Kamis, 01 DESEMBER 2022 • 15:00 WIB

3 Fakta Aneh Hak Ayah di Zaman Romawi, Boleh Menjual Anak Jadi Budak hingga Bunuh Keluarga

Author

Ilustrasi Pasar Budak (1882) oleh Gustave Boulanger (Public domain)

Bukan rahasia lagi kalau jejak budaya, agama hingga hukum Romawi kuno masih membekas dan dipakai sampai hari ini. Namun ini tidak berarti bahwa semua yang dilakukan orang Romawi masuk akal. 

Sebab ada beberapa fakta aneh yang mengejutkan tentang kehidupan orang-orang Romawi kuno. Salah satunya soal hak-hak ayah yang begitu dibebaskan.

Hak Ayah di Zaman Romawi

Ilustrasi ayah bunuh anak (Christianitytoday)

Berikut tiga hak ayah di zaman Romawi yang untungnya tidak lagi terjadi atau berlaku di zaman modern saat ini.

1. Boleh Jual Anak Jadi Budak

Dikutip dari Ancient Origins, para ayah di zaman Romawi dapat menjual (atau lebih tepatnya menyewakan) anak laki-laki mereka sebagai budak.

Hal ini sesuai kesepakatan mengenai harga dan durasi perbudakan dengan calon pembeli. Ketika waktunya habis, pembeli diharapkan membawa putranya kembali dalam kondisi yang kira-kira sama dengan saat dia menerimanya.

Selain itu ada juga aturan kalau ayah hanya boleh menjual putranya selama tiga kali. Kalau lebih berarti dia dianggap tidak layak menjadi orang tua.

Dan setiap anak laki-laki yang dijual oleh ayahnya tiga kali dibebaskan secara hukum dari orang tuanya yang serakah.

Baca juga: Kumuhnya Apartemen di Zaman Romawi Kuno, Penghuni Berbagi Kamar dengan Hewan

"Aturan 3 penjualan" ini berlaku untuk setiap anak. Itu berarti bahwa jika seorang ayah ingin terus menghasilkan uang dari anak-anaknya, yang perlu dia lakukan hanyalah terus menghasilkan lebih banyak anak. 

Sehingga pepatan "banyak anak banyak rezeki" mungkin juga diyakini oleh para ayah Romawi.

2. Secara Hukum Diizinkan Membunuh Keluarga

Di Romawi awal, seorang ayah dapat menganggap anggota keluarganya sebagai aset miliknya. Dia bisa melakukan apa yang dia inginkan dengan mereka, yang menjelaskan mengapa dia bisa menjual putranya sebagai budak.

Terserah sang ayah untuk memilih bagaimana dia menghukum anak-anaknya. Jika dia merasa bahwa anak-anaknya pantas mati, maka dia dapat membunuh anak-anaknya tanpa akibat hukum. 

Bahkan ketika meninggalkan rumah tidak berarti anak-anaknya aman. Setelah dinikahkan dan meninggalkan rumah, seorang anak perempuan masih bisa dibunuh oleh ayahnya. 

Baca juga: Anehnya Candaan Jenderal dan Kaisar Zaman Romawi Kuno: Nyeleneh dan Penuh Kekerasaan

Anak laki-laki juga tidak pernah aman. Mereka baru benar-benar mandiri setelah dijual tiga kali (tidak terlalu ideal) atau setelah ayah mereka meninggal.

3. Hukuman Sadis Bila Bunuh Ayah

Bentuk eksekusi terburuk disimpan bagi mereka yang melakukan kejahatan pamungkas, yakni pembunuhan terhadap ayahnya. Siapa pun yang dinyatakan bersalah atas pembunuhan terhadap ayah mereka pertama-tama ditutup matanya karena fakta bahwa mereka dianggap tidak lagi layak berada dalam terang.

Mereka kemudian digiring ke luar kota dan langsung ke perairan besar terdekat. Sesampai di sana mereka dipukuli dengan tongkat sampai satu inci dari hidup mereka.

Mereka kemudian diikat dan dilemparkan ke dalam karung kulit yang besar (tetapi tidak terlalu besar) bersama dengan seekor ular, anjing, kera, dan ayam jantan.

Karung itu kemudian dibuang ke air di mana mereka tenggelam atau terbunuh oleh hewan-hewan yang meronta-ronta.

 

 

Artikel Menarik Lainnya:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU