Pesona Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) selalu mampu menghipnotis setiap pasang mata. Tak heran, wilayah ini menjelma menjadi salah satu primadona di Indonesia.
Sebut saja beberapa objek wisata, seperti Pulau Padar, Komodo, Pink Beach dan Danau Kelimutu yang kerap menjadi incaran wisatawan lokal maupun mancanegara.
Namun, ada juga beberapa objek wisata yang belum cukup dikenal, seperti Danau Waibelen atau disebut juga Danau Asmara yang terletak di ujung timur Nusa Bunga (Pulau Flores).
Danau ini dikelilingi oleh pepohonan sehingga sangat asri dan sejuk dengan flora yang didominasi oleh burung air Titihan Australia.
Saat tiba di pinggiran danau, pengunjung biasanya akan disambut dengan kelompok anak-anak yang asyik memancing dengan perlengkapan sederhana dari bambu.
Saat ini juga sedang dalam pengerjaan spot jembatan apung yang prosesnya sudah mencapai 80 %.
Cerita Kelam di Balik Nama Danau
Danau ini awalnya bernama Waibelen yang terbentuk akibat letusan gunung Sodoberawao yang menyebabkan kawah besar. Kawah tersebut kemudian terisi oleh air hujan yang tertampung membentuk danau yang konon memiliki pusaran dan dihuni oleh banyak buaya.
Wai sendiri dalam bahasa setempat berarti air dan Belen artinya luas atau besar. Namun sekitar tahun 1970-an, danau ini mulai dikenal dengan nama Danau Asmara.
Nama itu diambil lantaran ada kisah kelam yang berkaitan dengan pertentangan nilai (hubungan sedarah).
Dikisahkan ada dua mudi-mudi dari Desa Waibao, tepatnya dari Kampung Tangadei bernama Lio Kelen dan Nela Kelen yang menjalin hubungan asmara namun tak direstui karena memiliki hubungan kekerabatan yang erat.
Karena cobaan cinta yang begitu hebat, akhirnya mereka memutuskan untuk bunuh diri dengan cara melompat ke pusaran air danau.
Setelah tiga hari, jenazah mereka ditemukan dalam keadaan utuh meskipun terdapat buaya di danau. Jenazah Nela ditemukan menengadah ke atas sementara Lio tertelungkup kaku dengan wajah menghadap tanah.
Sejak peristiwa itulah, danau ini lebih dikenal dengan nama Danau Asmara.
Baca juga: Sejarah 11.11 Jadi Hari Jomblo Sedunia, Asal Usulnya dari Keresahan Kaum Lajang di China
Pantangan Sumpah Serapah
Danau ini menjadi salah satu sumber mata air bagi Kampung Keka, Tengadei, Riangpuho dan Lebao. Buaya yang ada di danau, dipercaya sebagai jelmaan nenek moyang yang tidak sembarangan memangsa.
Karenanya saat berkunjung, wisatawan dilarang untuk mengucapkan kata kotor atau bersumpah serapah.
Adapun untuk sampai ke danau yang terletak di daerah Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, NTT ini, pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi dengan akses jalan yang cukup baik.
Baca juga: Kisah Kelam di Balik Perayaan Valentine, Berawal dari Ritual Sadis, Jauh dari Hal Romantis
Akses menuju Larantuka dari Kota Kupang dapat menggunakan kapal laut atau pesawat. Jika menggunakan pesawat dari bandara El Tari (Koe) menuju bandara Gewayantana (LKA), jika menggunakan kapal memakan waktu sekitar 13-14 jam.
Artikel Menarik Lainnya:
- Kisah Sepasang Batu yang Memilukan di NTT, Konon Sering Berpindah-pindah Secara Misterius
- Kepincut Kuliner Indonesia, Bule Aussie Jualan Jamu hingga Jajanan Pasar di Sydney
- Berburu Undangan Pernikahan Murah di "Kolong" Pasar Tebet, Kaesang-Erina Pesan di Sini?
- Makan Burger Karen's Diner Seharga Ratusan Ribu tapi Dijutekkin Pelayannya, Worth It Gak?
- Bak Pahlawan! Pagar Betis 1 Km Sambut Kedatangan Nono Bocah Jenius NTT di Kampung Halaman
Bikin cerita serumu dan dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: