Rabu, 10 DESEMBER 2025 • 13:35 WIB

Kisah Mistis Penari Jaranan: Berawal Makan Sesajen yang Salah Berakhir dengan Kutukan Mengerikan

Author

Ilustrasi Penari Jaranan. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Sore itu Bayu pulang ke desanya di pelosok Jawa Timur. Setelah bertahun-tahun hidup di kota, ia kembali karena merasa seperti ada sesuatu yang memanggilnya.

Desa kecil itu tetap sama yaitu  aroma tanah basah, sawah menguning, dan tradisi Jawa yang masih kental, terutama kesenian Jaranan yang sejak kecil membuat Bayu jatuh cinta.

Ketika ia ngobrol dengan ibunya, muncul kabar bahwa kelompok Jaranan desa mulai kekurangan generasi muda.

Bayu yang dulu pernah jadi penari pun langsung merasa terpanggil. Malamnya, ia menemui Pak Wiryo, sesepuh desa.

Tanpa banyak basa-basi, Pak Wiryo bertanya, “Masih ingat caramu naik kuda lumping?" Bayu tersenyum. Ia tahu, ia ingin kembali menari.

Yuk simak kisah mistis penari jaranan dilansir dari YouTube @OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!

Baca juga: Kisah Mistis Pager Wetan di Lereng Gunung Semeru: Perjanjian Kelam Sang Kuncen Cari Tumbal

Ritual Penerimaan yang Bikin Merinding

Untuk masuk kembali ke kelompok, Bayu harus melewati ritual penerimaan. Malam itu balai desa diterangi lampu damar dan aroma kemenyan yang kuat.

Di tengah ruangan ada altar kecil dengan sesajen seperti bunga tujuh rupa, kepala ayam, kendi air suci, dan makanan untuk penunggu kesenian.

Mbah Sura, dukun desa, memimpin ritual dengan mantra-mantra berat. Ketika air suci dipercikkan, tubuh Bayu terasa dingin.

Saat menyentuh barongan, ada hawa yang menusuk, seperti disentuh sesuatu yang tak kasat mata. Penari lain mulai kesurupan, menari dengan mata kosong.

Bayu tidak kerasukan, tapi ia merasakan sesuatu yang aneh, seolah ada yang memperhatikannya dari balik gelap. Malam itu Bayu resmi kembali menjadi penari Jaranan.

Kesalahan Fatal Menjelang Pementasan

Beberapa hari kemudian, pementasan besar digelar. Warga memenuhi pendopo, obor dipasang, gamelan berdentang, suasananya meriah tapi tetap sakral. Masalahnya, Bayu kelaparan karena seharian sibuk latihan.

Ia melihat pisang di sesajen. Tanpa pikir panjang, ia memakannya. “Cuma makanan,” pikirnya.

Ia tidak sadar bahwa itu adalah pelanggaran paling besar dalam tradisi Jaranan. Sesajen adalah hak penunggu. Ketika manusia mengambilnya, penunggunya akan menagih.

Tapi saat itu Bayu merasa baik-baik saja. Ia tampil lincah, bahkan lebih hebat dari biasanya. Ia percaya dirinya kuat, tidak terpengaruh mistis apa pun. Ia salah besar.

Baca juga: Kisah Mistis Teluh Sahabat: Misteri Kiriman Mematikan yang Berakhir dengan Terkuaknya Kebenaran

Ilustrasi kuda lumping. (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)

Keanehan yang Semakin Menjadi

Beberapa hari kemudian, hal-hal menyeramkan mulai muncul. Saat latihan, bayangannya di dinding bergerak lebih lambat dari tubuhnya. Pernah bayangannya tersenyum padahal ia tidak.

Di malam hari, ia mendengar suara kuda meringkik tepat di depan rumah. Ibunya pernah menemukan Bayu menari di halaman rumah tengah malam, mata kosong, tubuhnya bergerak terlalu cepat seperti bukan dia.

Suatu malam, Bayu melihat sosok bayangan berbentuk kuda berdiri di pojok kamar. Tubuhnya besar, kepalanya menunduk, napasnya berat, dan dua matanya yang merah hanya menatap satu arah: dirinya.

Sejak itu, Bayu takut melihat cermin. Ia tidak pernah tahu kapan bayangannya akan tersenyum sendiri.

Malam Sanggar yang Mencekam

Pada malam yang berangin kencang, suara gamelan terdengar dari sanggar meski tidak ada satu pun penari di tempat. Warga datang karena penasaran.

Ketika pintu sanggar dibuka, Bayu sedang menari sendiri dalam gelap, kakinya berdarah, tapi gerakannya semakin cepat seperti ada tenaga besar yang mendorongnya.

Pecutnya meledak-ledak, keras sampai udara di ruangan ikut bergetar. Tiga warga mencoba menghentikannya, tapi tubuh mereka terpental seperti ditabrak sesuatu.

Mbah Sura akhirnya memercikkan air suci ke wajah Bayu. Tubuh Bayu berhenti. Mata kosongnya menatap lurus.

Lalu keluar suara itu. “Duwekku… balekno…”

Suara berat, bukan suara manusia. Bukan suara Bayu. Mbah Sura langsung paham bahwa penunggu sesajen itu menagih haknya.

Akhir yang Tidak Bisa Dihindari

Bayu akhirnya sadar setelah ritual panjang. Tubuhnya lemas, wajahnya pucat. Ia menangis ketika Mbah Sura menjelaskan bahwa kesalahan kecil seperti makan sesajen bisa membuka pintu bagi sesuatu dari alam lain.

Untuk menebusnya, Bayu harus menjalani ritual pembersihan besar sebelum matahari terbit di sungai desa. Dengan air kembang, doa kuno, dan sesajen baru, ia memohon maaf kepada penunggu.

Baca juga: Kisah Mistis Kembaran Dari Dunia Lain, Dia Berwujud Bayangan yang Tidak Pernah Lahir

Ilustrasi Penari Jaranan. (Foto: Freepik @Freepik)

Saat ritual selesai, angin besar berhembus dari arah hutan bambu. Obor di tepi sungai padam satu per satu.

Tapi setelah itu, tidak ada lagi suara kuda, tidak ada lagi bayangan terlambat, tidak ada lagi cermin yang menampilkan senyum misterius.

Bayu pulang dengan tubuh lunglai, tapi perasaannya lebih tenang. Ia tetap menari Jaranan, tapi kali ini dengan rasa hormat yang lebih dalam.

Karena ia tahu satu hal yang sekarang tak pernah ia lupakan, yaitu yang tak terlihat bukan untuk diremehkan da sesajen bukan sekadar makanan, tapi itu perjanjian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU