INDOZONE.ID - Pagi di Desa Cipesing, biasanya penuh suara burung dan anak-anak yang berlarian ke warung.
Tapi sejak awal Juli lalu, suasana desa berubah mencekam setelah mencuat kisah mistis gerobak jajanan milik Mang Komar, penjual cilok dan serabi legendaris tiba-tiba terlihat berjalan sendiri tanpa ada yang mendorong.
Warga yang awalnya mengira ini cuma lelucon, lalu sadar bahwa ada misteri besar di balik hilangnya Mang Komar.
Yuk, simak kisah mistis gerobak misterius dilansir dari YouTube @Cahaya Sore selengkapnya!
Baca juga: Kisah Mistis Warung Kopi di Bawah Flyover Jakarta: Ada Sosok Hantu Minta Keadilan
Hilangnya Penjual Jajanan Kesayangan Anak-anak
Mang Komar sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Cipesing. Ia dikenal ramah dan selalu bikin anak-anak ketawa. Setiap pagi, suara roda gerobak kayunya jadi penanda hari dimulai.
Namun, Senin pekan kedua Juli, kali terakhir Mang Komar terlihat oleh warga. Ia sempat ngobrol sebentar dengan Pak RW sebelum mendorong gerobaknya seperti biasa. Setelah itu, ia menghilang begitu saja.
Menjelang siang, anak-anak menunggu di depan rumah, tapi suara gerobak yang biasanya berderit tidak muncul.
Sampai akhirnya, gerobak biru pudar itu tiba-tiba meluncur sendiri di jalan tanah. Tidak ada Mang Komar. Tidak ada siapa-siapa.
Gerobak Pulang Sendiri
Pak RW sempat menghadang gerobak itu. Isinya masih lengkap, mulai cilok, serabi, apem, bahkan masih hangat. Tapi Mang Komar lenyap tanpa jejak. Gerobak lalu disimpan di balai desa.
Malam harinya, penjaga desa, Pak Didi, mendengar suara roda kayu dari arah gudang tempat gerobak disimpan.
Saat diperiksa, tutup gerobak terbuka sendiri, seolah ada tangan yang membukanya dari dalam. Sejak itu, keanehan demi keanehan terus terjadi.
Jajanan misterius muncul di depan rumah warga. Gerobak yang sudah dikunci rapat bisa berpindah sendiri ke tempat biasa Mang Komar berjualan.
Anak-anak bahkan menemukan kue cenil yang katanya diberikan langsung oleh sosok Mang Komar.
Baca juga: Kisah Mistis Sesajen di Meja Kasir: Warung Ramai, tapi yang Jaga Bukan Manusia
Pesan dari Dunia Lain
Ketegangan di desa semakin memuncak ketika sebuah kertas kecil ditemukan di dalam bungkus jajanan.
Tulisannya samar, “Kalau bisa tolong bawa gerobak ini ke tempat saya biasa duduk di belakang sekolah. Saya kangen mereka.”
Warga pun menuruti pesan itu. Gerobak didorong ke bawah pohon beringin di belakang sekolah, tempat Mang Komar biasa mangkal.
Saat doa dibacakan, tutup gerobak terbuka sendiri dan aroma jajanan menyeruak. Anak-anak menangis haru, merasa Mang Komar masih ada bersama mereka.
Malam itu juga, asap tipis naik dari gerobak dan perlahan menghilang di langit senja. Seolah Mang Komar benar-benar berpamitan.
Surat yang Mengungkap Segalanya
Beberapa minggu setelah kejadian, seorang keponakan jauh Mang Komar datang membawa sepucuk surat lama. Isinya bikin bulu kuduk berdiri,
“Kalau suatu hari nanti gerobak ini pulang sendiri, tolong jangan panik. Itu artinya saya sedang menyelesaikan sesuatu. Kalau memang tak kembali, saya titip gerobak ini untuk anak-anak. Biarkan tetap di kampung, di situ hati saya tinggal.”
Sejak surat itu dibacakan, warga berhenti merasa takut. Gerobak Mang Komar kini diletakkan permanen di bawah pohon beringin belakang sekolah, menjadi semacam monumen kecil untuk mengenang jasanya.
Baca juga: Pesugihan Warung Bakso Rasa Neraka: Ketika Sedekah Menutupi Darah yang Bikin Merinding
Kini, anak-anak sering membersihkan gerobak itu setiap Jumat sore. Bahkan sekolah mengadakan lomba membuat jajanan tradisional sebagai cara melestarikan memori tentang Mang Komar.
Meski Mang Komar tidak pernah ditemukan, warga percaya ia tidak benar-benar pergi. Setiap kali ada cenil atau serabi yang tiba-tiba muncul di dekat gerobak, mereka yakin itu adalah hadiah kecil dari seseorang yang selalu ingin melihat anak-anak bahagia.
Bagi warga Cipesing, gerobak biru pudar itu bukan sekadar peninggalan. Ia adalah pengingat bahwa ada orang sederhana yang hidupnya didedikasikan untuk tawa kecil anak-anak.
Nah mungkin, sampai sekarang, Mang Komar masih setia menjaga desanya dengan caranya sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube