Selasa, 28 FEBRUARI 2023 • 14:00 WIB

Misteri Bola Raksasa Misterius Terungkap, Fakta Sebenarnya Bikin Orang Jepang Malu

Author

Bola raksasa misterius yang terdapar di pantai wilayah Hamamatsu, Jepang. (Twitter/nhk_shizuoka_)

INDOZONE.ID - Belum lama ini masyarakat Jepang dihebohkan dengan kemunculan bola raksasa misterius mirip bola “Dragon Ball” yang terdampar di sebuah pantai di kawasan Hamamatsu, Prefektur Shizuoka.

Penemuanya telah mendorong polisi untuk menutup daerah tersebut, sebab dikhawatirkan membahayakan. Selain itu, tak sedikit pula yang menduga bola itu adalah UFO atau balon mata-mata.

Namun fakta sebenarnya dari bola raksasa misterius itu sukses membuat publik terenceng. Sebab polisi memastikan bahwa objek asing itu bukanlah bahan peledak.

Bola raksasa itu hanya sepotong besi tua yang terdampar di lautan,  yang mengingatkan manusia kalau laut dan alam semesta penuh dengan misteri dan sampah.

“Bola itu pada akhirnya akan dibuang,” kata Hiroyuki Yagi, seorang pejabat di Biro Manajemen Sungai dan Pesisir Prefektur Shizuoka kepada Nytimes, seperti yang dikutip Indozone, Selasa (28/2/2023).

Baca juga: Kasus 'The Monster of Florence', Misteri Pembunuhan Brutal Pasangan di Italia

Cuma Pelampung 

Sementara itu, Kantor teknik sipil Hamamatsu mengatakan objek itu 'dianggap sebagai pelampung buatan asing'. Hal itu pun sontak memancing komentar menggelitik dari warganet Jepang.

Tak sedikit yang merasa malu hingga membuat meme lucu soal penemuan objek misterius itu.  Apalagi sebelumnya petugas dengan helm dan pakaian hazmat menutup area penemuan benda tersebut.

Bahkan mereka juga memasang garis polisi untuk mengusir orang, yang menimbulkan spekulasi bahwa objek itu mungkin tambang laut tua atau semacam alat spionase.

"Saya tidak percaya para pejabat dari negara yang dikelilingi lautan tidak mengenali bola pelampung," sebut salah satu komentar netizen Jepang via Twitter. 

"Ya ampun! Itu pelampung tambatan baja, semuanya. Saya malu jadi orang Jepang," timpal komentar lainnya.

Namun, para ahli bisa memahami kekhawatiran Pemerintah Jepang. Apalagi akhir pekan lalu, sebuah rudal Korea Utara mendarat di perairan barat Jepang  dan awal bulan ini sebuah balon mata-mata China melintas di atas langit Amerika Serikat memicu krisis diplomatik dan serentetan penampakan benda terbang.

Tetapi untuk bola raksasa yang muncul di pantai tersebut, sudah dipastikan hanya pelampung biasa yang tidak memata-matai.

"Itu hanya pelampung biasa," kata Uwe Send, ahli kelautan dari Scripps Institution of Oceanography di University of California, San Diego dalam sebuah wawancara.

Dr Send mengatakan pelampung tersebut tersedia secara luas untuk pembelian online. Ia juga menjelaskan bahwa ahli kelautan biasa menggunakan berbagai jenis pelampung untuk tujuan penelitian.

Biasanya mereka mengecat pelampung dengan warna cerah, dengan nama atau nomor telepon. Sering kali juga memasang lampu atau suar untuk membantu melacak peralatan mahal yang terpasang padanya.

Pelampung yang mirip dengan yang ditemukan di Jepang biasanya terbuat dari baja dan sering digunakan untuk menambatkan kapal di pelabuhan atau di laut. Mereka biasanya mengapung di permukaan, tidak seperti pelampung lain yang dapat menahan tekanan air yang lebih dalam.

Send juga mengungkap pelampung yang ditemukan di Hamamatsu agak aneh, mengingat penggunaan umum perangkat semacam itu dalam penelitian laut dan pelayaran maritim.

“Mungkin semua orang paranoid karena balon,” katanya.

Pelampung Kapal

Adapun menurut Yagi dari biro pengelolaan pantai di  Hamamatsu, pemerintah Jepang tidak dapat menentukan dari mana spesimen itu berasal atau siapa pemiliknya, karena bagian luarnya terlalu berkarat dan tidak ada tanda yang terlihat.

“Kami jarang memiliki benda di pantai, selain kayu apung,” ucapnya.

“Fakta bahwa itu tidak ditutupi oleh kerang atau rumput laut menunjukkan bahwa itu mungkin tidak berjalan terlalu jauh,” tambah Shigeru Fujieda, seorang ahli sampah laut di Universitas Kagoshima di selatan Jepang.

Dia mengatakan tebakan terbaiknya adalah pelampung itu dirancang untuk melabuhkan kapal atau benda berat lainnya.

“Itu mungkin tidak digunakan untuk tujuan ilmiah, karena tidak dicat dan lebih besar dari pelampung penelitian yang biasanya hanyut ke darat,” jelas Profesor Fujieda pula. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU