Ilustrasi Weton Pon dan Penjaga Lapar Dalam Diri. (Foto: Freepik @Freepik)
INDOZONE.ID - Pembahasan soal weton dalam tradisi Jawa selalu menarik perhatian, apalagi kalau dikaitkan dengan karakter batin dan perjalanan hidup seseorang.
Salah satu weton yang sering dianggap memiliki energi unik adalah Pon. Dalam Primbon Jawa, weton ini kerap dikaitkan dengan simbol yang cukup puitis sekaligus penuh makna, yaitu penjaga lapar.
Istilah ini sering disalahpahami. Banyak yang mengira, penjaga lapar merujuk pada makhluk gaib atau sosok menyeramkan yang mengikuti seseorang sejak lahir.
Padahal, dalam pemahaman spiritual Jawa, makna sebenarnya jauh lebih dalam dan psikologis.
Melalui pembahasan di kanal YouTube/MaknaWeton, weton Pon dijelaskan sebagai simbol energi batin yang selalu aktif, selalu bergerak, dan hampir tidak pernah benar-benar merasa puas.
Ini bukan kutukan, melainkan potensi besar yang perlu dipahami, dan diarahkan dengan bijak.
Orang yang lahir pada weton Pon dipercaya membawa neptu 7, angka yang melambangkan keseimbangan sekaligus ujian.
Artinya, hidup mereka sering berada di antara dua kutub yaitu ambisi dan ketenangan, dorongan maju dan kebutuhan untuk berhenti, rasa ingin memiliki dan kemampuan untuk menerima.
Baca juga: Horor Tapi Nyata di Balik Weton Pon, Saat Orang yang Menyakiti Justru Sakit Mendadak
Istilah penjaga lapar sebenarnya bukan tentang sesuatu di luar diri, tapi tentang dorongan yang hidup di dalam diri.
Ini adalah energi yang membuat seseorang terus ingin berkembang, terus ingin memperbaiki hidup, dan terus ingin mencapai sesuatu yang lebih tinggi.
Lapar di sini bukan lapar fisik, melainkan lapar makna, lapar pencapaian, lapar pengakuan, bahkan lapar kepastian hidup.
Orang dengan weton Pon, sering merasa ada sesuatu yang mendorong mereka untuk tidak diam.
Ketika satu tujuan tercapai, muncul tujuan baru. Ketika satu masalah selesai, pikiran langsung beralih ke tantangan berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube