INDOZONE.ID - Tragedi kecelakaan pesawat Jeju Air pada 29 Desember 2024 menjadi salah satu peristiwa memilukan dalam sejarah penerbangan Korea Selatan.
Pesawat Boeing 737-800 yang mengangkut 181 orang, termasuk 175 penumpang dan 6 awak kabin, jatuh saat mendarat di Bandara Muan akibat kerusakan roda pendaratan.
Penyebabnya adalah tabrakan dengan kawanan burung (bird strike) dan cuaca buruk.
Dari seluruh penumpang dan awak, hanya dua orang pramugari yang berhasil selamat.
Namun, selamatnya kedua pramugari ini bukannya membawa rasa syukur atau empati dari publik, justru memicu gelombang kritik tajam dan tekanan psikologis yang sangat berat terhadap mereka.
Baca Juga: Mengenal Budaya Duka di Korea: Ini yang Dilakukan Usai Kecelakaan Pesawat Jeju Air
Dituduh Egois oleh Publik
Melalui media sosial, korban selamat Jeju Air menghadapi serangan masif dari netizen.
Mereka dituduh egois karena berhasil menyelamatkan diri di tengah tragedi yang merenggut nyawa 179 orang lainnya.
Tuduhan ini semakin diperparah dengan komentar-komentar yang menuding mereka tidak peduli dengan nasib penumpang lain dan hanya fokus menyelamatkan diri.
Kondisi ini mencerminkan realitas suram di Korea Selatan, yang saat ini tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat kasus perundungan tertinggi di dunia.
Para netizen, tanpa memahami detail kejadian, dengan mudah menyalahkan korban selamat dalam insiden besar.
Ancaman untuk Bunuh Diri sebagai "Kompensasi"
Selain itu, korban selamat Jeju Air dihujat oleh netizen tak bertanggungjawab.
Tidak hanya berupa komentar, tetapi juga ancaman serius terhadap korban kecelakaan Jeju Air beserta keluarga mereka.
Beberapa pihak bahkan secara terang-terangan menuntut mereka untuk bunuh diri sebagai bentuk "kompensasi" atas tragedi tersebut.
Tekanan yang mengarah kepada korban selamat Jeju Air dipaksa bunuh diri ini menggambarkan betapa kejamnya perundungan di dunia maya, di mana empati sering kali terabaikan.
Menurut sumber dari akun Facebook @Uss Missouri Rebuild, ancaman dan tekanan ini terus meningkat hingga membuat situasi semakin sulit bagi korban yang selamat itu dalam menjalani kehidupan pasca-tragedi.
Detail Tragedi Jeju Air
Kecelakaan terjadi pada pukul 09.00 waktu setempat, ketika pesawat Jeju Air sedang dalam perjalanan dari Bangkok, Thailand, menuju Muan, Korea Selatan.
Saat akan mendarat, pesawat mengalami tabrakan dengan kawanan burung yang merusak roda pendaratan.
Cuaca buruk semakin memperburuk situasi, menyebabkan pesawat kehilangan kendali dan jatuh sebelum mencapai landasan pacu.
Tragedi ini merenggut nyawa 179 orang, termasuk penumpang dan awak kabin lainnya.
Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan penerbangan yang melibatkan faktor cuaca dan kerusakan teknis, serta menyoroti risiko bird strike yang sering kali diabaikan dalam operasional penerbangan.
Baca Juga: Kisah Tragis Suami Belah Perut Istrinya yang Sedang Hamil karena Tak Diberi Tahu Password HP
Korban Selamat yang Menjadi Sasaran Bullying
Dalam dunia penerbangan, selamat dari kecelakaan besar adalah sebuah keajaiban.
Namun, bagi korban selamat pesawat Jeju Air, keajaiban ini berubah menjadi mimpi buruk.
Alih-alih mendapatkan dukungan, mereka justru menjadi sasaran kemarahan publik.
Budaya menyalahkan korban di Korea Selatan sering kali membuat para penyintas tidak hanya harus menghadapi trauma akibat insiden, tetapi juga tekanan sosial yang sangat berat.
Hal ini diperburuk oleh kurangnya regulasi terhadap perundungan di media sosial, sehingga memungkinkan gelombang serangan terus terjadi tanpa henti.
Tantangan Hidup Pasca-Tragedi
Bagi korban selamat dari kecelakaan pesawat Jeju, hari-hari pasca-tragedi menjadi penuh tekanan.
Trauma dari kecelakaan tragis itu sendiri sudah menjadi beban yang sulit ditanggung.
Ditambah dengan ancaman dan kecaman publik, mereka harus menghadapi tantangan besar untuk melanjutkan hidup.
Para ahli kesehatan mental menegaskan bahwa dukungan psikologis sangat penting bagi para penyintas insiden besar seperti ini.
Selain itu, pemerintah dan perusahaan tempat mereka bekerja perlu mengambil langkah konkret untuk melindungi korban selamat dari serangan publik yang tidak beralasan.
Kecelakaan Jeju Air tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi cerminan dari budaya perundungan yang masih kuat di masyarakat modern.
Alih-alih fokus pada upaya pencegahan agar insiden serupa tidak terulang, publik justru mengalihkan perhatian dengan menyalahkan para korban selamat.
Tragedi ini mengajarkan pentingnya meningkatkan kesadaran tentang empati dan dukungan terhadap para penyintas.
Masyarakat perlu memahami bahwa selamat dari kecelakaan besar bukanlah keputusan pribadi, tetapi murni takdir yang tidak bisa dikendalikan.
Tragedi Jeju Air dan kisah tragis para korbannya seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih bijak dalam bersikap, terutama di era media sosial.
Perundungan terhadap korban selamat tidak hanya mencerminkan kurangnya empati, tetapi juga menambah luka yang seharusnya bisa dihindari.
Semoga kejadian ini membuka mata banyak pihak untuk lebih peduli terhadap kondisi para penyintas dan mengambil langkah nyata untuk mencegah perundungan, baik di dunia nyata maupun maya.
Tragedi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan penerbangan dan perlunya inovasi untuk mengurangi risiko yang ada.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Facebook