Mengenal Megengan Warisan Sunan Kalijaga, Tradisi Menyambut Ramadhan di Jawa yang Penuh Filosofi
INDOZONE.ID - Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat Jawa di berbagai daerah di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur mengenal tradisi yang disebut Megengan.
Tradisi ini tak hanya sebagai penanda datangnya bulan puasa, namun memiliki makna filosofi yang mendalam.
Arti Megengan
Kata "Megengan" berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti "menahan". Ini merupakan persiapan mental dan spiritual untuk memasuki bulan Ramadhan, dimana umat Islam diwajibkan untuk menahan diri dari hawa nafsu, amarah, dan tentunya menahan lapar dan haus.
Selain itu, Megengan juga memiliki arti "menaikkan" atau "unggahan" yang bermakna sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan selama setahun serta sebagai bentuk doa untuk kelancaran ibadah puasa di bulan Ramadhan nanti.
Baca Juga: Mengungkap Sejarah Warak Ngendog: Ikon Tradisi Dugderan di Semarang
Filosofi Kue Apem
Tak lengkap rasanya tradisi Megengan tanpa kehadiran kue apem. Kue tradisional berbahan dasar tepung beras ini tak hanya menjadi santapan, namun memiliki makna filosofis yang erat kaitannya dengan persiapan menuju Ramadhan.
Ada dua makna yang diyakini masyarakat terkait kue apem dalam tradisi Megengan:
Pertama, kata "apem" dipercaya berasal dari bahasa Arab "affan" atau "afwun" yang berarti maaf atau ampunan. Ini menjadi simbol permohonan maaf kepada Allah SWT atas kesalahan yang telah diperbuat sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Kedua, bentuk kue apem yang sederhana dan bersahaja menjadi representasi dari kesederhanaan dan keikhlasan hati dalam menjalankan ibadah puasa. Jauh dari sikap pamerah dan berfokus pada ibadah kepada Tuhan.
Baca Juga: 6 Tradisi Suku Bugis Jelang Bulan Suci Ramadhan
Melestarikan Tradisi Megengan
Tradisi yang dikenalkan oleh Sunan Kalijaga, menggabungkan budaya Jawa dan Islam agar ajaran Islam dapat diterima oleh masyarakat.
Megengan dengan kehadiran kue apem tak hanya menjadi tradisi persiapan Ramadhan, namun juga sebagai ajang silaturahmi dan mempererat hubungan antar warga.
Melalui berbagi kue apem, terjalin suasana saling memaafkan dan berbagi berkah menjelang datangnya bulan suci.
Di tengah arus modernisasi, tradisi Megengan beserta filosofinya di balik kue apem perlu terus dilestarikan. Ini sebagai pengingat untuk mempersiapkan diri dengan baik secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/ @gnfi