Raden Ajeng Kartini kita kenal sebagai pahlawan kemerdekaan Indonesia. Perayananya selalu ditunnggu setiap tanggal 21 April dalam perayaan Hari Kartini, hari dimana kita diajak untuk mengenang jasa perjuangan yang memperjuangkan hak asasi perempuan.
Dikutip dari Wikipedia, Hari Kartini ditetapkan oleh Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Penetapan tersebut juga dibarengi dengan penetapan hari lahir Kartini sebagai hari besar.
Kisah RA Kartini juga menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya bagi kaum wanita. Namun, sosoknya masih diliputi sejumlah kontroversi, termasuk yang mempertanyakan mengapa dirinya dijadikan pahlawan, pro poligami, hingga misteri kematiannya yang disebut penuh konspirasi, hingga keterkaitannya dengan Freemason.
Mengenal sosok Kartini
Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.
Baca Juga: Dari Jenderal Soedirman hingga Kartini, Ini 5 Film Pahlawan Pilihan di Hari Pahlawan
Suka menulis, suka membaca
Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Di sini Kartini belajar bahasa Belanda. Namun, setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena harus dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft. Ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie.
Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat.
Memperhatikan emansipasi wanita
Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali.
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.
Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup.
Meragukan surat-surat Kartini
surat-surat Kartini yang ditulisnya untuk teman-temannya di Negeri Belanda dan berisi pemikiran-pemikirannya tentang pendidikan wanita dikumpulkan oleh Mr. J. H. Abendanon. lalu diterbitkan pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Namun, adda kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat itu ditulis oleh Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini.
Kecurigaan ini timbul karena memang buku Ajeng Kartini atau RA Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis.
Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya.
Penetapan Kartini sebagai pahlawan dari dijadikan hari besar diperdepatkan.
Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.
Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika dan lain-lain.
Menurut mereka, wilayah perjuangan Ajeng Kartini atau RA Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah.
Kartini dituding pelakor dan pro poligami
Salah satu kontroversi yang ada adalah ketika ia menikahi bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Karena itulah, ia dituding sebagai perebut suami orang lain atau yang kini disbeut pelakor dan juga pro terhadap poligami.
Tentunya hal itu bertentangan dengan apa yang ia perjuangkan. Namun apakah benar seperti itu kenyataannya?
Mengutip beberapa sumber, Raden Ajeng Kartini merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara. Ibunda Kartini bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara, yang bukan seorang bangsawan.
Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura.
Saat beranjak dewasa, Kartini menikahi bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri.
Hal inilah yang membuat banyak celaan tentang dirinya. Salah satunya muncul meme di media sosial yang mengatakan bila Kartini merupakan teladan poligami. Selain memiliki orang tua yang menjalani praktek poligami, ia juga menikahi pria yang sudah beristri.
Faktanya, Kartini dijodohkan, suaminya duda, dan menentang pelakor
Mengutip berbagai sumber, Kartini ternyata dijodohkan oleh orang tuanya untuk menikahi sang pejabat.
Tak hanya itu, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat disebut adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya, seperti yang dikutip dari historia.id.
Kartini pun anti dengan pelakor lantaran saat ia sudah menjadi istri, sang bupati ketahuan memliharan dua gundik. Sejak saat itu, Kartini menolah untuk tidur bersama suaminya lagi sebagai bentuk perlawanan.
Kontroversi kematian Kartini, benarkah diracun?
Kematian Kartini beberapa hari usai dirinya melahirkan sangat mengejutkan. Kematian yang mendadak juga menimbulkan spekulasi negatif bagi sebagian kalangan, termasuk dugaan kemungkinan dibunuh.
Benarkah ia diracun sehingga ajal menjemput?
Seperti diketahui dalam sejarah, Raden Ajeng Kartini meninggal pasca melahirkan, tepatnya empat hari setelah melahirkan. Padahal waktu ia mengandung bahkan sampai melahirkan, Kartini tampak sehat walafiat.
Apalagi dalam kesaksian sang suami, sekitar 30 menit sebelum ajalnya, Kartini berada dalam kondisi sehat. Tiba-tiba, keadaannya memburuk. Perutnya berkontraksi hebat hingga membuatnya menutup mata untuk selamanya.
Setelah minum anggur bersama dokter yang menolongnya melahirkan.
Ketika Kartini melahirkan, dokter yang menolongnya adalah Dr van Ravesten, dan berhasil dengan selamat. Ketika Ravesten akan pulang, Kartini dan Ravesten menyempatkan minum anggur sebagai tanda perpisahan.
Setelah minum anggur itulah, Kartini langsung sakit dan hilang kesadaran, hingga akhirnya meninggal dunia. Sayang, saat itu tak ada autopsi.
Meski demikian, pihak keluarga tidak mempedulikan desas-desus yang muncul terkait kematian Kartini, melainkan menerima peristiwa itu sebagai takdir Yang Mahakuasa.
Kartini sengaja dibungkam.
Efatino Febriana, dalam bukunya “Kartini Mati Dibunuh”, mencoba menggali fakta-fakta yang ada sekitar kematian Kartini. Bahkan, dalam akhir bukunya, Efatino Febriana berkesimpulan, kalau kartini memang mati karena sudah direncanakan.
Demikian pula Sitisoemandari dalam buku “Kartini, Sebuah Biografi”, menduga bahwa Kartini meninggal akibat permainan jahat. Ada yang ingin membungkam Kartini lantaran pemikiran-pemikiran majunya yang ternyata berwawasan kebangsaan.
Baca Juga: Fakta Kartini, Tokoh Emansipasi yang Diragukan Gelar Kepahlawanannya
Dikaitkan dengan Freemason.
Dalam buku "Kartini Mati Dibunuh', kematian Kartini berkaitan dengan organisasi Freemason-organisasi Yahudi.
Fakta-fakta dalam buku ini juga membongkar sepak terjang Freemason untuk mempengaruhi Kartini. Orang-orang Yang hebat mendapat tugas “menempel” Kartini yang membuatnya akhirnya dibungkam.
Pendapat dokter era modern preeklampsia.
Sementara pendapat yang berbeda yang dinyatakan oleh para dokter modern di era sekarang. Para dokter berpendapat Kartini meninggal karena mengalami preeklampsia atau tekanan darah tinggi pada ibu hamil.
Namun hal ini juga tidak bisa dibuktikan karena dokumen dan catatan tentang kematian Kartini tidak ditemukan.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: