Ilmuwan Temukan Jejak Wabah Pes Tertua Berusia 5.500 Tahun, Patahkan Teori yang Selama Ini Diyakini
INDOZONE.ID - Peneliti menemukan jejak wabah pes tertua yang pernah diketahui. Laporannya dimuat dalam Jurnal Nature pada 17 Juni 2026. Temuan ini sekaligus mematahkan keyakinan di kalangan ilmuwan selama ini.
Jejak wabah pes ditemukan di situs pemakaman kuno di Sekitar Danau Baikal, Siberia, yang berusia 5.500 tahun. Yang menarik, pemakaman itu berasa dari Masa Berburu dan Meramu.
“Kami sama sekali tidak menduga hasil ini,” kata arkeolog Ruairidh Macleod dari Universitas Oxford.
Selama ini ilmuwan meyakini wabah pes baru muncul setelah manusia tinggal menetap. Wabah pes juga dipercaya hanya menyebar di lingkungan padat penduduk.
Baca juga: Siapa Penemu Mesin Cetak? Mengenal Johannes Gutenberg dan Penemuan yang Mengubah Peradaban Dunia
Penemuan di Siberia malah menunjukkan bahwa masyarakat pemburu-meramu juga berisiko terkena wabah pes, jauh sebelum manusia mengenal sistem pertanian dan mulai tinggal menetap.
Macleod dan timnya menemukan makam anak-anak dalam jumlah yang tidak biasa di situs pemakaman dekat Danau Baikal. Mereka pada awalnya belum memahami alasan banyak makam anak-anak di sana.
Jawabannya baru diperoleh setelah peneliti melakukan analisis DNA dari sisa-sisa jasad itu. Semula, mereka menduga jasad-jasad itu punya hubungan keluarga-yang bisa menjelaskan kenapa mereka dimakamkan di lokasi yang sama.
Namun, uji sains membantah perkiraan itu. Tes DNA terhadap 46 orang dari empat situs pemakaman justru menemukan fakta bahwa 18 dari mereka telah terinfeksi Yersinia pestis ketika meninggal.
Baca juga: Budidaya Sawit, Kelapa dan Kedelai Bekontribusi pada Hilangnya 75 Persen Keanekaragaman Hayati
Yersinia pestis merupakan bakteri penyebab wabah pes. Jasad yang terkonfirmasi mengidap pes juga dimakamkan di kuburan massal bersama yang lain.
Bagi peneliti, ini merupakan indikasi bahwa mereka dikuburkan secara tergesa-gesa. Peneliti juga menduga situs pemakaman hanya digunakan sekali untuk pemakaman penderita pes.
Temuan di Siberia, sejauh ini, telah menjadi bukti wabah pes tertua. Sebelumnya, bukti wabah pes tertua ditemukan di sebuah makam tunggal di Latvia; dan sebuah makam massal di situs pertanian Neolitikum di Swedia, yang keduanya berusia sekitar 5.000 tahun lalu.
Dua situs itu yang membuat para ilmuwan beranggapan bahwa wabah pes baru menjadi ancaman mematikan bagi komunitas manusia setelah mereka mulai bertani dan tinggal berdekatan.
Baca juga: Studi: Gempa 2011 Menggeser Seluruh Wilayah Jepang ke Arah Timur
Kondisi tersebut dianggap sebagai ekosistem ideal bagi kemunculan tikus dan kutu dalam jumlah besar sebagai penyebar pes.
Namun, bukti dari Danau Baikal menunjukkan hal yang sebaliknya. Sumber pes yang paling mungkin pada Periode Berburu dan Meramu ialah marmot, hewan pengerat besar penggali tanah yang hidup berdampingan dengan para manusia dan merupakan inang alami dari Y. pestis.
Nicolás Rascovan, ahli biologi molekuler di Institut Pasteur di Paris yang memimpin penelitian tentang infeksi kuno Y. pestis di Swedia, mengatakan bahwa temuan Danau Baikal adalah “bukti nyata adanya wabah di zaman prasejarah yang membantah gaya hidup agraris sebagai faktor pendorong utama munculnya wabah pes.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Sciencenews.org