INDOZONE.ID - Kisah seorang aktivis bernama Derek Kieper dikabarkan meninggal dunia akibat mengemudi tanpa mengenakan sabuk pengaman.
Pada September 2004, seorang mahasiswa University of Nebraska-Lincoln bernama Derek Kieper menulis sebuah artikel yang mengemukakan pandangannya tentang undang-undang pemakaian sabuk pengaman.
Derek sangat menghargai kebebasan individu dalam membuat keputusan, termasuk saat berada di balik kemudi.
Menurutnya, setiap orang berhak menentukan tingkat keselamatan yang diinginkannya saat berkendara, sehingga aturan pemerintah yang mewajibkan penggunaan sabuk pengaman dianggapnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia.
Baca Juga: Kilas Balik: Hari Ini 17 Tahun Lalu, Aktivis Munir Tewas Diracun di Pesawat Garuda
Namun, siapa sangka keyakinan ini justru berujung tragis bagi Derek. Hanya empat bulan setelah artikelnya diterbitkan, Derek mengalami kecelakaan fatal.
Mobil yang ditumpanginya tergelincir di jalanan bersalju dan terguling beberapa kali, menyebabkan dirinya terpental keluar dari mobil dan kehilangan nyawa.
Sementara itu, pengemudi dan seorang penumpang lainnya selamat dengan luka yang tidak terlalu serius. Dari ketiganya, hanya Derek yang tidak mengenakan sabuk pengaman.
Meskipun sabuk pengaman mobil telah berperan penting dalam menyelamatkan ribuan nyawa selama beberapa dekade terakhir, masih ada sejumlah pengemudi dan penumpang yang menolak menggunakannya dengan berbagai alasan.
Beberapa merasa sabuk pengaman terlalu tidak nyaman atau mengganggu, ada yang meragukan manfaatnya, dan sebagian percaya bahwa dalam jenis kecelakaan tertentu, mengenakan sabuk pengaman justru bisa berbahaya.
Ada juga yang merasa frustrasi dengan undang-undang yang mewajibkan penggunaannya, menganggapnya sebagai bentuk intervensi pemerintah yang tidak sah dalam urusan pribadi.
Menghindari Penggunaan Fitur Penyelamat Jiwa
Pada awal 1980-an, ketika David Hollister memperkenalkan undang-undang di Michigan yang mengenakan denda bagi pengemudi yang tidak memakai sabuk pengaman, perwakilan negara bagian tersebut menerima surat kebencian yang menyamakannya dengan Hitler.
Meskipun pemerintah federal telah mengamanatkan sabuk pengaman di pangkuan dan bahu untuk semua mobil baru sejak 1968, hanya sekitar 14 persen orang Amerika yang secara konsisten menggunakannya.
Pada masa itu, penolakan terhadap perangkat keselamatan ini merupakan hal yang umum. Sabuk pengaman sering dianggap tidak nyaman dan membatasi pergerakan pengemudi maupun penumpang.
Namun, penolakan terhadap undang-undang wajib penggunaan sabuk pengaman lebih banyak dipengaruhi oleh alasan ideologis.
Baca Juga: Kisah Soe Hok Gie, Aktivis Orde Baru yang Jatuh Tewas di Pelukan Gunung Semeru
Seorang kolega Hollister di DPR Michigan menyebut RUU ini sebagai contoh "histeria massa yang dipicu media yang dikendalikan perusahaan," bahkan meramalkan bahwa pemerintah akan segera melarang merokok.
Ada pula yang menyarankan untuk menarik kembali siapa saja yang mendukung undang-undang tersebut.
Pada era 1980-an, perdebatan mengenai aturan sabuk pengaman mencerminkan penolakan terhadap peraturan pemerintah yang dianggap membatasi kebebasan individu.
Perdebatan ini dimulai pada 1973 ketika NHTSA mewajibkan semua mobil baru untuk dilengkapi dengan mekanisme pengunci sabuk pengaman, yang mencegah kendaraan menyala jika pengemudi tidak mengenakan sabuk pengaman.
Penulis: Nadya Mayangsari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Fantasticfacts.net