INDOZONE.ID - Penemuan makam Tutankhamun pada akhir 1922 menjadi salah satu momen paling sensasional dalam sejarah arkeologi. Makam Tutankhamun ditemukan oleh arkeolog Inggris Howard Carter di Lembah Para Raja, Mesir, dan dibiayai oleh bangsawan Inggris, Lord Carnarvon.
Hal yang membuat penemuan ini luar biasa bukan hanya karena usianya yang lebih dari 3.000 tahun, melainkan karena makam tersebut ditemukan hampir utuh.
Di dalamnya terdapat mumi firaun muda yang wafat sekitar usia 18 tahun pada 1323 SM, lengkap dengan harta, lukisan dinding, serta perlengkapan yang diyakini akan menemaninya di alam baka.
Namun, tidak lama setelah makam itu dibuka, muncul cerita yang jauh lebih menyeramkan, yaitu kutukan bagi siapa pun yang mengganggu peristirahatan sang firaun.
Baca juga: Tutankhamun, Firaun dengan 80 Sendal Emas di Makamnya
Awal Mula Isu Kutukan
Melansir laman Historytoday, Selasa (24/02/2026) iusu “Kutukan Firaun” sebenarnya berkembang cepat di media. Surat kabar Inggris dan Amerika menyoroti spekulasi tentang adanya hukuman gaib bagi para penyusup makam kuno.
Penulis terkenal saat itu, Marie Corelli, bahkan menyebut bahwa “hukuman paling mengerikan” akan menimpa siapa pun yang berani memasuki makam tersegel.
Meski tidak ditemukan tulisan kutukan yang jelas di pintu makam Tutankhamun, kisah tentang proteksi magis tetap menyebar.
Kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan mistis Mesir kuno membuat cerita ini semakin dipercaya.
Baca juga: Firaun Muda Alias Raja Tutankhamun Pakai Narkoba? Begini Fakta yang Baru Terungkap
Kematian Lord Carnarvon
Spekulasi semakin kuat ketika Lord Carnarvon meninggal dunia pada April 1923 di Kairo, hanya beberapa bulan setelah pembukaan makam. Ia wafat pada usia 56 tahun akibat infeksi darah yang dipicu gigitan nyamuk yang terinfeksi.
Selain itu, pada saat Lord Carnarvon meninggal lampu-lampu di Kairo dilaporkan padam sesaat, kebetulan yang mencolok saat kematiannya.
Baca juga: Misteri Firaun Tutankhamun: Dimumikan dengan Kondisi Penis Ereksi!
Peristiwa ini langsung dikaitkan dengan kutukan. Penulis Sherlock Holmes, Arthur Conan Doyle, bahkan berkomentar bahwa kematian itu mungkin disebabkan oleh “unsur roh jahat” yang diciptakan para pendeta kuno untuk melindungi makam.
Sejak saat itu, daftar “korban kutukan” mulai bermunculan.
Rentetan Kematian yang Dianggap Janggal
Beberapa tahun setelahnya, sejumlah orang yang terkait dengan penggalian atau yang mengunjungi makam dilaporkan meninggal dunia dalam keadaan yang dianggap aneh.
Di antaranya adalah Pangeran Ali Kamel Fahmy Bey yang tewas ditembak istrinya pada 1923, Sir Lee Stack yang dibunuh di Kairo pada 1924, serta Arthur Mace dari tim penggali yang meninggal pada 1928.
Sekretaris Carter, Richard Bethell, ditemukan tewas pada 1929, disusul ayahnya yang bunuh diri setahun kemudian. Rangkaian kejadian ini memperkuat narasi bahwa makam Tutankhamun dilindungi kekuatan tak kasat mata.
Namun, jika ditelusuri lebih dalam, banyak dari kematian tersebut memiliki penjelasan rasional. Sebagian akibat penyakit, sebagian karena kekerasan yang tidak berkaitan langsung dengan makam, dan sebagian lagi hanyalah kebetulan yang dibesar-besarkan oleh media.
Baca juga: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Orang Mesir Dikesampingkan dalam Penemuan Mumi Tutankhamun
Teori Ilmiah: Jamur Kuno Mematikan?
Sejumlah ilmuwan modern mencoba menjelaskan fenomena ini secara medis. Salah satu teori menyebutkan kemungkinan adanya jamur atau bakteri kuno yang terperangkap di dalam makam tertutup selama ribuan tahun.
Spora jamur tertentu diketahui dapat menyebabkan infeksi serius, terutama pada orang dengan kondisi kesehatan lemah.
Lord Carnarvon sendiri memang memiliki riwayat kesehatan yang tidak stabil sebelum kematiannya. Teori ini dianggap lebih masuk akal dibandingkan kutukan gaib. Lingkungan makam yang lembap dan tertutup sangat memungkinkan berkembangnya mikroorganisme berbahaya.
Baca juga: Firaun Tanpa Jantung, Mumi Tutankhamun Disebut Tak Menarik Hadapi Akhirat Mesir Kuno
Fakta yang Sering Terlupakan
Hal yang jarang disebut adalah bahwa sebagian besar anggota tim penggalian hidup panjang umur.
Howard Carter sendiri meninggal pada 1939 di usia 64 tahun akibat penyakit Hodgkin, bukan karena kejadian misterius.
Jika benar terdapat kutukan mematikan, seharusnya seluruh tim terkena dampaknya dalam waktu singkat. Namun kenyataannya, banyak yang tetap hidup bertahun-tahun tanpa gangguan berarti.
Kebetulan atau Amarah Firaun?
Hingga kini, misteri Kutukan Tutankhamun tetap hidup dalam budaya populer. Cerita tentang makam tersegel, kematian mendadak, dan padamnya lampu kota adalah bahan sempurna untuk membangun mitos.
Baca juga: Bukan NAZI, Diduga Terompet Firaun Tutankhamun Jadi Pemicu Perang Dunia II?
Namun di balik kisah dramatis itu, terdapat kemungkinan besar bahwa semua peristiwa tersebut hanyalah kombinasi antara kebetulan, kondisi medis, dan sensasi media.
Apakah itu proteksi magis dari masa Mesir kuno? Atau sekadar reaksi manusia yang selalu mencari makna di balik kematian?
Tidak ada hal yang pasti. Namun, kisah kutukan Tutankhamun membuktikan satu hal, misteri sering kali lebih kuat daripada fakta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: History Today