7 Ciri Pesugihan Bulus Jimbung, Salah Satunya Punya Kolor Hitam Misterius dari Sendang Angker
INDOZONE.ID - Kalau ngomongin dunia mistis, Jawa selalu punya kisah mistis yang bikin merinding sekaligus bikin penasaran. Salah satunya adalah kisah pesugihan Bulus Jimbung.
Bukan cuma soal harta instan yang tiba-tiba ngalir deras, tapi juga soal harga yang harus dibayar.
Nah kali ini, kisah Tukino, seorang penjual kolor di Pasar Jimbung, jadi potret nyata bagaimana sebuah pesugihan bisa mengubah hidup seseorang.
Yuk simak ciri-ciri pesugihan bulus jimbung yang dialami Tukino dilansir dari YouTube @BAKAL MATI selengkapnya!
Baca juga: Pesugihan Bulus Jimbung: Berawal dari Mimpi Jadi Janji Harta dari Sendang Mistis di Klaten
Kehidupan Tukino yang Sepi dan Tragis
Di tengah hiruk-pikuk Pasar Jimbung, nama Tukino hampir nggak pernah disebut. Ia hanya penjual kolor murahan yang digelar di tikar plastik usang, di sudut pasar yang becek.
Tidak ada yang spesial, tidak ada yang mencolok. Hidupnya sederhana, bahkan cenderung nestapa.
Rumahnya di pinggiran Dusun Lengkong pun sama mengenaskannya. Sebuah gubuk reyot berdinding papan lapuk dan atap seng berkarat. Tukino hidup sendirian setelah ditinggal istri dan kehilangan anaknya. Dari situ, ia benar-benar jadi sosok yang murung dan tertutup.
Kegagalan demi kegagalan dalam berdagang bikin dia makin terpuruk. Sampai akhirnya, pada satu malam Jumat Kliwon, Tukino memutuskan sesuatu yang nggak pernah dia bayangkan sebelumnya: mendatangi sendang keramat Bulus Jimbung.
Sendang Angker dan Awal Perjanjian Gelap
Sendang Bulus Jimbung terkenal sebagai tempat angker yang katanya jadi sarang pesugihan.
Orang-orang percaya kalau datang ke sana dengan sesajen, mereka bisa dapet kekayaan. Tapi tentu ada harga yang harus dibayar dan harga itu bukan sekadar uang.
Malam itu Tukino membawa sesajen sederhana yaitu kopi pahit, bunga tujuh rupa, rokok, dan seekor ayam hidup.
Saat darah ayam menetes ke air sendang, permukaan yang tadinya tenang tiba-tiba beriak. Dari dalamnya muncul seekor bulus raksasa dengan mata merah menatap Tukino.
Tanpa kata-kata, makhluk itu menawarkan perjanjian. Tukino hanya bisa mengangguk. Nah saat itu juga, sebuah celana kolor hitam muncul dari air, jatuh tepat di depannya. Kolor itu jadi simbol ikatan antara Tukino dan pesugihan Bulus Jimbung.
Kolor Hitam yang Jadi Sumber Kaya dan Bencana
Sejak hari itu, hidup Tukino berubah drastis. Dagangan kolornya laris manis. Bahkan orang-orang rela bayar lebih mahal hanya untuk beli dagangan yang sama-sama terlihat biasa. Tapi ada satu hal yang bikin berbeda yaitu kolor hitam dari sendang itu.
Kolor tersebut disimpan rapat-rapat oleh Tukino. Setiap kali ia merendam satu kolor di air sendang, barang itu selalu jadi rebutan di pasar.
Orang yang membelinya mengaku hidupnya berubah: ada yang mendadak sukses, ada yang sembuh dari penyakit, ada yang tiba-tiba dapat rezeki tak terduga.
Nama Tukino pun mulai naik daun. Dari seorang penjual kolor yang kesepian, ia jadi pedagang yang disegani.
Uang mengalir deras, rumahnya direnovasi, hidupnya terlihat jauh lebih mapan. Tapi tentu saja, semua itu datang dengan bayaran yang nggak kecil.
Baca juga: Dampak Pesugihan 'Bulus Jimbung': Dari Sajen sampai Kontrak Gaib yang Merenggut Nyawa
Tanda-Tanda Pesugihan Mulai Menagih
Semakin hari, semakin banyak hal aneh terjadi. Suara-suara bisikan muncul di rumahnya, ayam tetangga mati dengan cara misterius, bahkan warga mulai melihat hal-hal ganjil di sekitar rumah Tukino.
Nah yang lebih mengerikan, beberapa orang yang membeli kolor darinya jatuh sakit atau bahkan meninggal dengan kondisi aneh.
Ada yang ditemukan dengan tangan mencengkeram kolor hitam erat-erat. Ada juga yang hilang begitu saja setelah beli dari Tukino.
Lambat laun, warga mulai menghindarinya. Tapi anehnya, pembeli dari luar desa justru semakin ramai. Kolor Tukino dijuluki "kolor keberuntungan" yang dipercaya bisa membawa rezeki instan.
Ciri-Ciri Pesugihan Bulus Jimbung
Dari kisah Tukino, ada beberapa ciri khas yang sering muncul dalam cerita pesugihan Bulus Jimbung:
1. Ritual biasanya dilakukan pada malam tertentu, terutama Jumat Kliwon.
2. Sesajen berupa kopi pahit, rokok, bunga, ayam, atau bahkan tumbal lain ditujukan untuk makhluk gaib di sendang.
3. Ada benda sakral sebagai perantara, dalam kasus Tukino adalah kolor hitam.
4. Rezeki memang datang deras, tapi selalu diikuti kejadian aneh atau musibah.
5. Ada harga yang harus dibayar, biasanya berupa nyawa atau kebahagiaan orang terdekat.
6. Tanda-tanda gaib mulai muncul di rumah atau kehidupan pelaku: suara langkah, bayangan, atau mimpi buruk yang jadi kenyataan.
7. Semakin lama, tuntutan makhluk pesugihan makin besar, bahkan bisa meminta tumbal manusia.
Akhir Tragis Tukino
Pada akhirnya, pesugihan itu menuntut balasan lebih besar. Tukino mulai dihantui mimpi mengerikan, tubuhnya makin kurus, dan pikirannya makin kacau. Hingga pada suatu malam, ia kembali ke sendang membawa sesajen terakhir.
Namun, bukan harta yang ia dapatkan, melainkan kematiannya sendiri. Warga hanya menemukan sandalnya di tepi sendang. Mayatnya tidak pernah ditemukan.
Anehnya, setelah kepergian Tukino, kiriman kardus berisi kolor misterius masih terus muncul di pasar.
Baca juga: Pesugihan Bulus Putih: Kaya Tanpa Logika, Mati Tanpa Peringatan
Pesugihan Bulus Jimbung bukan sekadar cerita mistis buat nakut-nakutin orang desa. Dari kisah Tukino, kita bisa lihat gimana keinginan untuk cepat kaya bisa bikin orang terjerumus dalam jalan gelap.
Ciri-ciri pesugihan ini selalu sama yaitu ada rezeki instan, tapi selalu dibayar dengan hal yang jauh lebih mahal yaitu jiwa, keluarga, bahkan nyawa.
Jadi, kalau suatu saat kamu dengar cerita soal kolor hitam dari Jimbung, jangan cuma ketawa.
Bisa jadi itu bukan sekadar mitos, tapi peringatan. Karena dalam dunia pesugihan, semua yang datang pasti ada harganya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube