INDOZONE.ID - Pagi itu cerah ketika tiga sahabat yaitu Bagas, Dika, dan Dimas yang bersiap melakukan perjalanan yang sudah mereka rencanakan sejak lama. Ketiganya punya minat sama: suka tantangan dan hal-hal berbau mistis.
Tujuan mereka kali ini bukan tempat sembarangan, tapi Alas Purwo, hutan legendaris di ujung timur Pulau Jawa yang terkenal karena aura angkernya.
Setelah mempersiapkan tenda dan perlengkapan berkemah, mereka berangkat naik motor. Awalnya, perjalanan terasa menyenangkan.
Tapi makin mendekati kawasan hutan, suasananya berubah sunyi dan berat. Di sebuah perkampungan kecil, mereka berhenti sebentar buat beli minum dan bertanya arah.
Baca juga: Kisah Mistis Cermin Keramat: Rahasia di Balik Kecantikan Abadi Mbok Sari
Seorang bapak tua di depan warung kopi menatap mereka dengan tatapan aneh. Begitu tahu mereka mau bermalam di Alas Purwo, wajahnya langsung serius.
“Nak, kalian yakin mau ke sana? Itu bukan tempat buat sembarang orang. Jangan sombong sama alam,” ucapnya pelan.
Bagas dan Dimas mengangguk sopan, tapi Dika malah senyum santai. “Tenang, Pak. Kami cuma mau camping. Nggak bakal ganggu siapa-siapa,” jawabnya enteng.
Bapak itu cuma geleng pelan sebelum menutup percakapan dengan kalimat yang masih terngiang di kepala Bagas, “Jangan ambil sesuatu yang bukan milik kalian.”
Yuk simak kisah mistis gadis alas purwo diansir dari YouTube @OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!
Baca juga: Kisah Mistis Perjamuan Arwah: Saat Jamuan Keluarga Berubah Jadi Ritual Kematian
Malam Pertama: Api Unggun dan Sosok Bergaun Merah
Sore menjelang malam, mereka akhirnya sampai di titik yang dianggap cocok buat mendirikan tenda. Angin Alas Purwo mulai terasa dingin dan suara binatang malam makin ramai. Meski begitu, Dika tetap santai, bahkan bercanda soal “cewek cantik dari alam lain”.
“Jangan asal ngomong, Dik. Ini bukan tempat biasa,” tegur Bagas. Tapi Dika cuma tertawa, sama sekali nggak peduli.
Saat malam makin larut, api unggun mulai redup. Bagas dan Dimas sudah masuk tenda, tapi Dika masih duduk di luar sambil menatap hutan.
Saat itulah dia melihat sosok gadis bergaun merah berdiri di antara pepohonan. Rambutnya panjang, wajahnya samar, tapi tubuhnya jelas terlihat dalam cahaya bulan.
Bukannya takut, Dika malah penasaran. “Eh, sendirian aja?” bisiknya pelan.
Gadis itu diam, cuma tersenyum tipis. Dika berdiri, melangkah mendekat. Tapi setiap kali dia maju, gadis itu mundur ke dalam gelap.
Sampai akhirnya mereka berhadapan cukup dekat. Senyum gadis itu tiba-tiba berubah jadi senyum lebar yang nggak wajar. Matanya hitam pekat tanpa cahaya. Hawa sekitar langsung dingin banget, angin berputar kencang, dan api unggun padam.
Sebuah bisikan halus terdengar di telinga Dika. “Aku sudah menunggumu…”
Dika terperanjat, tubuhnya kaku. Bagas mengguncang bahunya kuat-kuat, “Dik! Sadar, Dik!”
Dika membuka mata. Gadis itu sudah hilang, tapi aroma manis aneh masih tercium. Seolah sesuatu darinya belum benar-benar pergi.
Bayangan yang Mengikuti
Keesokan harinya, Dika terlihat beda. Ia diam, sering senyum sendiri, dan menatap kosong ke arah pepohonan.
Dimas mulai curiga. “Lu liat dia nggak? Seperti ngomong sama orang, padahal sendirian,” bisiknya ke Bagas.
Bagas cuma mengangguk. Tapi tiba-tiba Dika menoleh ke mereka dengan tatapan aneh. “Dia di sini, kok. Duduk di sebelah gue,” katanya datar.
Hawa di sekitar mendadak dingin. “Dik, nggak ada siapa-siapa di situ,” ucap Dimas gugup. Dika terkekeh, “Kalian aja yang nggak bisa lihat.”
Baca juga: Misteri Alas Purwo Banyuwangi, Mengungkap Kisah-Kisah Legendaris di Hutan Tertua Pulau Jawa
Saat Bagas nekat menepuk bahunya, Dika menatapnya tajam. Lehernya miring, dan suaranya berubah berat. “Dia bilang kalian nggak sopan. Harusnya kalian nggak ganggu kami.”
Suara itu bukan lagi suara Dika. Bagas dan Dimas terpaku ketakutan. Dika berdiri, lalu berjalan ke arah hutan dalam keadaan mata kosong.
Di balik cahaya bulan, terlihat jelas gadis bergaun merah itu berjalan di sampingnya, menggandeng tangannya menuju kegelapan.
Teror dari Dalam Hutan
Tanah di bawah kaki Bagas tiba-tiba bergoyang. Dari dalamnya muncul tangan-tangan pucat mencengkeram pergelangan kakinya. Ia berteriak panik. Dimas berusaha menariknya, tapi tawa aneh terdengar dari arah depan.
Dika berdiri di kejauhan, matanya kosong. Dari mulutnya keluar suara perempuan parau, “Kalian tidak bisa mengambilnya dariku.”
Udara berubah berat, bau anyir darah menyebar. Dika menjerit atau mungkin bukan dia lagi yang berteriak.
Bagas dan Dimas lari sekuat tenaga, menembus gelapnya Alas Purwo, tapi arah mana pun yang mereka pilih terasa sama.
Di depan mereka, muncul gadis bergaun merah itu lagi. Tapi kini gaunnya basah darah, kulitnya retak, dan mulutnya robek sampai ke telinga. “Milikku…” katanya pelan tapi menggema di seluruh hutan.
Tawa panjang terdengar di balik pepohonan. Suara manusia yang entah masih hidup atau sudah mati.
Baca juga: Kisah Mistis Sesaji Panen: Sawah, Santet, dan Rahasia Salah Satu Desa Misteri di Jawa Tengah
Sejak malam itu, Dika nggak pernah ditemukan. Bagas dan Dimas pulang dengan trauma mendalam.
Tapi warga sekitar Alas Purwo masih sering bilang, kadang, di malam tertentu, mereka mendengar tawa pelan dari dalam hutan, diiringi aroma manis samar.
Konon, itu tanda kalau Gadis Alas Purwo masih mencari seseorang baru untuk menemaninya di dunia sana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube