Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 22 AGUSTUS 2022 • 11:48 WIB

Kisah La Pateddungi, Raja Wajo Cabul, Tiap Malam ‘Berburu’ Istri dan Anak Gadis Rakyatnya

Kisah La Pateddungi, Raja Wajo Cabul, Tiap Malam ‘Berburu’ Istri dan Anak Gadis RakyatnyaRaja Kerajaan Wajo (Istimewa)

Dahulu kala, Indonesia yang bernama Nusantara dipimpin dengan sistem dinasti atau kekuasaan raja. 

Raja-raja Nusantara kala itu memiliki wilayah kekuasaan masing-masing dan mengaturnya dengan adat budaya setempat.

Namun di antara banyaknya raja-raja Nusantara, tak semuanya berkelakuan baik. Beberapa malah bertindak sewenang-wenang dan berlaku kejam.

Baca juga: Andre Stander: Polisi Sekaligus Kriminal, Mengisi Waktu Senggang dengan Merampok Bank

Salah satunya La Pateddungi, raja Kerajaan Wajo (orang-orang Bugis) yang berdiri pada pertengahan abad ke-15 di Sulawesi Selatan.

Dia terkenal suka melakukan perbuatan biadab dan mencoreng citra kerjaan. Perbuatannya sangat berbeda dari Batara Wajo (gelar raja) lainnya.

Batara Wajo I (La Tenribali) dan Batara Wajo II (La Mataesso) memerintah kerajaan dengan baik, tetapi tidak dengan Batara Wajo III, La Pateddungi (1466-1469).

Ilustrasi Batara Wajo III (Intisari)

Dia senang berkeliling kerajaan dan mengambil istri serta anak perempuan rakyatnya untuk diperkosa. Persenggamaan bahkan dilakukannya dengan terang-terangan.

Dilansir dari kanal YouTube Sudin Barakatak, ketika malam tiba, Batara Wajo III La Pateddungi To Samallangi berkeliling kampung untuk alasan menjaga negerinya.

Namun alasan sebenarnya adalah mencari korban untuk pelampiasan nafsu bejatnya.

Paman Wajo III yang bernama Arung Saotanre kerap mendengar keluhan warga dan menasehati keponakannya. Namun tidak digubris.

Bahkan perbuatan Wajo III La Pateddungi makin menjadi-jadi. Dia menyuruh pengawal untuk menggantungkan kelambu pada hari pasar dan menyuruh perempuan dan anak gadis Wajo yang disukainya untuk masuk dan kemudian diperkosa.

Lagi-lagi si paman menasehatinya. Tetapi Wajo III berpura-pura mendengarkan agar sang paman tidak lagi menasehatinya.

Di lain waktu dia bahkan nekat memberi tanda kepada para wanita baik yang bersuami maupun tidak. Hal ini untuk mengetahui mana yang masih perawan dan tidak.

Tetapi tetap saja pada akhirnya dia akan ‘memangsa’ semuanya. Bahkan jika ada orang yang menyembunyikan perempuannya, maka sang raja sendiri pergi mengambilnya.

Ilustrasi perempuan suku Bugis (Mollucastimes)

Akhirnya banyak orang yang pindah dan pergi ke Penrang, ada juga yang menyeberang ke Pammana.

Setelah Arung Saotanre melihat orang-orang Wajo berpindahan, dia mengumpulkan yang masih ada. Bersama-sama mereka melakukan kudeta karena sudah muak dengan perbuatan Wajo III.

Bersama rakyat para Petinggi Kerajaan, mereka mengusir Batara Wajo III.  La Pateddungi yang terusir pun keluar dan dalam perjalanan dia kemudian dibunuh dengan cara kejam.


Artikel Menarik Lainnya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Kisah La Pateddungi, Raja Wajo Cabul, Tiap Malam ‘Berburu’ Istri dan Anak Gadis Rakyatnya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!