INDOZONE.ID - Pelaporan komedian Pandji Pragiwaksono ke kepolisian mencerminkan ancaman baru terhadap ruang ekspresi publik di tanah air.
Meski identitas pelapor belum dikonfirmasi oleh pengurus pusat NU maupun Muhammadiyah, penggunaan pasal-pasal KUHP baru terhadap pertunjukan "Mens Rea" yang dibawakan Pandji terus bergulir.
Tuduhan penodaan agama dan penghasutan yang dialamatkan kepada Pandji dipandang sebagai bentuk kriminalisasi yang dipaksakan.
Padahal, bagi banyak pakar, stand-up comedy yang dibawakannya berfungsi sebagai instrumen literasi politik guna memicu daya kritis warga.
Baca juga: Komedian Matt Rife Beli Museum Paranormal Ed dan Lorraine Warren hingga Boneka Annabelle
Memidanakan sebuah karya seni bukanlah perkara mudah, pakar hukum menilai sulit untuk membuktikan adanya niat jahat di balik kritik artistik.
Meski begitu, perseteruan antara komedian dan hukum ini bukanlah hal baru, melainkan pengulangan sejarah kelam dari Amerika Serikat dekade 60-an, yakni Lenny Bruce (nama panggung Leonard Alfred Schneider), sosok yang rela mengorbankan karier dan hidupnya dalam pertempuran hukum, yang kemudian menjadi fondasi bagi kebebasan berekspresi para komika di era modern.
Bruce, Komedian "Sakit" penembus tabu tumbuh dalam asuhan ibu tunggal sejak 1925, masa muda Bruce diwarnai kenekatan. Ia bergabung dengan Angkatan Laut AS pada 1942 dan bertugas di kancah perang dunia, sebelum akhirnya keluar dari dinas militer pada 1945 melalui aksi penyamaran lintas busana yang kontroversial.
Karier komedinya dimulai dari klub-klub kecil di New York dan New Jersey pada 1947, yang awalnya hanya berisi lelucon standar dan peniruan suara sebelum akhirnya berubah menjadi "komedi avant-garde" yang konfrontatif.
Bruce dikenal tak pernah bermain aman. Melalui sketsa Religions, Inc., ia mengejek institusi agama sebagai mesin bisnis yang mengejar keuntungan.
Kesuksesannya menjual habis pertunjukan di Carnegie Hall pada 1961 justru diikuti gelombang penangkapan di berbagai kota, mulai dari Philadelphia hingga New York, dengan tuduhan kecabulan dan ujaran kasar.
Di Chicago, polisi bahkan mengancam penangkapan massal jika ia menyinggung Paus.
Bagi media saat itu, ia adalah "komedian sakit," tetapi bagi Bruce, ia hanyalah seorang pengamat jujur yang mempertanyakan mengapa kata-kata tertentu dianggap kriminal sementara ketidakadilan nyata dibiarkan.
Tekanan hukum yang kian intens turut menyeret kehidupan personal Bruce ke ruang publik. Pasca perceraian dengan penari telanjang yang dikenal sebagai “Hot” Honey Harlowe pada 1957, ia harus bertahan hidup sambil membesarkan putrinya, Kitty, di tengah rentetan perkara narkoba dan berbagai bentuk pembatasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: National Geographic