atau menjadi pelaku ritual.
  2. Lokasi yang dianggap memiliki kekuatan spiritual, seperti gunung, gua, makam, atau tempat ziarah tertentu.
  3. Ritual khusus, misalnya meditasi, doa-doa tertentu, sesajen, atau tata cara yang dipercaya memiliki makna spiritual.
  4. Penggunaan benda yang dianggap bertuah, seperti jimat.
  5. Kepercayaan mengenai adanya makhluk gaib sebagai perantara.
  6. Adanya kesepakatan atau syarat tertentu yang diyakini harus dipenuhi selama masa perjanjian berlangsung.

Baca juga: Cerita Pesugihan Gunung Kawi: Kekayaan Mendadak Berujung Kematian Misterius Keluarga Terdekat

Seluruh unsur tersebut merupakan bagian dari kepercayaan yang berkembang dalam tradisi masyarakat dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Fenomena Budaya yang Masih Menjadi Perbincangan

Terlepas dari benar atau tidaknya kepercayaan terhadap pesugihan, fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan persoalan ekonomi tidak hanya dipengaruhi faktor rasional, tetapi juga budaya, tradisi, dan sistem kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah kehidupan yang semakin modern, kisah-kisah tentang pesugihan tetap bertahan sebagai bagian dari folklor dan budaya populer Indonesia. 

Baca juga: 8 Lokasi Angker di Jakarta yang Terkenal Lewat Legenda Urban: Pernah Diangkat Jadi Film

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tekanan ekonomi sering kali membuat sebagian orang mencari berbagai jalan untuk memperoleh kehidupan yang dianggap lebih baik, termasuk melalui kepercayaan yang bersifat mistis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Unpar

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU