Ilustrasi Serangga Makanan Masa Depan. (sumber: Cassius Cardoso)
INDOZONE.ID - Serangga dikenal memiliki protein yang melimpah dan menjadi bagian dari salah satu menu makanan. Namun, kini serangga juga menarik perhatian sebagai bagian dari teori konspirasi yang nyatanya tersebar luas dan cepat.
Menelisik pada masa purba, manusia telah memanfaatkan serangga sebagai sumber makanan. Hal ini diperkuat dengan lukisan gua di Altamira, Spanyol, yang menunjukkan adanya aktivitas pengumpulan madu dari sarang lebah. Hingga kini, tradisi mengonsumsi serangga masih dilakukan di berbagai belahan dunia.
Contohnya, di Meksiko jangkrik diolah dengan cara direbus ataupun digoreng dan dikenal dengan nama chapulines. Makanan ini menjadi camilan kesukaan masyarakat yang bahkan tersedia di menu restoran mewah.
Baca juga: Project Blue Beam: Konspirasi Gila soal NASA, Kiamat Palsu, dan Hologram Tuhan Raksasa
Namun, di berbagai negara Amerika dan Eropa, serangga masih belum menjadi pilihan menu dalam pola makan masyarakat, termasuk di Indonesia. Keengganan ini bukan hanya karena kebiasaan yang dianggap tak lazim, melainkan juga karena berkembangnya teori konspirasi yang menyebut adanya “elit global” yang memaksa masyarakat beralih dari daging ke serangga dengan alasan lingkungan. Teori konspirasi ini banyak menyebar di benua Amerika dan Eropa.
Nyatanya, teori tersebut menutupi fakta ilmiah yang membuktikan bahwa serangga merupakan sumber protein berkelanjutan dan dapat membantu mengurangi dampak perubahan iklim.
Fenomena ini mencuat ketika Forum Ekonomi Dunia memperkenalkan inisiatif The Great Reset pada masa pandemi Covid-19 yang bertujuan mengurangi ketimpangan global dan memajukan kebijakan lingkungan.
Bagi para penganut teori konspirasi, konferensi Davos di Swiss menjadi “bukti” upaya elit menguasai dunia dengan membentuk rezim totaliter global. Frasa “Saya tidak akan makan serangga” sendiri pertama kali muncul di forum anonim 4chan pada 2019 dan makin populer selama pandemi karena digabungkan dengan narasi The Great Reset.
Di sisi lain, bukti ilmiah justru mendukung penggunaan serangga sebagai makanan masa depan yang lebih berkelanjutan. Pada 2021, Forum Ekonomi Dunia menyatakan bahwa serangga lebih ramah lingkungan dibandingkan daging sapi atau ayam. Uni Eropa pun sudah mengizinkan beberapa jenis serangga seperti jangkrik dan larva kumbang digunakan sebagai bahan pangan dengan ketentuan label yang jelas.
Secara keseluruhan, “Saya tidak akan makan serangga” bukan sekadar sikap menolak makanan baru, melainkan juga cerminan ketidakpercayaan mendalam terhadap otoritas, terutama dalam situasi krisis global seperti pandemi dan perubahan iklim.
Baca juga: Piramida Dibangun Alien? Ilmuwan Ungkap Fakta Mengejutkan yang Bikin Teori Konspirasi Goyah
Slogan ini efektif menjadi gerakan karena menyentuh rasa takut dan keraguan masyarakat terhadap perubahan cara hidup yang cepat dan tidak sepenuhnya mereka pahami.
Serangga memang menawarkan solusi protein masa depan yang sehat dan berkelanjutan. Namun, di tengah perubahan besar menuju sistem pangan yang lebih ramah lingkungan, masih banyak disinformasi dan ketakutan yang menghambat kita untuk menerima potensi besar dari sumber protein ini. Oleh karena itu, penting bagi kita melawan prasangka tersebut demi menciptakan masa depan pangan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC News