Mungkin kamu lebih familiar dengan julukan Jakarta ‘Kota Metropolitan’. Namun tahukah kamu, Jakarta juga pernah mendapat julukan yang kotor dan menjijikan, lho!
Ibu kota negara ini pernah dijuluki sebagai ‘Kota Tahi.’ Bahkan, konon ada tempat yang bernama Gang Tahi di Jakarta.
Dikisahkan dalam sastra Babad Tanah Jawi, julukan ‘Kota Tahi’ diperoleh Jakarta karena adanya penyerangan tentara Mataram terhadap kompeni Belanda di Batavia.
Kala itu, pasukan Belanda yang cuma 15 orang kewalahan mempertahankan Benteng Hollandia. Mereka yang panik karena kehabisan peluru lantas mengisi meriam-meriamnya dengan kotoran manusia dan menembakkannya ke arah pasukan-pasukan Mataram.
Karena tidak tahan pada baunya, bala tentara Mataram pun lari mengundurkan diri sambil berteriak, 'Mambet tahi! Mambet tahi! (bau tahi).'
Dari asal usul itulah, Batavia alias Jakarta dijuluki ‘Kota Tahi’ oleh orang-orang Mataram. Cerita ini pun ternyata bukan hanya sekedar dongeng.
Dua Sisi Jakarta
Thomas Stamford Raffles dalam bukunya yang terkenal, History of Java juga mengisahkan hal yang sama. Raffles menuliskan pada 1628 dan 1629 Kerajaan Mataram pernah dua kali menyerang Batavia. Penyerangan tersebut cukup brutal hingga muncullah kisah ‘Mambet Tahi’ tadi.
Disebutkan, salah satu pertempuran paling ‘berdarah’ dan ‘kotor’ terjadi di sekitar kawasan Benteng Tepi Selatan, VOC, yang saat ini terletak di kawasan Stasiun Kota, Jakarta Utara.
Kala itu, Mantan Gubernur Hindia Belanda, Jan Pieterzoon Coen punya strategi unik untuk menghadapi serangan pasukan Mataram. Ia sengaja membelah Kota Batavia menjadi dua bagian, yaitu utara dan selatan.
Di utara, berbatasan dengan pantai adalah Puri atau Kastil Batavia, sementara di sebelah selatan dibangun pemukiman penduduk.
Baca juga: Sejarah Candi Kidal di Malang yang Enggak Lepas dari Cerita Mitologi
Kastil Batavia dikelilingi benteng pertahanan, sementara di seluruh bagian kota dibuat parit-parit pertahanan yang airnya umumnya diambil dari aliran Sungai Ciliwung.
JP Coen juga memerintahkan pembangunan parit baru yang membelah bagian paling selatan kota. Parit luar itu kelak dikenal dengan nama Zuider-Voorstad.
Di sisi selatan, tepat di tepi Ciliwung, dibangun benteng yang menjulang di atas tembok. Benteng ini dipimpin oleh Sersan Hans Maagdelijn, sehingga dikenal dengan nama Benteng Maagdelijn.
Senjata Tahi
Singkat cerita, pasukan Mataram yang gagal pada serangan pertama dan kedua, kembali memasuki Batavia.
Mereka melakukan serangan ketiga pada tanggal 21 September 1928. Kala itu, pasukan Belanda dalam Benteng Maagdelijn kehabisan peluru, sehingga mereka menggunakan batu dan benda-benda lain sebagai isi meriam.
Baca juga: Peristiwa 30 Mei: Hari Jadi Kota Batavia hingga PSSI Disanksi FIFA
Anehnya, tentara bayaran asal Pfalz, Jerman yang bernama Sersan Hans Madelijn juga memerintahkan pasukannya menyiramkan tinja ke tentara Mataram.
Hendi Jo dalam ‘Zaman Perang’ menyebutkan, tentara Matam pun langsung lari tunggang langgang saat mendapat serangan aneh dan menjijikkan itu. Mereka berloncatan, menutupi hidung seraya menggerutu, “O seytang orang Ollanda de bakkalay samma tay.”
Ini adalah ungkapan bahasa Melayu Kuno yang berarti, “Dasar setan, orang-orang Belanda dia berkelahi pakai tahi. Menurut Heuken, ini mungkin kata-kata Melayu pertama yang pernah tercatat dalam buku Jerman.
@sejarahseru.id Agak konyol tapi pinter????. Sumber: Historia & VOI #sejarahindonesia #fy #faktamenarik #faktaunik #viralditiktok #sejarahseru #serubelajar #samasamabelajar #viral #fyp? #jakarta
? suara asli - Sejarah Seru - Sejarah Seru
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: