INDOZONE.ID – Ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) ditemukan di perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara.
Tim peneliti berhasil mendokumentasikan 18 individu, termasuk 11 ekor yang hidup dalam satu gua bawah laut.
Temuan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu habitat utama spesies laut yang telah bertahan sekitar 400 juta tahun.
Coelacanth merupakan salah satu ikan purba paling langka di dunia.
Spesies ini sering dijuluki sebagai "fosil hidup" karena bentuk tubuhnya hampir tidak berubah selama ratusan juta tahun.
Temuan terbaru dipaparkan oleh Prof. Alex Masengi dari Universitas Sam Ratulangi bersama Prof. Augy Syahailatua, Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, dalam Simposium Marine Futures Unlocked 2: From Insight to Impact di Jakarta.
Menurut Alex, penelitian Coelacanth di Indonesia telah berlangsung sejak 2004. Selama lebih dari dua dekade, tim peneliti telah mengidentifikasi 52 individu Coelacanth di perairan Indonesia dan empat individu lainnya di Afrika Selatan melalui kolaborasi internasional.
"Selama 20 tahun penelitian, kami terus berupaya memahami kehidupan Coelacanth di habitat alaminya. Temuan-temuan terbaru menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam upaya konservasi spesies ini," ujar Alex dikutip dari laman BRIN.
Baca juga: Paus Pembunuh Tunjukkan Teknik Langka Hancurin Ikan Pari Seberat 2 Ton
Ditemukan 11 Ekor dalam Satu Gua
Salah satu hasil paling menarik berasal dari ekspedisi bersama BRIN, OceanX, dan NHK di Pulau Talise.
Lokasi yang pernah diteliti pada 2009 itu sebelumnya hanya mencatat empat individu Coelacanth.
Kini, jumlah yang ditemukan meningkat menjadi 18 individu, dengan 11 ekor berada di dalam satu gua bawah laut.
Peneliti juga menemukan seekor Coelacanth muda berukuran sekitar 26 sentimeter di Teluk Amurang.
Temuan ini memberi petunjuk baru mengenai proses reproduksi spesies yang selama ini masih menjadi misteri.
Selain penyelaman langsung, tim memanfaatkan teknologi environmental DNA (eDNA). Metode ini memungkinkan ilmuwan mendeteksi keberadaan spesies melalui jejak materi genetik yang tertinggal di air laut.
Pemindaian CT Scan terhadap salah satu spesimen juga mengungkap adanya 22 butir telur di dalam tubuh ikan tersebut.
"Keberhasilan menemukan 11 individu Coelacanth dalam satu gua dan hasil CT Scan yang menunjukkan adanya 22 telur merupakan pencapaian yang sangat berharga untuk memahami biologi dan reproduksi spesies ini," jelas Alex.
Pulau Talise Diusulkan Jadi Kawasan Konservasi
Penelitian juga menunjukkan habitat Coelacanth di Indonesia membentang dari Biak, Papua, hingga Buol, Sulawesi Tengah. Fakta ini menegaskan bahwa perairan Indonesia memiliki peran penting bagi kelangsungan hidup spesies tersebut.
Prof. Augy Syahailatua mengatakan Pulau Talise kini sedang dipersiapkan menjadi kawasan konservasi khusus.
"Konservasi Coelacanth tidak hanya bertujuan melindungi spesies langka, tetapi juga mendukung pengembangan riset ilmiah, pendidikan, dan ekowisata berbasis konservasi. Keberadaan Coelacanth memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat penelitian biodiversitas laut dunia," ujar Augy.
Pada Juli 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, telah menyerahkan dokumen kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai langkah awal penetapan kawasan konservasi di Pulau Talise.
Jika proses tersebut rampung, kawasan habitat Coelacanth juga akan diusulkan menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Langkah ini dinilai penting karena Pulau Talise berada di kawasan Coral Triangle, salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BRIN