INDOZONE.ID - Kelahiran seorang buah hati tentu menjadi momen magis yang dinantikan oleh setiap pasangan. Di balik tangis bahagia menyambut kehidupan baru, terdapat satu ritual sakral yang menanti sang ayah, yakni mengurus plasenta atau ari-ari bayi. Bagi masyarakat modern di berbagai belahan dunia, ari-ari mungkin hanya dianggap sebagai limbah medis purnakelahiran.
Namun, di Nusantara khususnya dalam kebudayaan Jawa, ari-ari diyakini sebagai "saudara kandung" tak kasat mata (pancer) yang telah menemani dan menjaga janin selama 9 bulan di dalam rahim ibu. Oleh sebab itu, pelepasannya tidak boleh sembarangan. Mengetahui tata cara mengubur ari-ari adat Jawa bukan sekadar melestarikan warisan leluhur, melainkan bentuk penghormatan, tanggung jawab, dan doa agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang membumi.
Bagi Papa muda yang mungkin masih bingung bagaimana memulai tradisi ini, mari kita bedah secara tuntas panduan langkah demi langkah mengubur ari-ari sesuai pakem budaya Jawa yang dipadukan dengan nilai-nilai syariat Islam.
Makna Filosofis Ari-ari dalam Kepercayaan Jawa
Dalam filosofi Jawa, ari-ari dikenal dengan sebutan Kakak Kawah Adik Ari-ari. Masyarakat Jawa memercayai bahwa ari-ari adalah saudara kembar spiritual yang akan terus mendampingi anak secara gaib sepanjang hidupnya.
Karenanya, organ yang bertugas menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin ini harus dirawat dan dikembalikan ke perut bumi dengan penuh tata krama.
Proses penguburan ini secara simbolis menanamkan doa agar anak kelak memiliki akar yang kuat terhadap tanah kelahirannya, tidak lupa daratan, dan selalu terlindungi.
Cara Membersihkan dan Mencuci Ari-ari
Sebelum masuk ke tahap penguburan, ari-ari wajib disucikan terlebih dahulu. Tujuannya murni untuk kebersihan agar tidak menimbulkan bau busuk dan mengundang hewan liar. Berikut cara mencucinya:
- Siapkan Wadah Bersih: Tempatkan ari-ari di baskom atau wadah khusus yang belum pernah dipakai untuk hal-hal kotor.
- Gunakan Garam dan Asam Jawa: Gosok perlahan ari-ari menggunakan campuran garam kasar dan asam jawa. Bahan alami ini dipercaya sangat ampuh melarutkan sisa-sisa darah yang menempel dan menghilangkan bau anyir.
- Bilas dengan Air Mengalir: Bilas ari-ari di bawah air mengalir hingga benar-benar bersih dari sisa darah.
- Perasan Jeruk Nipis (Opsional): Untuk memastikan aroma tidak sedap benar-benar hilang, Papa bisa memberikan sedikit perasan jeruk nipis atau lemon.
- Keringkan: Usap perlahan menggunakan kain atau lap bersih yang lembut hingga ari-ari agak mengering.
Apa Saja Isian Kendil untuk Mengubur Ari-ari?
Setelah dicuci bersih, ari-ari tidak langsung ditimbun tanah, melainkan dimasukkan ke dalam wadah gerabah tanah liat (kendi atau kendil). Menurut pakem adat Jawa, kendil ini akan diisi dengan beberapa ubarampe (perlengkapan) yang masing-masing sarat akan doa, harapan, dan mitos penolak bala:
- Daun Senthe atau Daun Talas
Digunakan sebagai alas di dasar kendil. Daun ini melambangkan harapan agar anak tidak hanya mengejar hal-hal duniawi, melainkan tumbuh menjadi sosok yang peka dan mengayomi sesama (tidak egois). - Kain Mori
Ari-ari dibungkus dengan kain mori bersih sebelum dimasukkan ke kendil, melambangkan kesucian bayi yang baru lahir. - Bumbu Dapur (Garam, Merica, Ketumbar)
Dimasukkan sedikit sebagai simbol harapan agar anak kelak memiliki kehidupan yang "sedap", bermanfaat, dan tidak hambar. - Jarum dan Benang
Menyimbolkan pikiran yang tajam dan harapan agar kelak anak mampu "merajut" kehidupannya dengan baik, serta memiliki tali silaturahmi yang tidak mudah putus. - Gunting atau Benda Tajam Kecil
Secara tradisional dipercaya sebagai penolak bala untuk menjauhkan bayi dari gangguan gaib. Secara filosofis, melambangkan ketegasan anak untuk memisahkan hal yang baik dan buruk. - Pensil dan Kertas/Buku
Simbol harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berpendidikan, dan haus akan ilmu pengetahuan. - Kembang Setaman
Ditaburkan bunga 7 rupa di atas bungkusan kain putih menyimbolkan harapan agar nama baik anak akan selalu mengharumkan keluarga.
(Catatan Syariat: Dalam pandangan ulama Islam, memasukkan benda-benda yang masih memiliki nilai guna seperti koin, gunting, atau alat tulis ke dalam tanah dianggap sebagai tabdzir atau perbuatan mubazir. Oleh karena itu, bagi keluarga Muslim yang ingin sepenuhnya berpegang pada syariat tanpa campuran mitos, cukup membersihkan ari-ari dan membungkusnya dengan kain putih saja sebelum dikubur).
Lokasi Penguburan Ari-ari Berdasarkan Jenis Kelamin
Tata letak penguburan ari-ari tidak boleh asal gali. Masyarakat Jawa memiliki pedoman lokasi spesifik yang dikaitkan dengan letak pintu utama rumah dan jenis kelamin sang bayi:
Untuk Bayi Laki-Laki
Kendil ari-ari dikuburkan di sebelah kanan pintu utama rumah (jika dilihat dari dalam rumah menghadap ke luar). Posisi kanan melambangkan kekuatan, keberanian, dan harapan agar anak laki-laki kelak menjadi pemimpin keluarga yang tangguh.
Untuk Bayi Perempuan
Kendil ari-ari dikuburkan di sebelah kiri pintu utama rumah. Posisi kiri melambangkan kelembutan, kesabaran, dan harapan agar anak perempuan memiliki sifat yang mengayomi.
Tata Cara Mengubur Ari-ari Adat Jawa
Setelah kendil siap dan lokasi ditentukan, Papa (sebagai kepala keluarga) disunnahkan untuk mandi wajib atau minimal berwudu terlebih dahulu sebelum memulai prosesi. Berikut langkah-langkahnya:
- Gali Lubang yang Dalam
Gali tanah di lokasi yang ditentukan dengan kedalaman minimal 70 cm hingga 1 meter. Kedalaman ini penting agar kendi tidak mudah digali oleh hewan pemakan bangkai (seperti anjing atau kucing liar). - Turunkan Kendil Sambil Berdoa
Letakkan kendil perlahan ke dalam lubang. Dalam tradisi Islam-Jawa, saat menurunkan kendil sangat disunnahkan untuk membaca Basmalah, Shalawat Nabi (Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad), dan melantunkan azan (jika belum sempat diazani saat bayi lahir). - Tutup dengan Tanah
Timbun kendi dengan tanah hingga rata dan padat. - Tutup dengan Batu/Kurungan
Letakkan batu besar di atas gundukan tanah, lalu tutupi area tersebut dengan kurungan bambu (keranjang) atau pot yang dibalik agar aman dari gangguan hewan. - Pemberian Penerangan (Lampu)
Pasang lampu (biasanya bohlam kuning) di atas kurungan bambu tersebut. Lampu ini harus dinyalakan setiap menjelang Magrib hingga pagi hari selama 35 hari berturut-turut (sampai ritual selapanan bayi). Lampu ini menyimbolkan doa agar jalan hidup anak selalu diterangi cahaya dan tidak tersesat dalam kegelapan.
Pandangan Islam terhadap Tradisi Mengubur Ari-ari
Bagaimana syariat Islam memandang tradisi ini? Mengutip penjelasan dari NU Online, ari-ari atau masyimah diakui oleh para ulama (seperti Imam Al-Barmawy) sebagai bagian dari organ tubuh manusia. Oleh karena itu, menyikapi bagian tubuh yang terpisah (termasuk rambut atau kuku) disunnahkan untuk dikubur sebagai bentuk memuliakan manusia yang diciptakan Allah SWT.
Namun, Islam melarang keras praktik ini jika diniatkan untuk kesyirikan (seperti sesajen kepada roh leluhur) atau mencampurkan ari-ari dengan barang-barang berharga (tabdzir). Jika penguburan diniatkan murni untuk kebersihan, mencegah timbulnya penyakit, dan memuliakan penciptaan manusia, maka hal tersebut sangat dianjurkan.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Siapa yang paling berhak menguburkan ari-ari bayi?
Sangat dianjurkan yang menguburnya adalah ayah kandung (Papa) dari sang bayi, sebagai simbol tanggung jawab kepala keluarga. Jika ayah berhalangan, bisa diwakilkan oleh kakek kandung dari pihak ayah.
2. Apakah boleh ari-ari dibuang ke sungai atau laut?
Secara medis dan etika lingkungan, membuang ari-ari (yang merupakan limbah biologis) ke aliran air umum sangat tidak disarankan karena mencemari lingkungan. Menguburnya di dalam tanah adalah metode paling higienis dan aman.
3. Berapa lama lampu di atas kuburan ari-ari harus dinyalakan?
Dalam adat Jawa, lampu dinyalakan setiap malam selama 35 hari (selapan). Secara logis pada zaman dahulu, lampu ini juga berfungsi untuk mengusir hewan liar atau predator malam agar tidak menggali tanah tersebut.
Prosesi mengubur ari-ari adalah bukti betapa kayanya kearifan lokal Nusantara dalam merawat dan menghargai kehidupan, dari awal mula penciptaannya. Tata cara mengubur ari-ari adat Jawa mengajarkan kita bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam, terikat oleh doa, dan membutuhkan akar budaya yang kuat. Dengan memahami prosedur pencucian, pengisian kendil, penentuan posisi lubang, hingga penerangan lampu yang tidak melenceng dari syariat agama, seorang ayah telah memberikan perlindungan paripurna di hari-hari pertama kelahiran buah hatinya.
Semoga kelak, sang anak tumbuh benderang layaknya pelita yang menerangi ari-arinya, mengakar kuat pada kebaikan, dan selalu ingat jalan pulang menuju rumahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nu Online