Minggu, 19 APRIL 2026 • 13:30 WIB

Misteri 12 Shio China: Dari Perlombaan Legenda dan Ramalan Nasib yang Masih Dipercaya

Author

Ilustrasi 12 Shio (Freepik)

INDOZONE.ID - Sistem astrologi Tiongkok atau zodiak China adalah salah satu tradisi budaya tertua yang masih bertahan dan digunakan hingga hari ini. Uniknya, sistem ini membagi waktu dalam siklus 12 tahun, di mana setiap tahun diwakili oleh satu hewan tertentu yang dipercaya membawa karakter dan energi berbeda bagi orang yang lahir di tahun tersebut.

Berbeda dengan zodiak Barat yang berdasarkan pergerakan bulan dan rasi bintang setiap bulan, sistem shio ini berbasis kalender lunar Tiongkok. Artinya, pergantian shio terjadi setiap Tahun Baru Imlek, biasanya antara tanggal 21 Januari hingga 20 Februari dalam kalender Masehi.

Asal-Usul Shio: Antara Sejarah dan Tradisi Kuno

Sejarah pasti tentang awal kemunculan shio memang tidak sepenuhnya jelas. Beberapa catatan menyebutkan bahwa sistem ini sudah mulai dikenal sejak masa Warring States (475–221 SM), sementara sumber lain memperkirakan berkembang pada masa Dinasti Qin hingga Dinasti Han.

Dalam bahasa Tiongkok, sistem ini dikenal sebagai Sheng Xiao, yang berarti berkaitan dengan “tahun kelahiran” dan simbol hewan. Sistem ini kemudian menjadi bagian penting dari cara masyarakat Tiongkok kuno memahami waktu, siklus alam, hingga nasib manusia.

Seiring berkembangnya budaya dan filosofi Tiongkok, shio tidak hanya dianggap sebagai penanda tahun, tetapi juga sebagai sistem yang berkaitan dengan kepribadian, keberuntungan, hingga perjalanan hidup seseorang.

Baca juga: Ramalan 6 Shio yang Diprediksi Banyak Uang di Tahun 2026, Apa Saja?

Legenda 12 Hewan: Perlombaan Menuju Kalender Shio

Asal mula urutan 12 hewan dalam shio sering dikaitkan dengan sebuah legenda terkenal.

Dikisahkan bahwa Jade Emperor mengadakan sebuah perlombaan besar untuk menentukan hewan mana saja yang akan masuk ke dalam sistem penanggalan. Dalam versi lain, perlombaan ini juga disebut diadakan oleh Buddha.

Semua hewan diundang untuk mengikuti lomba, dan hanya 12 hewan pertama yang berhasil mencapai garis akhir yang akan dipilih. Tantangan terbesar dalam lomba ini adalah menyeberangi sungai besar dengan arus deras.

Urutan 12 Shio dan Ceritanya

Hasil akhir lomba tersebut membentuk urutan shio yang dikenal sampai sekarang:

  1. Tikus
  2. Kerbau
  3. Harimau
  4. Kelinci
  5. Naga
  6. Ular
  7. Kuda
  8. Kambing
  9. Monyet
  10. Ayam
  11. Anjing
  12. Babi

Menariknya, setiap hewan memiliki cerita unik. Tikus digambarkan cerdik karena menumpang di tubuh kerbau lalu melompat lebih dulu di garis akhir. Kerbau dikenal sabar dan kuat, tetapi harus rela dikalahkan oleh kecerdikan tikus.

Sementara itu, naga yang sebenarnya bisa menang dengan mudah justru dikisahkan berhenti untuk membantu manusia dari bencana. Hal ini membuatnya tiba di posisi kelima.

Ada juga cerita tambahan tentang kucing yang tidak masuk dalam daftar shio karena tertinggal dalam lomba, yang kemudian menjadi alasan mengapa kucing dan tikus dalam cerita rakyat sering digambarkan sebagai musuh.

Dalam kepercayaan tradisional, setiap hewan shio dipercaya mewakili karakter tertentu. Misalnya, ada yang dianggap pemberani, cerdas, pekerja keras, hingga penuh strategi.

Shio sering digunakan untuk membaca kecocokan seseorang dalam hubungan, pekerjaan yang cocok, hingga prediksi keberuntungan secara umum. Dalam budaya Tiongkok kuno, sistem ini bahkan pernah digunakan untuk membaca hasil panen, kondisi sosial, hingga arah kebijakan politik.

Meskipun tidak memiliki dasar ilmiah modern, banyak masyarakat masih menganggapnya sebagai bagian dari tradisi budaya dan filosofi hidup.

Sistem Lima Elemen yang Menambah Kompleksitas Shio

Selain 12 hewan, terdapat juga konsep penting dalam budaya Tiongkok, yaitu sistem lima elemen atau Wuxing, yang terdiri dari:

  1. Kayu
  2. Api
  3. Tanah
  4. Logam
  5. Air

Kelima elemen ini dipercaya membentuk keseimbangan alam semesta dan memengaruhi perubahan energi dalam kehidupan manusia.

Ketika digabungkan dengan 12 shio, hasilnya menjadi kombinasi yang lebih spesifik, seperti “Naga Api”, “Kelinci Kayu”, atau “Monyet Logam”. Kombinasi ini digunakan untuk memberikan interpretasi yang lebih detail dalam astrologi Tiongkok.

Ben Ming Nian: Tahun Kelahiran yang Dianggap Rawan

Shio dalam kebudayaan China (Chinahighlight)

Dalam kepercayaan tradisional, ada satu fase yang dianggap cukup penting dan bahkan sedikit menegangkan, yaitu ketika seseorang kembali ke shio kelahirannya setiap 12 tahun sekali. Masa ini disebut ben ming nian.

Pada periode ini, seseorang dipercaya lebih rentan terhadap tantangan atau ketidakberuntungan. Karena itu, banyak orang melakukan berbagai cara untuk “menangkal sial”, seperti:

  • Mengenakan pakaian atau aksesori berwarna merah
  • Menggunakan jimat keberuntungan
  • Berdoa atau melakukan ritual tertentu

Selain itu, ada juga konsep Tai Sui, yaitu dewa penjaga tahun dalam siklus 60 tahun. Orang yang “bertabrakan” dengan Tai Sui dipercaya perlu berhati-hati karena dianggap sedang berada dalam masa energi yang kurang stabil.

Baca juga: Nasib Baik Menanti! Ini 5 Shio Paling Beruntung 24 Januari 2026

Pengaruh Shio di Berbagai Negara Asia

Menariknya, sistem shio tidak hanya berkembang di Tiongkok. Banyak negara Asia lain yang juga mengadopsinya dengan beberapa penyesuaian:

  • Di Jepang, babi diganti dengan babi hutan
  • Di Vietnam, kelinci diganti dengan kucing
  • Di Thailand, beberapa versi mengganti naga dengan makhluk mitologi serupa naga
  • Di Korea, sistemnya hampir sama dengan Tiongkok

Perbedaan ini menunjukkan bagaimana budaya lokal ikut membentuk variasi dari satu tradisi yang sama.

Zodiak China bukan hanya sekadar sistem penanggalan kuno, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang kaya akan cerita, filosofi, dan kepercayaan.

Dari legenda perlombaan 12 hewan, konsep lima elemen, hingga kepercayaan tentang tahun keberuntungan dan tantangan, shio tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Asia hingga sekarang.

Meskipun tidak semua orang mempercayainya secara harfiah, shio tetap hidup sebagai simbol budaya yang unik, menghubungkan masa lalu, tradisi, dan cara pandang manusia terhadap kehidupan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Britannica.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU