Kisah Santet Tumpes Kelor: Teror Pocong dan Banaspati yang Hantui Satu Keluarga di Pekalongan
INDOZONE.ID - Santet memang selalu bikin merinding, apalagi kalau korbannya satu keluarga. Nama “santet tumpes kelor” muncul di sebuah desa Pekalongan, menghebohkan karena menyerang Pak Suryo, Bu Marsinah, dan anak-anak mereka dengan cara yang mengerikan. Berikut ini kisah lengkap santet keluarga yang bikin bulu kuduk berdiri.
Yuk simak kisah Santet Tumpes Kelor dilansir dari Youtube @HOROR MALAM JUMAT selengkapnya!
Baca juga: Kisah Teror Santet Segoro Pitu: Keluarga Hancur karena Persaingan Dagang di Pasar!
Awal yang Mengejutkan
Kisah ini bermula dari keluarga Suryo dan Marsinah, pengusaha kain sukses yang memiliki anak-anak berprestasi yaitu Atmojo di Jakarta, Karyo di Surabaya, dan Romo yang membantu di Pekalongan.
Nama mereka melambung karena bisnis mereka lancar dan dikenal luas, hingga akhirnya “cemburu” itu berubah bentuk jadi niat jahat.
Pada pagi buta, mereka menerima kiriman kain putih berisi bangkai tikus dan lima paku karat, mewakili satu keluarga lima anggota.
Awalnya terlihat biasa saja, tapi pengiriman ini terus berulang selama 40 hari. Babiannya sudah tipis, Suryo pun memutuskan meminta bantuan Mbah Jungkir, seorang orang pintar setempat.
Makna Peluru Misterius
Menurut Mbah Jungkir, bangkai tikus menandakan kematian sedangkan lima paku mencerminkan lima anggota keluarga. Ini jelas bukan prank biasa. Laba-laba energi negatif sedang diarahkan ke keluarga itu.
Penanganannya? Dengan tanaman daun kelor sebagai penangkal santet, ditanam tepat di depan rumah, dan tidak boleh dipindah.
Serangan Banaspati dan Pocong Berkerumun
Sesaat setelah menanam kelor, Pak Suryo diganggu oleh sosok asing. Malam harinya, terdengar suara ledakan dari luar.
Ketika membuka tirai, terlihat puluhan pocong berdiri melotot dan menggoyangkan kepala sambil energi jahat melingkupi.
Serangan ini berbentuk banaspati, aura sihir menyeramkan yang gagal menembus perlindungan kelor.
Kekacauan Susul Ibu Tertukar Jiwa
Keesokan harinya, datang “pembeli” kain yang mencurigakan. Dia meminta agar kelor dipindahkan, jika tidak, dia batal bayar. Karena curiga, Suryo menolak.
Malam harinya, Romo hendak istikharah. Saat wudhu, muncul kain putih yang berubah jadi merah dan berisi tikus serta paku.
Dia terguncang. Saat itu pula Bu Marsinah datang dari kamar, pucat, menatap tajam, seperti dikendalikan. Suasana jadi mencekam.
Baca juga: 17 Ciri-Ciri Orang yang Terkena Santet dan Cara Mengatasinya
Pertarungan di Rumah Sendiri
Romo panik saat Bu Marsinah menyerangnya. Gerakannya aneh, penuh agresi yang tidak wajar.
Ayahnya berusaha menghentikannya, tetapi Bu Marsinah jatuh tersungkur. Ia pingsan dengan sosok yang bergetar, matanya melotot, napas tersengal. Suara ketukan keras dan teriakan menambah suasana horor di rumah angker itu.
Sang Istri Tersiksa
Keesokan harinya, kondisi Bu Marsinah makin menyeramkan. Demam tinggi, tubuh kurus kering, darah segar mengalir dari mulut, dan perutnya membengkak seperti wanita hamil tua. Suasana makin mencekam.
Kembali ke Ahli
Romo mengajak ayahnya untuk kembali menemui Mbah Jungkir. Sang dukun menyatakan bahwa serangan santet memang tengah diarahkan pada mereka.
Ia minta anak-anak yang berada di luar kota untuk pulang. Namun ketika ditanya siapa pelakunya, ia tidak bisa menjawab. Penanganan lebih lanjut dikatakan hampir tak bisa ditolong lagi.
Serangan Kematian Memuncak
Malam harinya terdengar jeritan pilu lagi dari kamar sang istri. Kemudian terungkap fakta paling mengerikan yaitu perut Bu Marsinah membusuk, membengkak luar biasa.
Ajaib, menyeramkan, dan nyaris tak dipercaya. Santet tumpes kelor benar-benar mengubah rumah bahagia menjadi neraka kecil.
Baca juga: 15 Ciri Rumah yang Terkena Santet dan Cara Menangkalnya
Kisah Santet Tumpes Kelor ini menyadarkan kita bahwa di balik kesuksesan kadang muncul niat iri dan dendam yang berujung tindakan ekstrem.
Tanaman kelor digunakan sebagai pelindung, tapi jejak santet sudah masuk. Ada doa, ketekunan, dan kepercayaan spiritual, namun qadar dan sihir masih bisa merusak.
Santet tumpes kelor mengajak kita untuk lebih waspada, menjaga hati dari rasa iri dan dendam.
Doa, perbanyak dzikir, dan persatuan keluarga jadi benteng paling utama. Semoga keluarga Suryo bisa sembuh dan tetap kuat menghadapi cobaan.
Semoga juga kisah ini jadi pengingat bahwa hidup kita harus dijaga sepenuh hati—dari segala bahaya yang tidak terlihat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube